
Pagi itu Dominic menemui Donita di apartemen. Setibanya di sana ia langsung memencet bel, seolah tak memiliki kesabaran. Sementara Donita yang saat itu sedang membuat sarapan, lantas mengernyit karena pagi-pagi sudah ada tamu yang datang.
Begitu pintu terbuka dia terperangah, karena ternyata Dominic sudah menunggunya dengan tatapan nyalang. Wajah pria itu tampak suram, sama seperti hatinya yang sedang memanas akibat api kecemburuan.
"Dom, ada apa?" tanya Donita dengan satu alis yang terangkat, tetapi bukannya menjawab pria itu malah melenggang masuk, membuat Donita semakin bertanya-tanya.
Donita menyusul setelah menutup pintu. Sementara di dapur terlihat Dominic mengambil air dingin dan menenggaknya hingga tandas.
Namun, semua itu tak cukup untuk memadamkan bara yang masih menganga. Hingga dengan cepat Dominic meremass botol yang ada di tangannya dan melempar ke sembarang arah.
"Kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba datang dan marah-marah," ujar Donita dengan takut-takut, karena dia tahu bagaimana sifat Dominic. Kalau sudah kesal, pasti ada saja yang dihancurkan.
Dominic mengepalkan tangan dan meletakkannya dia atas meja pantry. Dengan tatapan tajam dia melirik ke arah Donita, "Aku benci pria bernama Saga!"
Tepat pada saat itu Donita langsung meneguk ludahnya.
__ADS_1
*
*
*
Sama seperti sebelumnya, entah kenapa ketika Dominic tidak ada, Amanda akan mencari-cari keberadaan pria itu. Meski mulut berkata tidak, tetapi sorot matanya tak bisa bohong. Dia selalu menelisik tiap sudut ruangan, berharap wajah Dominic muncul di pelupuk matanya.
Apalagi dari semalam pria itu bersikap sangat aneh. Setiap menelponnya, Dominic tak pernah bicara. Hanya ada hening, lalu tiba-tiba ditutup tanpa alasan yang jelas.
Hingga saat matahari mulai naik ke atas singgasana. Dominic tiba di hotel masih dengan wajah yang sama, karena nyatanya melarikan diri tak berhasil membuat dia tenang.
Karena merasa cemas Dominic lantas menghampiri gadis itu. Langkah kakinya nampak tergesa, hingga saat sudah berada di hadapan Amanda, dia langsung berjongkok. "Ada apa denganmu?"
Mendengar suara itu, Amanda yang semula fokus pada rasa sakitnya langsung beralih untuk mengangkat kepala. Hingga dia melihat wajah Dominic benar-benar berada tepat di hadapannya.
__ADS_1
Bibir Amanda nampak pucat pasi, belum lagi keringat dingin yang memenuhi pelipisnya. Seketika itu juga Dominic langsung memeriksa suhu tubuh Amanda, "Kamu sakit?"
Namun, Dominic tak menemukan keanehan. Karena semuanya nampak normal.
"Perutku yang sakit, Tuan," jawab Amanda merengek. Sedari tadi semua orang sibuk untuk melayani pengunjung hotel, sementara ia berjuang melawan rasa sakit yang membelit perutnya sendirian.
Tanpa banyak kata Dominic langsung mengangkat tubuh Amanda. Dan hal tersebut mengalihkan pandangan semua orang, karena mendadak keduanya menjadi pusat perhatian.
Namun, sebelum Dominic melangkah, dia melihat tempat yang baru saja diduduki Amanda. Di sana ada cairan berwarna merah, yang sepertinya berasal dari tubuh gadis itu.
"Kamu terluka?" tanya Dominic dengan wajahnya yang ikut memucat. Namun, Amanda hanya bisa menggeleng lemah.
"Tapi ada darah berasal dari tubuhmu. Kamu yakin tidak merasa sakit sedikitpun?" cecar Dominic dengan dada yang bergemuruh.
Mendengar itu, Amanda sedikit terperangah, dia melirik kursi yang baru saja didudukinya, tepat pada saat itu Amanda langsung merasa malu. Karena ternyata dia baru saja mendapat menstruasii hari pertama.
__ADS_1
Ah, ingin rasanya dia tenggelam ke dasar bumi. Sambil menyembunyikan wajah di dada bidang Dominic, Amanda berkata, "Bawa aku pergi, aku sudah tak tahan lagi."
Kalimat yang Amanda lontarkan membuat pikiran Dominic semakin kacau. Tanpa peduli tatapan semua orang, dia langsung membawa Amanda untuk naik ke atas kamarnya.