
"Apa?" tanya Saga dengan kening yang berkerut. Saat itu juga Amanda tersadar kalau dia sudah keceplosan. Amanda mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sementara Saga senantiasa menunggu jawaban gadis itu.
"Apakah—" Saga kembali buka suara, tetapi segera dipotong oleh Amanda.
"Eum, maksudku—"
Drt ... drt ... drt ...
Belum sempat Amanda melanjutkan ucapannya, ponsel gadis itu tiba-tiba bergetar. Menunjukkan nomor yang tidak dikenal.
Namun, dari foto profilnya saja dia sudah bisa menebak, siapa seseorang yang ada di ujung sana.
Cih, untuk apa dia menelponku? Batin Amanda karena untuk pertama kalinya Dominic menghubungi gadis itu.
Amanda ingin mengabaikan telepon tersebut, tetapi demi menghancurkan kecanggungan antara dia dan Saga. Akhirnya ia memilih untuk bangkit dan menyingkir dari hadapan Saga.
"Kak, aku angkat telepon sebentar ya," ujar Amanda cepat, ada rasa syukur juga sebenarnya karena Dominic menelpon di waktu yang tepat. Saga hanya mengangguk sekilas, sementara Amanda melenggang ke arah dapur.
Tanpa menunggu lama dia mengusap layar pintarnya untuk menerima panggilan Dominic. "Halo." Sapanya lebih dulu, tetapi pria yang ada di ujung sana justru bergeming. Padahal sedari tadi dia sudah gamang antara ingin menghubungi Amanda atau tidak.
"Halo? Ada apa menghubungiku?" tanya Amanda to the point. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban yang ia dapat, membuat Amanda menghela nafas kasar. Dia yakin Dominic hanya sedang menguji kesabarannya.
Dengan perasaan kesal, gadis itu kembali buka suara, tetapi kalimatnya tertahan di ujung mulut begitu Dominic berkata. "Maaf, salah sambung."
__ADS_1
Panggilan langsung terputus secara sepihak, membuat Amanda mendelikkan matanya. Dia menatap ponsel dengan nanar, tak percaya dengan kelakuan Dominic yang selalu di luar nalar.
"Kenapa bisa aku bertemu dengan pria aneh seperti dia. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menelpon hanya untuk bilang salah sambung. Sudah gila ya," gerutu Amanda seraya berjalan untuk kembali ke tempat semula.
Saga yang melihat perubahan sikap Amanda, sontak saja menjadi penasaran. "Siapa? Kenapa wajahmu jadi terlihat kesal?"
Mendengar suara Saga, Amanda mendadak kembali gugup. Namun, demi menutupi perasaan yang sebenarnya, gadis itu berusaha tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Bukan siapa-siapa, hanya orang salah sambung."
"Benarkah?" Seolah tak percaya Saga kembali melayangkan pertanyaan agar Amanda berkata dengan jujur. Akan tetapi gadis itu justru memilih untuk menganggukkan kepala.
"Eum, aku sedikit bosan, Kak, aku izin keluar untuk mencari udara segar ya," ujar Amanda mulai beralasan, entahlah rasanya suasana canggung itu masih membelenggu dirinya.
"Hanya sebentar, aku janji akan segera kembali dalam beberapa menit."
Saga tak menjawab, dia justru mematikan tv dan mengambil jaket dari dalam kamarnya. Tanpa diduga pria itu memasangkan kain tebal itu di tubuh Amanda. "Aku akan menemanimu, tapi ingat, hanya sebentar."
Mendapat semua perhatian itu Amanda tentu tak dapat menyembunyikan lengkungan di bibirnya. Apalagi saat Saga menggandeng tangannya untuk keluar dari apartemen. Rasanya sungguh seperti ada ribuan bunga bermekaran, hingga ia kembali jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada orang yang sama.
Kedua orang berbeda jenis kelamin itu menyusuri trotoar di pinggir jalan. Menikmati suasana malam ibu kota yang tak pernah sepi dari kendaraan. Dapat dilihat Saga senantiasa melindungi Amanda dan menjaga gadis itu dari apapun yang membahayakannya.
"Kakak tahu? Di dunia yang seluas ini aku hanya memiliki mimpi yang sangat sederhana," ujar Amanda mengajak Saga untuk mengobrol. Karena kedekatan mereka rasa canggung itu hancur begitu saja.
"Apa itu?"
__ADS_1
Sebelum menjawab Amanda lebih dulu mengulum senyum tipis sambil menatap Saga dengan binar matanya yang teduh.
"Aku ingin memiliki seseorang yang bersyukur memilikiku. Karena dengan begitu, dia tidak akan pernah peduli dengan perubahan yang terjadi pada diriku. Rasa syukur itu membuatnya acuh tak acuh ketika fisikku tak lagi sama, rasa syukur itu akan selalu membuat dia menggenggam tanganku dengan erat saat hubungan kita diterjang banyak masalah, dan karena rasa syukur itu juga, aku yakin dia akan terus mencintaiku tak peduli sudah berapa banyak usia kita. Bahkan lebih dari selamanya, dia akan tetap menunjukkan senyum manis sambil berkata, Amanda, Cintaku, Sayangku," papar gadis itu sambil membayangkan masa depannya dengan Saga.
Namun, pria yang ada di sebelahnya tidak mungkin bisa tahu isi pikiran Amanda.
"Lalu apa maksudmu menginginkan pria sepertiku?" tanya Saga, membuat Amanda menghentikan langkahnya. Dia kembali menoleh ke samping hingga mereka saling bersitatap.
"Itu harapanku, aku ingin pria seperti Kak Saga, pekerja keras, mandiri, jujur, dan apa adanya. Sama seperti Daddy, bagiku dia adalah pria paling hebat setelah Grandpa. Di mataku dia benar-benar sempurna, maka dari itu aku menjadikannya sebuah patokan untuk mencari pasangan hidup," jawab Amanda yang membuat Saga merasa tersanjung.
Seperti sebelumnya pria itu mengusak puncak kepala Amanda. Entahlah rasanya dia suka saat melakukan itu semua. "Umurmu masih kecil, tapi pikirannya sudah dewasa."
Tak tahukah bahwa sikapnya itu membuat jantung Amanda menggila. Apalagi saat Saga tiba-tiba membungkukkan badan untuk menyerahkan punggungnya. "Naiklah, aku akan menggendongmu sampai ke apartemen."
"Hei, bukankah itu memalukan?" tanya Amanda seraya melihat suasana sekitar.
"Jangan pedulikan tatapan orang lain, jika kamu ingin mendapat pria yang bersyukur memilikimu. Itu pesan dariku. Ayo naik!"
Saga masih setia menunggu Amanda naik ke punggungnya. Sementara itu, Amanda yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya mengikuti perintah Saga.
Malam itu Amanda benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang membuncah.
***
Awas jangan disimpen nomor WhatsAppnya😌🤣
__ADS_1