
Selama Saga dan Amanda duduk berdampingan, Amanda tidak merasakan getaran apapun lagi. Tidak ada debaran dahysat di dadanya, tidak ada sorot teduh penuh damba, juga tidak ada gelombang menggebu-gebu seperti dulu.
Yang ada hanya rasa tak nyaman, yang ada hanya ada rasa resah dan gelisah, takut ada sepasang mata lain melihatnya, dan menyebabkan kesalahpahaman yang semakin panjang.
Karena tanpa sadar dia telah menyisihkan ruang kosong di hatinya. Waktu demi waktu telah merubah segala rasa yang ia punya. Sebab upaya untuk menggenggam, nyatanya bertaruh dengan kekecewaan.
Dari dulu dia memang sangat mengagumi Saga, tanpa berpikir pria itu telah memiliki sosok wanita tercinta. Rasa kagum berbalut obsesi telah menghancurkan Amanda secara perlahan, sampai akhirnya sosok lain mendekapnya dengan penuh kehangatan.
Dominic hadir ditengah rapuh dan kacaunya hati Amanda saat itu. Dia seolah menjadi penawar atas segala rasa sakit, karena begitu luka Amanda menganga, Dominic selalu ada di sana untuk menyembuhkannya.
Namun, ternyata Dominic memiliki cara yang salah untuk mengungkapkan segala rasa cintanya terhadap Amanda. Karenanya, dia malah merasa jatuh cinta secara sepihak saja.
Bila diibaratkan dia seperti tengah menggenggam pasir, semakin erat ia genggam, pasir itu justru akan semakin jatuh berhamburan. Karena sejatinya, pasir masih bisa terlihat oleh mata, tetapi perlu menggunakan cara yang istimewa untuk menggenggamnya.
Sebelum acara makan malam dimulai, Aneeq lebih dulu angkat bicara. Sebagai kakak tertua, dia sedikit memberikan sambutan hangat dan memberitahu agenda yang akan berlangsung malam ini. "Selain mengadakan syukuran atas kehamilan Gloria. Aku juga akan menjelaskan sedikit kenapa Saga bisa ada di sini. Ya, sama-sama kita tahu, aku pernah berselisih paham dengannya. Dan sebagai permohonan maaf, aku mengundangnya untuk makan malam bersama keluarga kita. Dan mulai besok, dia akan kembali menjadi asisten Ziel." Jelas Aneeq, dan semua orang langsung melayangkan senyum hangat pada Saga. "Oh iya satu lagi, ada sesuatu yang ingin dia utarakan di depan kita semua. Aku ingin sebelum makan, kalian bisa dengarkan dia bicara terlebih dahulu."
Mendengar itu, hati Amanda semakin tidak karuan. Ada apa sebenarnya? Kenapa keadaannya jadi seperti ini? Kenapa Saga datang di saat hatinya mulai terkunci. Karena bukannya merasa senang, dia justru ingin segera lari dari tempat ini.
Apalagi begitu Saga menghadap ke arahnya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin. Meskipun Amanda tidak membalas tatapan Saga, tetapi ia tahu, sorot teduh yang Saga tampakkan itu untuknya.
"Amanda," panggil Saga dengan suara lembut. Namun, Amanda justru bergeming, hati dan tubuhnya seolah menolak dengan keras. Bahkan tenggorokannya mulai terasa tercekat. "Amanda, malam ini aku datang untukmu. Aku datang dengan segenap keberanian, karena aku sadar tidak mudah untuk menghadap keluarga, apalagi ayah dan ibumu. Dan dengan sesadar-sadarnya, aku tahu ini terlalu cepat. Tapi ... aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini lagi. Di hadapan semua orang, aku ingin mengatakan—"
"CUKUP!" potong Amanda dengan cepat. "Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi. Karena kamu harus tahu, perasaanku sudah berubah. Aku tidak mengagumimu lagi, aku tidak ingin mengejar cintamu lagi, dan aku tidak berharap untuk bisa bersamamu lagi. Semua itu sudah habis!" tutur Amanda dengan mimik wajah yang begitu serius. Dia memberanikan diri untuk menatap Saga, dan hasilnya dia tetap tidak menemukan perasaannya yang dulu.
"Lagi pun, kamu bilang kamu hanya menganggapku sebagai adik. Tentu tidak mudah untuk mengubah semua itu menjadi rasa cinta. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya merasa bersalah," sambung Amanda dengan logikanya yang mulai bekerja.
