
Sepanjang waktu mereka berada di lift, Saga terlihat termenung, membuat Amanda yang sedari tadi memerhatikannya merasa bahwa pria itu sedang memiliki masalah.
"Kak," panggil Amanda seraya menepuk bahu Saga. Pria itu langsung tersadar dan menatap ke arah Amanda yang mengernyitkan keningnya. "Apakah Kak Donita mengganggumu lagi?" Tebak gadis itu.
Saga menggeleng dengan cepat, tak ingin Amanda mengkhawatirkan keadaannya. Lagi pula mau seperti apapun masalah yang terjadi antara dia dan Donita, dia tidak boleh melibatkan gadis cantik ini.
"Ah tidak, aku tidak apa-apa."
"Tapi kenapa Kakak melamun?"
Amanda merasa bahwa Saga sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, mendesak pria itu pun bukan hal yang mudah.
"Ada sedikit pekerjaan yang belum aku selesaikan, makanya aku jadi kepikiran," jawab Saga bohong.
"Aku pikir karena Kak Donita lagi, kalau dia mengganggumu bilang saja padaku, aku yang akan menghadapinya," ujar Amanda dengan gaya tengil, seolah dia adalah seorang pahlawan untuk Saga.
Melihat tingkah Amanda membuat Saga mengulum senyum tipis. Namun, karena tak mau membahasnya terlalu jauh dia pun segera mengajak gadis itu untuk keluar dari lift karena mereka sudah sampai di lantai yang dituju.
"Aku yakin dia tidak akan berani melawan gadis pemberani sepertimu. Ayo keluar!" Saga berkata seperti itu seraya memegang kedua bahu Amanda, membuat gadis itu memutar kepalanya.
Tak ada yang keluar dari mulut Amanda selain lengkungan sempurna yang begitu indah. Dari hari ke hari dia merasa bahwa Saga terus menunjukkan perhatian kepadanya. Membuat hatinya kian meleleh layaknya es krim yang terkena sinar matahari.
*
__ADS_1
*
*
Di mansion keluarga Tan.
Aneeq yang saat itu sudah selesai makan malam sedang berusaha menghubungi putrinya, karena baik dia dan sang istri ingin mengetahui kabar Amanda secara langsung.
Namun, panggilan yang ia buat tak kunjung diterima, padahal ponsel itu aktif. Sementara seseorang yang kini memegang benda pipih milik Amanda, terlihat kebingungan karena ayah dari gadis itu terus menelpon.
"Cih, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin 'kan aku pergi ke apartemennya malam-malam hanya untuk memberikan benda tidak berguna ini? Yang ada dia akan besar kepala dan menuduhku yang tidak-tidak!" gerutu Dominic yang saat ini sedang berada di kamar 2069. Sebuah kamar yang seolah dikhususkan untuk dirinya.
Namun, tiba-tiba fokus Dominic teralihkan pada foto profil Aneeq, karena lagi-lagi pria itu berusaha menghubungi Amanda. Saat itu juga, mata Dominic melebar dengan sempurna.
Dominic menggeleng kecil, seolah tak percaya kalau Amanda adalah putri dari seorang pengusaha yang terkenal di ibu kota.
"Tidak mungkin, tidak mungkin kalau dia putri Tuan Aneeq."
Dominic memegang pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Benar-benar tak paham dengan situasi yang terjadi sekarang, karena tidak mungkin seorang anak dari pengusaha kaya raya memilih untuk menjadi houskeeper di hotelnya.
"Ya Tuhan, yang benar saja? Ini tidak salah kan?"
Pria itu kembali memperhatikan foto profil Aneeq. Semakin dia cermati, membuat dia semakin tak ingin mempercayai semua ini.
__ADS_1
Hingga akhirnya dia memilih untuk mencari tahu silsilah keluarga Aneeq melalui internet. Di sana tertera jelas bahwa Amanda adalah anak kandung dari pasangan Jennie dan Aneeq, gadis itu memiliki kakak angkat dan seorang kembaran yang bernama Cornelius Burmese Tanson.
Dominic langsung menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya dengan kasar. Masih tak begitu percaya kalau sebenarnya Amanda adalah salah satu pewaris dari perusahaan ternama.
"Gila, gadis ini pasti sudah gila," rutuk Dominic seraya bangkit dari sofa. Dia ingin mencari minuman dingin untuk menjernihkan otaknya.
Sementara di ujung sana, Aneeq merasa heran, karena tak ada satu pun panggilannya yang terhubung. Namun, saat ia menelpon Saga, katanya Amanda ada di apartemen.
"Bagaimana, Sayang? Apa kata Amanda?" tanya Jennie yang saat itu menghampiri suaminya di dalam kamar.
Aneeq menoleh lalu menggelengkan kepala. "Tidak diangkat, Sayang."
Jennie lantas mengusap bahu kekar itu untuk menenangkan kecemasan yang sedang dirasakan oleh suaminya, "Mungkin dia sudah tidur. Besok kita hubungi lagi, di sana ada Saga, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Tanpa membantah pria itu langsung menurut apa kata istrinya. Entahlah sejauh ini Jennie selalu terlihat lebih tenang, maka dari itu dia pun tak ingin gegabah.
"Baiklah, aku ke ruang kerja dulu sebentar. Kalau kamu mau istirahat, istirahatlah dulu," ujar Aneeq seraya mengecup kening Jennie sekilas.
Setelah itu Aneeq benar-benar keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.
***
Bang Dom langsung hah heh hoh🤣🤣 atiati bang abis ini dililit😌🙏
__ADS_1