Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 60. Menjelaskan


__ADS_3

Masih terlintas jelas saat Aneeq memukulinya tanpa ampun. Membuat dia semakin yakin bahwa pria yang ada di hadapannya ini tak pernah main-main untuk memberantas para musuh.


Namun, pandangan Dominic teralihkan pada sosok cantik yang berdiri di belakang tubuh Aneeq. Ya, Amanda pun turut mengekor pada langkah ayahnya, dan dia sedikit terkejut begitu melihat Dominic datang ke rumahnya dengan tiba-tiba.


"Duduklah, karena apa yang sudah terjadi adalah tanggung jawab kalian berdua," ujar Aneeq memberi perintah pada putrinya. Memutus kecanggungan yang terjadi di antara mereka bertiga.


"Iya, Dad." Tanpa banyak bicara Amanda langsung melenggang ke arah Dominic, duduk bersebelahan dengan pria itu dengan jarak yang masih tercipta.


Aneeq ikut duduk dengan menyilangkan satu kakinya. Kemudian menatap Dominic yang kembali menunduk sambil curi-curi pandang pada Amanda.


"Ehem ... nyalimu besar juga ya," cetus Aneeq, membuat Dominic langsung gelagapan. Mulut Dominic sudah terbuka untuk menjawab, tetapi Aneeq justru melanjutkan ucapannya. "Kamu datang untuk menjelaskan semuanya bukan?"


Dominic menganggukkan kepala.


"Benar, Tuan, saya akan ceritakan apa yang sudah terjadi pada malam itu," jawab Dominic dengan sedikit terbata. Maklum, dia sangat deg-degan menghadapi pria yang ada di hadapannya. Bahkan pendingin udara saja tak cukup mengusir peluh yang menderas di sekitar dahinya.


"Bagus, kalau begitu tidak perlu tegang. Minumlah dulu ...." Aneeq mempersilahkan Dominic, tetapi pria yang sedang dilanda cemas itu merasa tak membutuhkan air saat ini.


Dominic melirik Amanda yang senantiasa bergeming, gadis itu nyaris tak berkutik di depan ayahnya.


"Aku adalah orang yang menghargai usaha orang lain. Dan aku menghargai keberanianmu untuk datang menemuiku," lanjut Aneeq, hingga Dominic pun terpaksa mengambil gelas yang sedari tadi ada di atas meja.


Tak dipungkiri tangannya sedikit gemetar, tapi ia masih mampu mengendalikan semuanya, hingga ia minum dengan baik.


"Terima kasih, Tuan," ucap Dominic setelah cairan manis itu membasahi kerongkongannya.


"Jadi bagaimana? Apa yang membuatmu ada di sana, dan apa yang kamu lakukan pada putriku yang sedang mabuk?" tanya Aneeq to the point. Dia menatap Dominic dengan lekat, membuat pria itu kembali merasa salah tingkah.

__ADS_1


"Jawab dengan benar, dan buat ayahku percaya padamu!" cetus Amanda tiba-tiba, memeringati Dominic. Karena dia ingin kesalahpahaman ini segera selesai.


Dominic melirik sekilas, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Boleh aku ceritakan kejadian yang di apartemen?" tanya Dominic setengah berbisik pada Amanda.


"Daddy sudah tahu yang itu, kamu hanya perlu mengatakan saat kita berada di klub dan hotel," jawab Amanda, karena hanya saat itulah dia tidak ingat apapun.


Dominic mengangguk paham, akhirnya dia pun menjelaskan saat Amanda meminta masuk ke dalam klub hingga gadis itu mabuk berat.


"Di sana Amanda mencium saya lebih dulu, Tuan," ujar Dominic mengingat momen saat Amanda naik ke atas tubuhnya dan memberikan ciuman dengan cuma-cuma. Lantas, pria mana yang akan menolak? Karena selain memiliki fisik yang mumpuni, Amanda adalah sosok yang Dominic puja selama ini.


Amanda langsung membuang muka, sementara Aneeq bergeming, setia menunggu Dominic melanjutkan ceritanya.