"Tapi—"
"Tidak, Kak. Tidak ada tapi, aku sadar sekarang, bahwa seumur hidup itu terlalu lama untuk mengemis sebuah cinta!" tukas Amanda, tak memberikan kesempatan pada Saga untuk bicara lagi. Kemudian tatapannya beralih pada sang ayah yang sedari tadi diam dan tidak menyela ucapannya. "Dad, izinkan aku pergi sebentar."
"Sayang, kamu mau ke mana?" Kali ini Jennie yang menimpali.
"Aku ada urusan sebentar, aku janji aku akan kembali dengan cepat," jawab Amanda seraya menatap semua orang yang sedari tadi memperhatikan nya, tanpa menunggu jawaban dari sang ayah gadis itu segera bangkit dari kursinya, meninggalkan Saga yang diam seribu bahasa.
"Berikan aku kunci mobil Daddy," ucap Amanda pada bodyguard yang berjaga di luar.
"Tapi, Nona—" Lirikan maut Amanda membuat sang bodyguard tak berani untuk membantah. Akhirnya dia menyerahkan kunci mobil Aneeq, dan Amanda segera masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.
Namun, begitu ia hendak menjalankan, ia dikejutkan dengan sosok yang menghadang tepat di hadapannya. Dia berusaha melihat lebih jelas dengan mengusap matanya yang sedari tadi mengembun.
__ADS_1
Di menit dan detik itu juga, tangis Amanda luruh tak tertahankan. Dia keluar dari mobil dan langsung menghambur ke arah Dominic. Dia peluk erat pria yang tanpa sadar sudah mengisi penuh hati dan pikirannya.
"Aku tidak mau kamu menyerah, aku tidak mau kamu pergi meninggalkan aku, aku tidak mau kamu berhenti memedulikan aku. Aku tidak mau!" ucap Amanda sambil sesenggukan di dalam dada bidang Dominic. Dia mengungkapkan segala keinginannya, agar Dominic tidak pergi dari sisi hidupnya. "Kamu harus tahu, aku selalu mengkhawatirkanmu ketika kamu berhadapan dengan Daddy. Aku selalu memperhatikanmu diam-diam, dan aku selalu ingin kamu berhasil dalam menjalankan misi. Meskipun mulutku selalu berkata tidak, tapi kenyataannya mata dan hatiku sudah tertuju ke arahmu. Kamu harus percaya itu!"
Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Rasanya sungguh menggelitik mendengar ungkapan hati Amanda secara langsung. Dominic yang sudah dengan sabar menunggu itu semua, akhirnya bisa tersenyum lega.
"Jangan diam saja!" teriak Amanda seraya meregangkan pelukan, dia mendongak untuk menatap wajah Dominic yang sedang tersenyum simpul. Karena terlalu fokus pada ungkapan rasa cintanya, Amanda sampai tidak berpikir dari mana Dominic datang. "Kamu harus berjanji untuk tidak jahat lagi padaku."
"Memangnya kapan aku jahat padamu?" tanya Dominic seraya membenahi rambut Amanda yang menutupi mata.
"Dari kemarin kamu terus bersikap tak acuh padaku. Bahkan saat aku menangis, kamu malah memilih pergi. Kamu benar-benar jahat!" Amanda memukuli dada Dominic, tetapi hanya sebuah pukulan kecil yang tak seberapa. Dominic menghentikan itu semua dengan sebuah pelukan erat, dia mendekap Amanda seolah sedang menandai kepemilikannya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu terluka. Tapi aku hanya ingin kamu sadar, bahwa mencintai sendirian itu tidak mudah," ucap Dominic membuat Amanda kembali tertohok.
"Tapi sekarang aku sudah mencintaimu!" timpal Amanda dengan cepat, tak ingin Dominic kembali salah paham.
Mendengar itu, senyum Dominic langsung merekah sempurna. Dia melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Amanda dengan lebih leluasa. "Apa buktinya?"
Amanda mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian meraih tangan Dominic untuk dia genggam. "Ikut aku!"
Dengan gerakan cepat Amanda menarik tangan Dominic, membuat pria itu mengekor tanpa bicara. Amanda terus melangkah hingga mereka sampai di ruangan di mana keluarganya tengah berkumpul.
