Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 35. Hati Yang Mudah Tersentuh


__ADS_3

Pagi harinya, saat Amanda ingin berangkat ke hotel dia langsung tersadar bahwa ponselnya tidak ada. Semalam dia terlalu larut mengobrol dengan Saga, sehingga melupakan benda pipih itu.


"Astaga, ke mana ponselku?" gumam Amanda dengan raut cemas. Dia segera mencari-cari benda pipih itu, tetapi tak berhasil dia temukan. Hingga akhirnya dia mencoba mengingat-ingat, dan terakhir dia memainkan ponsel saat berada di dalam mobil Dominic.


Amanda langsung menepuk jidatnya dengan begitu keras, karena dia sangat yakin bahwa ponselnya tertinggal di sana.


"Bodoh, kenapa kamu bisa melupakannya, Amanda, jangan sampai dia lancang melihat-lihat privasimu! Bisa mati berdiri kalau dia tahu semuanya."


Dengan gerakan cepat Amanda keluar dari apartemen. Namun, dia teringat bahwa motornya sengaja ditinggalkan di hotel. Gadis itu mendesahkan nafas kasar, karena sepagi ini dia sudah mendapatkan dua kesialan.


"Hih, Domba Tua itu benar-benar sarangnya sial!" gerutu Amanda, dengan terpaksa dia menunggu taksi atau pun ojek yang biasa melewati daerah apartemennya. Karena tanpa ponsel dia tidak bisa berbuat apa-apa.


*


*


*


Amanda segera membayar ongkos kepada tukang ojek yang mengantarnya. Lantas setelah itu, tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu dia langsung naik ke kamar Dominic, berharap pria itu tidak macam-macam dengan ponselnya.


Bahkan karena saking kalang kabutnya, tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan kata permisi Amanda langsung menyelonong masuk. Mulutnya sudah terbuka siap untuk mengomel, tetapi urung ketika melihat Sarah juga ada di sana.

__ADS_1


Seketika Amanda langsung terlihat kikuk.


Namun, bukannya marah dengan kedatangan Amanda yang begitu tiba-tiba, hal tersebut justru membuat Sarah tersenyum sumringah. Dia sangat yakin, bahwa gadis itu sedang merasa tak sabar untuk bertemu dengan putranya.


"Aduh-aduh, pagi-pagi begini sudah disamperin pacar," goda Sarah seraya bangkit dari ranjang, karena sebelumnya dia sedang berusaha untuk membangunkan Dominic.


Mendengar itu, mulut Amanda kembali menganga, sementara Dominic yang saat itu sudah bangun memilih untuk memalingkan wajah.


"Kalau Mommy tidak memiliki urusan penting, lebih baik Mommy keluar dari sini. Aku akan segera bangun dan bekerja," ujar pria itu dengan suara yang tertahan di dalam bantal. Dia masih terlalu shock mengetahui fakta tentang Amanda. Belum lagi rasa aneh yang hinggap saat melihat gadis itu tersenyum di depan pria lain.


Sungguh sial!


"Kamu ini kenapa sih, Dom? Sepertinya tidak ingin sekali Mommy tahu hubungan kalian. Padahal Mommy adalah satu-satunya orang terdekatmu, pada siapa lagi kamu mengadu kalau bukan pada Mommy? Apakah kamu juga bersikap seperti ini pada Maman?" balas Sarah. Akan tetapi Dominic senantiasa bergeming.


Sarah tertunduk lesu, tetapi Dominic yang sudah sangat kebal dengan trik ibunya, lantas berkata, "Haish, kalau Mommy mau ambil saja di panti asuhan, di sana banyak bayi yang membutuhkan orang tua."


Sebuah jawaban yang membuat Sarah ingin menguncir bibir putranya itu.


Dan sialnya hati Amanda yang mudah tersentuh, langsung merasa iba dengan kesedihan yang dijual oleh wanita paruh baya itu. Batinnya terenyuh kalau sudah membahas tentang keluarga, apalagi orang tua. Jadi, raut wajah yang semula terlihat kesal, kini berubah sendu seketika.


"Nyonya," panggil Amanda dengan lembut, membuat Sarah langsung menoleh ke arahnya. Wajah yang sudah menunjukkan keriput itu terlihat murung, menarik Amanda untuk mengikuti permainan Dominic, yaitu berpura-pura bahwa mereka memiliki hubungan di depan Sarah.

__ADS_1


"Kenapa masih memanggilku Nyonya? Seharusnya you call me Mommy, sama seperti Dominic," balas Sarah berusaha kembali ceria.


Awalnya Amanda terlihat ragu, tetapi demi menghibur wanita paruh baya ini, dia pun menganggukkan kepala. Sementara Dominic mulai bangkit dari ranjang, dia mengambil ponsel milik Amanda dan menyerahkannya pada gadis itu.


Amanda sedikit memicing untuk memastikan bahwa Dominic tidak lancang membuka benda pipih miliknya. "Kamu tidak macam-macam 'kan?"


"Aku tidak melakukan apapun selain menyentuhnya," jawab Dominic.


"Baguslah!"


Amanda segera mengambil alih ponsel yang ada di tangan Dominic. Dan melihat interaksi keduanya, Sarah bisa menyimpulkan bahwa mereka sedang terlibat perdebatan kecil.


"Maman, apakah kamu sudah sarapan? Bagaimana kalau kita pergi ke restoran dan belanja hari ini?" ujar Sarah untuk menghibur calon menantunya. Membuat Amanda langsung melayangkan tatapan ke arah Dominic, gadis itu memberi kode melalui sorot matanya, tetapi Dominic yang tidak peka tidak mengerti apa yang Amanda sampaikan.


Apa sih? Rutuk Dominic di dalam hati.


"Tapi—aku harus bekerja, Mom," balas Amanda akhirnya. Namun, persis seperti Dominic, Sarah seolah tak mau mendengar kalimat penolakan.


"Sudahlah tidak apa-apa, libur sehari tidak akan menjadi masalah. Lagi pula kekasihmu 'kan manager hotel ini," kekeh Sarah seraya menggiring Amanda untuk keluar. "Kita tunggu Dominic bersiap-siap yah, setelah itu kita akan bersenang-senang."


Amanda ingin membantah, tetapi tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Sarah. Mereka berjalan menuju lift untuk sampai di lantai bawah, karena hari ini Sarah ingin menghabiskan waktu dengan putra dan calon menantunya.

__ADS_1


***


__ADS_2