Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 21. Salah Tingkah


__ADS_3

Saat pulang bekerja Amanda berniat untuk memesan taksi, karena dia tidak membawa motor. Namun, ketika dia sudah keluar dari pintu utama, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya.


Gadis itu mengerutkan dahi, lalu berubah dengan mata yang menyipit saat melihat Dominic berada di balik kemudi.


"Masuk!" titah pria itu, seperti biasa dia akan memakai jurus memaksa. Namun, Amanda tak akan langsung patuh begitu saja, apalagi mengingat Dominic adalah bosnya yang super menyebalkan.


"Aku sedang memesan taksi," jawab Amanda, padahal dia belum menekan tanda oke.


"Cancel saja, aku akan mengantarmu." Nada suara Dominic terdengar biasa saja, tetapi tatapan mata pria itu seolah berkata, jangan banyak bicara, segeralah naik!


Amanda terdiam dan menatap penuh curiga. Untuk apa Dominic mengantarnya? Jangan-jangan pria itu ingin melakukan sesuatu setelah tahu tempat tinggalnya. "Cih, aku tidak mau. Aku pulang sendiri saja."


Mendengar itu Dominic langsung menghela nafas kasar. "Bisa tidak langsung patuh pada ucapanku?"


"Tuan, jam kerjaku sudah habis, jadi tidak ada alasan untuk mematuhi perintahmu. Di luar hotel, kita adalah orang lain.Tolong jangan mengaturku!" tegas Amanda, lantas setelah memberanikan diri berbicara seperti itu, dia langsung menyingkir dari hadapan Dominic.


Namun, pria itu tidak menyerah, dia keluar dari mobil dan mengejar Amanda yang sudah melangkah ke sisi jalan. Amanda menunggu beberapa saat, lalu tanpa ba bi bu segera masuk ke dalam taksi, tetapi tanpa diduga Dominic mengikutinya.


"Hei, untuk apa Tuan mengikutiku? Keluar sana!" usir Amanda seraya menggeser tubuhnya.


"Aku sudah bilang, aku ingin mengantarmu. Kalau kamu tidak ingin pakai mobilku, ya sudah, biar aku saja yang ikut naik taksi, tidak masalah 'kan?" jawab pria itu dengan enteng.


Amanda ingin keluar, tetapi Dominic malah menyuruh sang supir untuk jalan. "Sesuai lokasi, Pak!"


Amanda mencengkram kursi dengan kuat. Ingin sekali mengomel karena sikap Dominic yang begitu seenaknya. Namun, karena dia tak ingin membuang-buang tenaga, dia lebih memilih untuk duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan kamu bertemu wanita itu lagi."


Tiba-tiba Dominic berbicara seperti itu saat mereka sudah sampai di pertengahan jalan. Amanda sontak menoleh, tidak penting sekali membicarakan hal seperti itu.


"Itu semua bukan urusanku, Tuan."


"Lalu untuk apa kamu marah-marah seperti tadi?"


Dominic tampak menikmati perjalanan dengan tubuh yang bersandar di kursi dan tangan yang melipat di depan dada.


Amanda menggigit bibir bawahnya, benar-benar tak bisa menebak apa yang ada di dalam otak pria itu. "Aku bukannya marah, tapi aku bosan mendengar dia mengoceh."


"Nah, untuk itu aku tidak ingin membuatmu bertemu lagi dengannya."


"Ya, ya, terserahlah."


Akhirnya Amanda hanya bisa pasrah, karena membalas ucapan Dominic tidak akan ada habisnya. Dominic menyunggingkan senyum tipis, tak berbeda jauh dengan sang supir taksi yang sedari tadi menyimak obrolan mereka berdua.


Saga pulang dari perusahaan setelah Amanda sudah ada di apartemennya. Ingin memastikan bahwa gadis itu sudah ada di dalam, Saga pun memencet bel.


Ting Tong!


Amanda yang saat itu baru saja selesai membersihkan tubuh, lantas keluar dari kamar dengan piyama tidurnya yang berupa dress bunga-bunga.


Ketika pintu terbuka Saga langsung terpaku dengan penampilan Amanda yang menggeraikan rambut panjangnya.

__ADS_1


"Kak Saga," panggil Amanda karena pria yang ada di hadapannya malah membatu dengan tatapan yang nyaris tak berkedip.


Saga langsung tersadar, dan untuk mengendalikan kegugupannya dia menggelengkan kepala beberapa kali.


"Kakak ada perlu apa?" tanya Amanda.


"Eum, aku hanya ingin memastikan kalau kamu sudah pulang. Karena tadi pagi 'kan kamu tidak bawa motor."


Mendengar itu entah kenapa Amanda merasa diperhatikan, sehingga dia langsung mengulum senyum dengan kedua jari yang saling menaut. "Oh, tadi aku pulang naik taksi."


"Syukurlah, itu saja sih yang ingin aku tahu. Kalau begitu masuklah kembali," balas Saga ikut menampakkan senyum.


"Ya, Kakak jangan lupa mandi dan makan malam, terima kasih sudah perhatian padaku."


Sebenarnya Amanda masih betah untuk mengobrol dengan Saga, tetapi otaknya mendadak blank dan tidak bisa diajak berpikir. Hingga akhirnya dia kembali masuk ke dalam apartemennya, tetapi sebelum pintu benar-benar tertutup, Saga kembali memanggilnya.


"Eum, Amanda."


"Ya, Kak."


"Kamu terlihat cocok dengan rambut panjang," ungkap Saga yang membuat dada Amanda berdebar kencang.


Dengan salah tingkah dia menutup pintu dan langsung bersandar di balik benda persegi panjang itu. "Ya Tuhan, apa yang baru saja aku dengar? Dia memujiku? Astaga dia memujiku 'kan?"


Pipi Amanda merah bukan main.

__ADS_1


Ealah 😌😌😌


__ADS_2