"Kamu yang harus ikut aku!" ucap Dominic, kemudian membawa Amanda berlari menyusuri beberapa sudut restoran. Amanda yang terkejut tentu hanya bisa pasrah.
"Kita mau ke mana?" tanya Amanda dengan nafas yang terengah-engah.
"Nanti kamu juga tahu," balas Dominic dengan senyum dan langkah yang semakin cepat. Hingga tak berapa lama kemudian mereka tiba di bagian outdoor restoran. Keduanya berhenti dan langsung melepas pegangan tangan masing-masing, Amanda beralih memegang kedua lututnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Sebenarnya—"
Baru satu kata itu yang terucap dari bibir Amanda, tetapi dia langsung dibuat terperangah dengan pemandangan di depan sana. Amanda berusaha menegakkan tubuhnya, kemudian melirik ke arah Dominic yang senantiasa mengulum senyum.
"Ini?" tanya Amanda terbata, benar-benar merasa tak percaya.
"SUPRISE!!" teriak semua orang dengan penuh keceriaan, yakni seluruh keluarga Amanda yang semula berkumpul di ruang VVIP. Tak lupa juga dengan Sarah, Donita, Lucas dan beberapa keluarga Dominic yang turut hadir.
Air mata Amanda seolah takkan pernah habis, karena lagi-lagi dia harus menangis dengan rasa haru yang membuncah. Apalagi saat Dominic berlutut dan mengambil kotak cincin yang diserahkan oleh Saga. Hah, benar-benar, jadi dari tadi dia hanya terlibat drama yang dibuat semua orang.
__ADS_1
"Amanda, will you marry me?" tanya Dominic dengan tatapannya yang lembut.
Amanda menutup mulutnya yang menganga, tak tahu harus dengan apa ia mengutarakan kebahagiaannya malam ini.
"Yes, I will," jawab Amanda, disusul riuh tepuk tangan dan juga suara kembang api yang mengudara.
Setelah memasangkan cincin di jari manis Amanda, Dominic langsung memeluk tubuh Amanda dengan erat. Sekarang ia yakin, bahwa orang lama tidak selalu menjadi pemenangnya.
...TAMAT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Epilog :
"Hei, sudah dulu peluk-pelukannya, kakiku sudah gemetar karena menahan lapar!" celetuk Gloria, si pengantin baru yang sekarang sudah berbadan dua.
"Hah, iya benar. Lagi pula aku akan mengizinkan kalian menikah setelah Amanda lulus kuliah," balas Aneeq dengan tegas, yang membuat tawa semua orang pecah, mereka langsung menggoda Amanda dan Dominic yang sama-sama mencebikkan bibir.
"Tidak, aku tidak setuju!" seru Sarah tiba-tiba. Karena mengingat usia Dominic yang sudah matang, dan dia yang ingin segera menimang cucu. Maka dari itu dia tidak ingin Dominic dan Amanda berpacaran lama-lama.
"Tidak setuju bagaimana? Kan sudah aku bilang dari awal," jawab Aneeq, tak ingin kalah argumen. Namun, karena Sarah juga termasuk orang yang keras kepala, jadilah mereka berdua adu mulut.
Dan di saat seperti itu, Dominic justru menarik tangan Amanda untuk pergi menjauh. Mereka diam-diam kabur dan masuk ke dalam mobil Dominic. Keduanya tidak tahu saja, kalau sedari tadi ada sepasang mata Saga yang melihat jelas kelakuan mereka.
"Sekarang apakah aku boleh menciummu?" tanya Dominic, melihat suasana sekitar yang tampak sudah aman. Amanda langsung tersipu malu, tak sanggup untuk menolak atau mengiyakan.
Namun, karena hasrat Dominic yang sudah menggebu-gebu, dia segera menarik tengkuk Amanda dan melumaat bibir ranum itu dengan rakusnya. Mengulang momen yang pernah mereka ciptakan berdua.
***
Abis ya ges, satu tahun lagi kawinnya🤭🤭
Terima kasih yang sudah menemani mereka sampai akhir, luvluv banyak-banyak. Jangan lupa pantengin Ig ngothor @nitamelia05, insyaallah nanti ada yang baru.
Buat selingan baca yang di bawah dulu ya, tentang kisah cinta si Bucil (Buaya Kecil) dan Bu Aurahhh 🤗🤗
Salam anu 👑
__ADS_1