
Namun, karena tingkat gengsinya yang begitu tinggi, dia enggan untuk mengakui. Dia segera menyadarkan diri dengan menggelengkan kepala beberapa kali.
Haish, berpikir apa aku ini?
Sementara Amanda menunggu dengan setia. Dia terus berdiri, hingga tiba-tiba tercetus dua kalimat dari mulut Dominic yang membuatnya mengepalkan tangan.
"Cantik dari mana? Baju itu tidak cocok untukmu," cetus Dominic dengan sinis, senyum Amanda memudar seketika. Bahkan Sarah pun ikut kesal dan langsung menabok lengan putranya itu.
"Tidak cocok bagaimana? Jelas-jelas baju itu sangat pas di tubuh Amanda," omel Sarah, karena di matanya Amanda benar-benar terlihat sempurna.
"Kalau aku bilang tidak cocok ya tidak cocok, Mom, bahkan dia jadi terlihat lebih tua." Tatapan Dominic beralih ke arah Amanda. "Ganti sana!" Titahnya.
Tanpa berkata apapun, Amanda langsung berbalik arah. Dia berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya di lantai.
"Cih, kalau memang tidak cocok, ya bilang saja tidak cocok, pakai mengataiku segala. Tidak cantiklah, kelihatan tua lah. Harusnya dia sadar, dialah yang tua!" rutuk Amanda di dalam ruang ganti.
Dia kembali mengganti baju dengan pilihan yang kedua, tetapi penilaian Dominic selalu sama. Membuat rasa kesal yang sudah dia tahan, kini membludak saat baju kelima telah selesai dia coba.
Namun, sebelum dia bersuara. Sarah sudah lebih dulu berdiri di depan Dominic dengan tangan yang bertolak pinggang. "Dom, jangan keterlaluan dong. Kalau kalian ada masalah, ya selesaikan baik-baik. Jangan malah mengerjai Amanda!"
"Mom, aku bicara apa adanya. Semua baju itu memang tidak ada yang pas di tubuhnya. Mommy sendiri yang memintaku untuk memberi penilaian, lalu letak salahku di mana?" balas Dominic, padahal sedari tadi dia tidak menemukan keburukan apapun di dalam diri Amanda. Namun, entah kenapa dia tidak suka, kalau gadis itu harus berdandan cantik, apalagi di depan orang lain.
Egois memang, tapi ia juga tidak mengerti kenapa sikapnya jadi seperti ini. Seolah-olah Amanda benar-benar miliknya saja.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu ini benar-benar tak ada romantis-romantisnya! Ngidam apa sih Mommy dulu sampai kamu jadi seperti ini?"
Setelah berkata seperti itu, Sarah langsung berkata pada karyawan toko, "Bungkus saja semuanya. Tas dan sepatu juga."
Amanda melebarkan kelopak matanya, apakah dia tidak salah dengar?
"Mom," panggil Amanda, merasa tak enak kalau harus Sarah yang membayar semua belanjaan itu.
"Tidak apa-apa, Sayang, jangan hiraukan brandal gila ini. Sekarang pilih saja tas dan sepatu mana yang kamu inginkan, biar Mommy yang bayar."
Amanda langsung menggeleng, tiba-tiba dia berjalan ke arah Dominic dan mengulurkan tangannya. "Keluarkan kartumu!"
Dominic mengerutkan dahinya.
"Hei, ketika seorang pria mengajak wanitanya berbelanja, sudah tentu dia harus menyerahkan kartu miliknya!"
"Maksudmu? Aku yang bayar?"
"Tentu saja, memangnya kamu ini pria atau bukan?"
Dominic menganga, jangan bilang Amanda ingin menguras tabungannya.
"Hei, kalian yang mengajakku ke mari!"
__ADS_1
"Tapi tetap saja, Dom, apakah kamu tidak malu dilihat banyak orang? Cih, bahkan pria miskin saja tidak akan tega membiarkan wanitanya mengeluarkan uang!" timpal Sarah, sepertinya bagus juga kalau dia berkolaborasi dengan Amanda.
Dominic mendesaahkan nafas, karena mereka benar-benar menjadi pusat perhatian, dengan kesal dia mengeluarkan dompet dan menyerahkan salah satu kartunya pada Amanda.
Amanda menyambar benda tipis itu dengan cepat. Dia menoleh ke arah Sarah, dan mereka langsung melempar senyum licik.
"Apa PINnya?" tanya Amanda.
"Mommy sudah tahu," jawab Dominic dengan ketus.
Mendengar itu, senyum di bibir Amanda semakin terlihat lebar. Dia mencolek dagu Dominic sambil berkata, "Kekasihku benar-benar pria yang royal. Setelah ini bekerja lebih keras lagi ya, Sayang."
Tak lupa Amanda mengedipkan sebelah matanya genit, lalu melenggang ke arah Sarah.
"Mommy, ayo kita belanja sepuasnya," ujar Amanda seraya mengajak Sarah melakukan tos, detik selanjutnya kedua wanita itu sama-sama tergelak kencang.
Sementara di tempat duduknya, Dominic menahan kekesalan dan juga rasa yang campur aduk. Karena panggilan sayang yang baru saja Amanda lontarkan, terus terngiang-ngiang di telinganya.
"Hah, apakah setelah ini aku akan gila?" gumam pria itu seraya menyugar rambutnya.
***
Atiati, Bang, ajian Semar mesem nak uler gak kaleng-kaleng 🤣🤣🤣
__ADS_1