Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 67. Manusia Jadi-jadian


__ADS_3

Pulang dari mansion keluarga Tan, Dominic langsung membawa mobilnya ke hotel. Begitu tiba ia meminta Lucas untuk memesan banyak sekali makanan, seperti orang kelaparan Dominic makan dengan sangat lahap, hingga tak peduli keadaan sekitar.


Lucas yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri sambil menggerak-gerakkan mulut seperti tengah mengunyah sesuatu.


"Tuan, apakah selama di rumah sakit anda tidak makan?" tanya Lucas memberanikan diri saat Dominic menandaskan satu gelas air dingin yang ada di meja.


Mendengar itu tatapan nyalang langsung melayang ke arah Lucas, nafas Dominic terasa memburu karena masih merasa gemas terhadap sikap Aneeq yang begitu semena-mena terhadapnya.


Sekarang masih hari kedua, ada lima hari lagi yang harus dia lalui, dan ia yakin semua itu tidak mudah.


"Diamlah, pertanyaanmu mengganggu nafsu makanku!" cetus Dominic dengan wajah masam, sekarang Lucas menjadi pelampiasan dari rasa kesalnya.


Lucas sedikit mengeryitkan dahi, karena tak tahu apa yang membuat sang tuan berubah emosi seperti itu.


"Maafkan saya, Tuan, apakah—"


"Shhh, berhenti mengajakku bicara, Lu! Kau ini tidak lihat aku sedang apa?" tukas Dominic dengan tangan yang memegang sendok kuat-kuat. Jangan sampai piring yang ada di atas meja melayang karena Lucas yang tak memahami situasinya.


Lagi, Lucas menelan ludahnya dengan kasar, tak ingin berdebat dengan Dominic dia pun memilih untuk keluar dari ruangan. Lagi pula udara di sekitarnya saja sudah terasa sangat pengap.


"Kalau begitu saya izin untuk keluar, Tuan, saya ingin cari udara segar," ujar Lucas dan Dominic hanya terdiam sambil mengunyah dengan kasar.


Dari gelagat tersebut, artinya situasi sudah menuju siaga satu, sebelum amarah Dominic meledak Lucas pun segera berlari ke arah pintu dan meninggalkan pria tampan itu sendiri.


Begitu Lucas sudah tidak ada, Dominic langsung berteriak dengan kencang, melepas beban di dadanya yang semakin hari semakin menggunung.


"Arghh!!" teriak Dominic sekencang mungkin, hingga suaranya menembus dinding dan sampai ke telinga Lucas.


"Hufft, untung saja aku sudah di luar, kalau tidak mungkin aku sudah dimakan," gumamnya sambil mengelus-elus dada.


*


*


*


Menjelang waktu makan siang di Tan Group. Nampak kesibukan di tiap lantai gedung tersebut, sebuah rutinitas yang tak pernah berubah kecuali hari libur. Tak berbeda jauh dari ruangan pimpinan yang kini masih ditempati oleh Aneeq.


Saat ia melihat jam di pergelangan tangannya, 10 menit lagi sudah masuk waktu makan siang, dan dia ingin mengajak Caka-sang asisten, untuk mengisi perut mereka di sebuah restoran.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba telepon kantor berbunyi, tanpa membuang waktu Aneeq langsung menerimanya.


"Halo," ucap Aneeq dengan suaranya yang khas.


"Halo, Tuan, dari meja resepsionis saya ingin memberitahu kalau ada Kiriman makanan dari Nyonya Sarah untuk anda," ucap sang resepsionis di ujung sana, membuat mulut Aneeq menganga.


"Makanan lagi? Berapa banyak?" tanya Aneeq, jangan sampai seperti kemarin, karena hal tersebut malah mengganggu ketertiban perusahaannya.


"Tidak banyak kok, Tuan, tapi—"


"Tapi apa?"


"Ini ada beberapa—ah bagaimana saya menyebutnya ya." Resepsionis tersebut tampak berpikir, karena tiga orang yang ada di hadapanya adalah manusia jadi-jadian, alias pria gemulai dari salon kecantikan.


"Apa, cepat katakan aku tidak memiliki waktu banyak."


"Eum ada tiga orang pria yang mencari anda, Tuan, apakah mereka boleh naik ke ruangan anda?" ujar sang resepsionis dengan suara yang terdengar pelan.


Aneeq mengernyitkan dahinya, tiga pria? Dia tidak merasa memiliki klien maupun tamu penting. Lalu siapa mereka?


"Ada kepentingan apa mereka?"


