Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 6. Kampungan Sekali


__ADS_3

"Apa katamu?!" sentak Dominic, begitu tak suka mendengar panggilan Amanda. Om Tua katanya? Apakah Amanda tidak bisa melihat bagaimana tampan dan matangnya dia sebagai seorang pria? Ya, walaupun kini dia sudah berkepala tiga, tetapi tetap saja tak bisa disebut tua.


Mendengar itu, Amanda langsung berjengit, dia tersadar kalau sekarang Dominic adalah tamunya. Dia tidak boleh bersikap sembarangan.


Astaga, mulutku ini kenapa tidak bisa dikondisikan? Rutuknya di dalam hati, ingin sekali menabok mulutnya sendiri.


"Maaf, Tuan," ucap Amanda seraya menundukkan kepala. Tak ingin Dominic mempermasalahkan panggilannya yang tidak sopan.


"Huh, masih anak baru tapi sudah kurang ajar!" cibir Dominic, sementara di dalam hati dia menyeringai karena Amanda pasti tidak akan berkutik untuk melawannya. "Siapa namamu!?"


Padahal nama Amanda sudah tertera jelas di kartu tanda pengenalnya. Akan tetapi Dominic seolah memiliki cara untuk membuat gadis ini membuka mulutnya.


"Amanda, Tuan."


Mungkin kemarin Amanda akan bersikap acuh tak acuh. Namun, tidak untuk sekarang. Bisa-bisa dia langsung ditendang dari hotel, gara-gara tidak sopan pada tamu.


"Cih, kampungan sekali." Lagi-lagi Dominic mencibir, membuat Amanda berusaha menahan kekesalannya.


Sabar, Amanda, sabar.


Dominic melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memberi perintah pada Amanda. "Pijat kakiku!"


"Maaf, Tuan, tapi sepertinya saya tidak ditugaskan untuk memberikan servis itu. Saya hanya—"


"Halo, Bu Nayla." Dominic memotong ucapan Amanda dengan berpura-pura menelpon Nayla, membuat gadis itu langsung kalang kabut. Jadi ini kah salah satu yang dikhawatirkan oleh sang ayah? Meladeni tamu yang suka semena-mena.


"Baik, Tuan, saya akan memijat anda, jadi anda tidak perlu menelpon Bu Nayla."


Amanda tidak curiga sedikit pun kalau sebenarnya Dominic adalah bos di tempat magangnya.

__ADS_1


"Bagus, pijat yang benar, karena kakiku sedikit pegal.


Amanda menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Lalu setelah itu dia segera duduk di sebelah Dominic, untuk memijat kaki pria itu.


"Kamu ini makan tidak sih? Tidak ada tenaganya sama sekali," protes Dominic lengkap dengan tatapan sinisnya. Tanpa bicara Amanda langsung mengeluarkan seluruh tenaganya. Namun, kaki Dominic benar-benar seperti kayu, keras semua.


Andai bisa, aku ingin sekali mematahkannya.


"Habis ini aku ingin sarapan roti dan juga segelas kopi, kamu siapkan ya."


"Baik, Tuan."


"Dan jangan lupa juga untuk membersihkan kamar ini."


"Tapi tadi—"


Mulut gadis itu bergerak-gerak, ingin mengumpat Dominic. Sementara pria itu justru menarik sudut bibirnya ke atas. Sepertinya Amanda akan menjadi mainan baru untuknya.


"Jangan suka membuat tamu kecewa, yang ada hotel ini akan sepi."


Tiba-tiba Dominic memberi wejangan. Padahal tamu yang seperti apa dulu? Kalau yang seperti ini sih rasanya yang lain juga ingin menendang.


"Baik, Tuan, saya akan mendengar apa yang anda katakan."


Amanda berpikir apa yang dilakukan Dominic adalah bentuk balas dendam. Jadi, sepertinya dia harus sabar sampai pria ini keluar dari hotel. Ya, paling hanya satu hari, tidak mungkin lebih dari itu.


*


*

__ADS_1


*


"Man, bagaimana? Kamu tidak dimarahi Tuan Dominic 'kan?" tanya Lara dengan antusias.


"Oh, jadi namanya Dominic. Cih, pakai mengejek namaku segala, padahal namanya juga tidak bagus. Apa itu Dominic, Domba Tua yang ada!" gerutu Amanda dengan kekesalan yang memuncak.


Baru satu hari bekerja sebagai housekeeper, Amanda sudah mengeluh akan semua tugasnya. Karena Dominic selalu menyuruhnya ini dan itu. Kenapa tidak yang lain?


Mendengar gerutuan temannya, Lara pun langsung memeringati gadis itu, "Hust, Manda, kamu tidak boleh seperti itu."


"Habisnya dia membuatku kesal! Aku tahu dia itu sedang mengerjaiku. Awas saja kalau bertemu di jalan, aku akan memberinya pelajaran!"


Amanda mengepalkan tangan seraya menghentak-hentakan kakinya di lantai. Sementara Lara hanya bisa mengerutkan dahinya. Dia sudah bisa menebak sekarang, kenapa Dominic terus memanggil Amanda.


Sepertinya mereka terlibat masalah pribadi, andai tidak Amanda tidak akan mungkin berani mencibir tamunya seperti itu.


"Aku harap kamu masih bisa selamat, Amanda," gumam Lara.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saatnya pergantian shift, dan itu artinya Amanda sudah boleh pulang.


Selama menjadi anak magang, Amanda sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan berubah menjadi gadis yang sederhana. Agar teman-temannya juga tidak segan padanya.


Jadi untuk sampai di mansion, dia menggunakan motor matic. Sore itu dia menikmati asap kendaraan, debu jalanan serta kemacetan yang sering melanda ibu kota.


Hingga pada pukul 6 lewat beberapa menit, Amanda baru tiba. Begitu masuk rumah, Amanda langsung ambruk di sofa. "Hah, ternyata melelahkan juga. Setelah ini aku akan meminta Daddy untuk mencarikan apartemen saja."


***


Sabar ya Man, beginilah kalo mau ketemu jodoh, eh kan belum ada hilal ya🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2