Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 56. Siapa Kau, Sialan!


__ADS_3

Lucas masuk ke ruangan Dominic dengan wajah tanpa dosa. Tanpa tahu bahwa sang bos sudah kesal setengah mati, karena tak berhasil berduaan dengan Amanda.


"Ah, kalau begitu aku juga pamit ya," ujar Amanda, karena seperti ucapannya beberapa saat lalu, bahwa dia akan menjaga Dominic sampai Lucas datang.


"Kenapa buru-buru sekali, Nona?" tanya Lucas, tanpa melihat wajah Dominic yang sudah tampak suram.


Justru kamu yang datangnya terlalu cepat, Sialan!


Ingin sekali Dominic berteriak seperti itu di depan wajah asistennya. Namun, karena masih ada Amanda, dia tetap menjaga image.


"Aku sudah cukup lama di sini, lagi pula aku juga harus ke hotel, sebentar lagi kan pergantian shift," balas Amanda setelah melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu hampir menunjukkan pukul 2 siang.


"Oh baiklah kalau begitu. Apakah perlu saya antar sampai ke depan?" tawar Lucas saat Amanda sudah bangkit dari kursinya.


"Tidak perlu, Asisten Lu. Aku bisa sendiri, kamu jaga Tuan Dominic saja takut dia menginginkan sesuatu," jawab Amanda sambil tersenyum, lalu pandangannya beralih pada Dominic, membuat pria itu langsung merubah mimik wajahnya. "Aku pamit dulu ya, semoga kamu cepat sehat."


"Ya, hati-hati di jalan. Dan terima kasih sudah menyempatkan untuk datang," balas Dominic dengan suara yang lemah lembut.


Amanda mengangguk sekilas, lalu detik selanjutnya dia benar-benar meninggalkan ruangan Dominic. Ketika pintu sudah sukses tertutup, Dominic melayangkan tatapan tajam ke arah Lucas yang masih tersenyum.


Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba Dominic mengambil kotak tisu dan melemparkannya ke arah sang asisten.


Bruk!


"Kau benar-benar sialan, Lu!" umpat Dominic sambil meringis.


Sontak saja Lucas langsung terkejut, dia menatap Dominic dengan kening yang mengeryit karena tak tahu salahnya apa, Dominic justru bersikap kasar padanya.

__ADS_1


"Kenapa malah marah-marah sama saya, Tuan? Apakah saya membuat kesalahan?" tanya tanya Lucas.


"Pikir saja sendiri!" cetus Dominic seraya memalingkan wajah. "Oh my God, badanku sakit semua." Sambungnya mengeluh.


Sementara Lucas benar-benar tidak mengerti, kenapa Dominic bersikap seperti itu. Tak ingin ambil pusing, dia pun segera duduk dan memainkan game di ponselnya.


"Kalau ada apa-apa tinggal panggil saya saja, Tuan," ucap Lucas, yang malah membuat Dominic semakin naik darah.


"Diamlah, Lu, aku benci mendengar suaramu!"


Mendengar itu, Lucas pun hanya bisa menelan ludahnya. Dominic benar-benar sangat aneh, pikirnya.


***


Amanda yang sudah sampai di hotel, malah dikejutkan dengan sikap semua orang. Mereka seperti nampak segan, karena sudah tahu siapa Amanda sebenarnya. Bahkan ada beberapa karyawan yang menundukkan kepala saat berpapasan dengannya, membuat dia merasa tak nyaman.


Hingga saat melihat Lara, Amanda langsung menarik gadis itu bersamanya.


"La, kenapa semua orang menatapku seperti itu?" tanya Amanda saat mereka sudah sampai di depan loker, di mana biasanya mereka menyimpan barang-barang.


"Tentu saja karena mereka sudah sempat membaca berita yang beredar. Kamu—" Lara tak melanjutkan ucapannya, karena sebenarnya dia juga jadi segan berteman dengan Amanda. Karena mereka memiliki kasta yang berbeda.


"Berita apa?" tanya Amanda dengan kening yang mengeryit. Karena untuk saat ini dia tidak bermain sosial media.


"Kamu tidak tahu?" Lara justru balik bertanya, dan Amanda langsung menggelengkan kepalanya. "Beritamu dan Tuan Dominic sempat naik. Dan aku yakin 80 persen karyawan hotel sudah membacanya. Jadi, mereka sudah tahu kalau kamu adalah anak Tuan Aneeq."


Amanda langsung menganga, pantas saja semua orang mendadak aneh. Begitu pun juga dengan Lara.

__ADS_1


"Man, aku tinggal dulu ya, sebentar lagi kan shiftku akan habis, aku takut ada yang membutuhkanku," sambung Lara, melihat Amanda yang hanya bergeming dengan wajah terperangah.


***


Saga sudah membereskan semua barang-barangnya yang ada di apartemen, karena malam ini juga dia akan berangkat ke luar kota menggunakan mobil.


Setelah makan malam, dia keluar dengan membawa koper besar, namun sebelum kakinya melangkah manik mata itu justru tertuju pada unit apartemen yang ada di sebelahnya. Tempat yang sebelumnya dihuni oleh Amanda.


Tatapan Saga berubah sendu, karena lagi-lagi dia hanya mampu menyesali apa yang sudah terjadi di antara mereka.


"Maafkan aku, Man, karena sikapku yang berlebihan, aku jadi terkesan memberimu harapan, hingga kamu harus terluka karenaku," gumam Saga seraya mengingat senyum dan tawa Amanda saat bersamanya. Dan sekarang ia tidak mengembalikan semua itu.


Detik selanjutnya dia membawa kedua kakinya untuk sampai di lantai bawah. Sebelum meninggalkan ibu kota, dia ingin bertemu dengan Donita terlebih dahulu, hingga kini tujuannya adalah apartemen wanita itu.


Namun, saat tiba di sana, dia dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang sedang berusaha mencumbu kekasihnya.


"Niel, jangan!" ucap Donita sambil melepaskan diri dari cengkraman pria yang ada di hadapannya.


Melihat itu, kemarahan Saga pun langsung meledak. Dia berjalan cepat dan menarik bahu pria bernama Daniel–seorang casanova, yang ternyata adalah mantan selingkuhan Donita. Dia baru pulang dari luar negeri dan langsung menemui wanita yang membuatnya tergila-gila.


"Shittt!" umpat Saga, seraya melemparkan tubuh itu ke luar apartemen.


Bruk!


Tubuh Daniel menabrak dinding, dan membuatnya hilang keseimbangan.


"Siapa kau, Sialan?!" sentak Saga dengan kilatan amarah.

__ADS_1


***


Hajar, banggggg!!!!


__ADS_2