"WHAT?" Aneeq langsung terkejut sekaligus penasaran. Dia terdiam sesaat, tetapi tak kunjung mendapat jawaban, sehingga dia memutuskan untuk menerima tamu tersebut. "Baiklah, suruh mereka naik dan bawa makanan itu ke ruanganku."


"Ba–baik, Tuan."


Sambungan telepon itu terputus, kemudian Aneeq kembali berfikir, membuat Caka yang sedari tadi memperhatikannya jadi ikut merasa heran.


"Ada apa, An?" tanya pria itu dengan satu alis yang terangkat.


"Ada tiga orang pria mencariku, tapi tujuan mereka tak begitu jelas. Aku ingin lihat siapa mereka," jawab Aneeq apa adanya. Hingga tak berapa lama kemudian, pintu ruangannya diketuk, dan Aneeq langsung menyuruh seseorang di luar sana untuk masuk.


"Masuk!"


Pintu ruangan terbuka, Aneeq yang saat itu tengah berdiri menghadap ke jendela sontak membalik badan dan langsung terkejut mendapati tiga pria gemulai dengan riasan tipis-tipis di wajahnya.


"Siapa kalian?" tanya Aneeq dengan bahu yang beringsut geli, begitu pun juga Caka yang menyingsingkan giginya begitu melihat tiga manusia jadi-jadian ada di hadapannya.


Namun, bukannya menjawab tiga pria gemulai itu justru menatap Aneeq dan Caka dengan wajah yang sumringah, seperti menemukan mangsa yang begitu menggiurkan.

__ADS_1


"Hai, Tuan-tuan tampan," sapa mereka dengan kompak, diiringi tangan yang melambai dan suara khas kewanita-wanitaan.


Aneeq mendelik dan langsung melayangkan tatapan ke arah satu resepsionis yang membawa makanan dari Sarah. "Hei, katakan siapa mereka?!" Cetus Aneeq sambil menunjuk ketiga pria gemulai yang sedang tebar pesona, karena mereka terpikat oleh ketampanan Aneeq dan Caka.


Sang resepsionis tergagap, dia membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Aneeq tapi salah satu dari ketiga pria gemulai itu justru lebih dulu buka suara.


"Kami ditugaskan oleh Nyonya Sarah untuk memuaskan anda, Tuan," ucapnya yang membuat Aneeq merinding sendiri, sumpah demi apapun ini menggelikan.


"Memuaskan apa maksudmu?" sentak Aneeq.


"Selagih anda makan siang, kami akan memberikan beberapah layanan termasuk pijat plus-plus, karenah katah Nyonya Sarah andah tidak suka dekat-dekat dengan wanitah selain istri andah, jadi Nyonya mengutus kami ke sini," timpal yang lain menjelaskan dengan suara yang mendesaah-desah lengkap dengan kerlingan mata menggoda yang membuat Aneeq meneguk ludahnya susah payah.


Dia benar-benar tak habis pikir dengan rencana Sarah untuk meluluhkan hatinya.


Sialan! Dia pikir aku ini apa?


"Tuan," panggil seorang pria gemulai seraya mendekat ke arah Aneeq, tetapi dengan cepat Aneeq membuat perlindungan diri dengan mengacungkan senjata api yang selalu dia simpan di bagian dalam jasnya.


"Jangan berani mendekat, atau ku tembak kepalamu!" sentak Aneeq sambil mundur.


"Wow!"


Semua pria gemulai itu sontak terkejut dan reflek mundur. Tak berbeda jauh dengan sang resepsionis yang sedari tadi menonton keributan ini, dia menganga karena melihat Aneeq mengacungkan senjata.


"Tuan, kamih tidak—"


"Berhenti bicara dengan nada seperti itu, sakit telingaku mendengarnya. Lebih baik sekarang kalian keluar, atau aku benar-benar akan menembak kalian satu persatu!" ancam Aneeq dengan tatapan tak main-main, membuat ketiganya mengerucutkan bibir. Nyali mereka seketika menciut.


Namun, mereka seolah masih memiliki harapan saat melihat Caka yang tak memberi reaksi berlebihan seperti Aneeq.


"Tuan," rengek salah satu dari mereka. Berbeda dengan Aneeq yang begitu to the point, Caka justru memberikan sebuah penawaran.


"Saya punya tiga bom di laci, satu bom bisa menghancurkan gedung ini, kalian mau coba di rumah?"


Glek!


Mereka menelan ludah masing-masing dengan susah payah.


***

__ADS_1


Satu bab tapi ku buat agak panjang ya gaes, jangan lupa vote🤸‍♀️


__ADS_2