Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 14. Hukuman


__ADS_3

"Aku sengaja mengumpulkan kalian semua di sini. Karena aku ingin memeringati kalian agar meningkatkan kualitas kerja di bagian masing-masing. Tanpa terkecuali, baik trainee maupun anak magang!" tegas Dominic, mulutnya berbicara tetapi tatapan matanya tak lepas dari seorang gadis bernama Amanda.


Sementara Amanda sendiri seperti sedang disindir habis-habisan. Karena suara Dominic terus berdengung di telinganya.


"Aku tidak mau kalau sampai ada tamu yang komplen, atau bahkan menuntut hotel ini hanya karena kalian yang tidak becus!" sambung pria itu seraya melipat kedua tangan di depan dada. Ingin menunjukkan pada satu orang bagaimana dia berkuasa.


"Baik, Tuan," jawab semua orang dengan serempak. Berbeda dengan Amanda yang sudah ketar-ketir, karena sudah pasti Dominic akan semakin semena-mena terhadap dirinya.


Apalagi setelah ini, Ya Tuhan ... kenapa cobaanku tidak habis-habis? Hah, kalau boleh aku memilih ganti saja dengan cobaan yang lain, jangan Domba Tua Sialan ini. Rutuk Amanda seraya menarik ekor matanya ke arah Dominic.


Tak disangka pria itu juga sedang menatap ke arahnya, membuat dia langsung menelan ludah dengan susah payah.


Dia pasti sedang mengumpatku sekarang. Awas kamu, Maman!!!


"Kalau begitu kembalilah bekerja. Setelah ini Asisten Lucas akan mengecek kinerja kalian." Semua orang langsung menghela nafas lega, kecuali satu orang yang tiba-tiba Dominic tunjuk. "Dan kamu—ikut aku sekarang!"


Amanda melebarkan kelopak matanya dengan sempurna. Dia yakin Dominic sudah menyiapkan sesuatu untuknya.


"Sabar ya, Man," ucap Lara tiba-tiba seraya menepuk bahu Amanda. Dari awal dia memang sudah tahu kalau Dominic adalah General Manager di hotel ini, tetapi Nayla melarangnya untuk memberitahu Amanda.


Amanda menghela nafas kasar, mau tak mau dia memang harus menghadapi pria gila seperti Dominic. Gadis cantik itu berusaha untuk tersenyum, agar Lara tidak mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Fokuslah bekerja, jangan khawatirkan aku," balas Amanda, dan Lara langsung mengangguk sebagai jawaban.


Detik selanjutnya Amanda menyusul Dominic yang berjalan menuju pintu utama hotel. Sepertinya pria itu ingin mengajak dia berbicara di luar.


Dengan berlari tunggang langgang akhirnya kini Amanda berada tepat di belakang Dominic. Gadis itu berdehem keras. "Ehem! Seharusnya dari awal kamu bilang, kalau kamu adalah pemimpin di hotel ini, jadi aku bisa menjaga sikap."


"Cih, kalau begitu aku tidak akan mungkin bisa melihat sifat aslimu yang bar-bar itu! Aku akan memberimu SP satu karena sudah memakiku berulang kali, bahkan melayaniku dengan pelayan yang begitu buruk!" balas Dominic dengan santai, sementara di belakang sana tangan Amanda langsung mengepal kuat.


Namun, karena tak ingin membuat masalah lagi dengan Dominic, dia pun berusaha untuk tenang.


"Tapi, Tuan, semua itu juga karena kamu yang memulainya lebih dulu. Aku jadi berpikir semua itu wujud balas dendammu, karena kita pernah bertemu di jalan."


"Kita?" tanya Dominic seraya menghentikan langkah, membuat Amanda menubruk punggungnya. Gadis itu hampir saja terhuyung, tetapi dengan cepat dia menguasai bobot tubuhnya.


"Kamu harus ingat prosedur di hotel ini. Pekerja dilarang mencampur adukan masalah pribadinya dengan pengunjung. Jadi, yang kamu pikirkan itu salah," sambung Dominic, kini mereka sudah ada di luar tepatnya di depan mobil milik pria tampan itu.


"Iya, tapi kan—"


Dominic memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan. "Berhenti mengatakan tapi. Karena itu semua menunjukkan bahwa kamu bukanlah seorang karyawan yang tidak kompeten!"


Amanda langsung menelan kembali kalimatnya, dia dibuat tak berkutik karena Dominic selalu memojokkannya.

__ADS_1


"Baik aku minta maaf, Tuan, jadi tolong jangan berikan aku SP satu," ujar Amanda sambil memasang wajah semanis mungkin. Padahal dalam hati dia terus mengumpatt dan menyumpahi Dominic ini itu.


Mendengar itu, Dominic menganggukkan kepala sambil mengulum senyum. "Baguslah kalau kamu sudah sadar. Dan sekarang tugasmu adalah mencuci mobilku."


"Hah?" Mulut Amanda langsung terbuka seketika.


"Itu hukuman untukmu. Kalau kamu tidak terima, silahkan keluar dari hotel ini, tapi ingat, aku akan membuatmu mendapat nilai yang buruk!" tawar Dominic yang diiringi sebuah ancaman.


Amanda mengeratkan gigi gerahamnya. Tak ingin kembali berdebat yang membuat otak dan hatinya lelah, akhirnya dia mengerjakan perintah Dominic.


Sementara di tempatnya pria itu mengulum senyum tipis. "Dari pada tukang kebun, nama Maman lebih cocok menjadi tukang cuci mobil."


Mendengar itu, Amanda menarik sudut bibirnya sinis. Dengan sengaja dia mengangkat selang air dan mengarahkannya pada Dominic.


Prottt!


"Hei!" sentak Dominic karena sepatunya basah.


"Maaf, Tuan, aku tidak sengaja," balas Amanda sambil menampakkan senyum mengejek.


***

__ADS_1


Kapan akurnya kalian? 🤭🤭


__ADS_2