"Sebagai pria normal, saya tidak bisa menolak. Terlebih ...."


Dominic kembali gelagapan, karena seumur-umur dia tidak pernah mengungkapkan isi hatinya di depan seorang wanita. Terlebih kini ada ayah dari wanita itu sendiri. Hah, bagaimana bisa dia tidak gugup setengah mati?


"Terlebih saya menyukai Amanda, Tuan. Saya akui, saya senang mendapat semua perlakuan itu," lanjut Dominic, yang membuat mulut Amanda ternganga. Dia mulai tidak sabar untuk mendengar kalimat selanjutnya, andai tidak ada Aneeq, mungkin dia sudah mencecar Dominic.


"Lalu?" tanya Aneeq dengan rahang yang mulai mengeras.


"Karena saat itu sudah hampir pagi, saya memutuskan untuk membawa Amanda ke hotel terdekat dan memulangkan dia setelah sadar. Tapi di sepanjang jalan saya membawa Amanda, dia terus memancing saya. Kalau anda ingin bukti, saya memiliki rekaman CCTV di dalam mobil, bahwa Amanda yang terus memulai meski saya sudah menolak ...."


Dominic sedikit mengangkat pandangan untuk melihat reaksi wajah Aneeq. Dan tepat pada saat itu juga dia langsung meneguk ludahnya susah payah. Sementara Amanda seperti tak memiliki muka, gara-gara alkohol dia telah bertindak gila.


Ah, memang ya, kalau menyesal itu ada di belakang. Karena kalau di depan namanya apa guys?

__ADS_1


Wajah Aneeq mulai memerah, tetapi dari tatapannya sudah jelas mengatakan bahwa dia menunggu Dominic menyelesaikan ceritanya.


"Saya juga sudah memesan kamar dengan dua ranjang, Tuan, untuk—untuk—untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi, lagi-lagi Amanda menguji saya," ujar Dominic dengan sedikit terbata. "Saya sudah berusaha keras untuk menolaknya, Tuan, tapi akhirnya saya goyah juga. Saya tidak bisa lagi membendung semuanya, saya—"


"KATAKAN YANG JELAS!" potong Aneeq dengan berteriak, membuat Amanda dan Dominic terlonjak.


"Ya, saya melakukannya, Tuan, saya melakukan semuanya," jawab Dominic yang membuat mulut Aneeq menganga lebar. Dia lantas berdiri, tetapi dia dibuat terkejut karena aksinya sudah keduluan oleh Amanda yang melayangkan tinjuan keras ke dada Dominic.


"Kamu bilang kita tidak melakukan apa-apa, tapi kenapa malah berkata seperti itu?!" sentaknya dengan nafas yang memburu.


Dominic tergagap, sebenarnya dia juga sedikit takut. Namun, demi bisa bersama wanita yang dicintainya, tercetus ide gila itu.


"Aku takut kamu membenciku makanya aku bilang seperti itu," balas Dominic.


"Tapi aku sangat yakin bahwa di antara kita tidak terjadi apa-apa!"


"Dan aku yang paling sadar saat itu, Amanda!"


Mata Amanda semakin membelalak lebar. Tak percaya dengan pengakuan Dominic. Dia pun menatap ke arah sang ayah yang sepertinya sangat kecewa.


"Dad, itu tidak benar, aku bahkan tidak merasakan apapun!" ujar Amanda, tetapi Aneeq malah menyuruhnya diam dengan sebuah gerakan tangan.


"Kamu main-main denganku?" tanya Aneeq dengan tatapan intens, membuat manik mata Dominic bergerak gelisah.


"Saya bicara apa adanya, Tuan, bahkan malam itu saya tidak memakai pengaman, saya tidak bisa menjamin kalau benih yang saya tanam itu tidak jadi, maka dari itu saya akan bertanggung jawab," jawab Dominic, semakin sukses membuat jantung Amanda terjun sebebas-bebasnya.


***

__ADS_1


Cepet bang, keburu jadi sate lu🤣🤣


__ADS_2