
Malam itu Dominic berusaha untuk menjadi sandaran terbaik bagi Amanda. Dia memesan ruangan VVIP dan membiarkan Amanda melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Sambil minum gadis itu juga menangis, merenungi nasib percintaannya yang lagi-lagi gagal dengan orang yang sama.
"Kenapa dia melakukan ini semua padaku? Seharusnya sejak awal dia tidak perlu bersikap baik, cukup abaikan aku supaya aku tidak merasa bahwa aku sedang dicintai, dia terlanjur membuatku salah sangka," rancau Amanda, karena tidak biasa minum dengan beberapa gelas saja sudah cukup membuat dia mabuk.
Gadis itu menelan ludahnya susah payah, karena tenggorokannya terasa tercekat. Dia terdiam, lalu kembali tergugu, "Hiks ... tapi sebenarnya aku yang bodoh, aku yang terlalu tergila-gila padanya. Aku selalu menatapnya sebagai pria dewasa yang mengagumkan, sementara aku tidak memiliki nilai apapun. Di matanya aku bukan siapa-siapa."
Amanda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis itu membuat Dominic yang duduk berseberangan dengannya, merasa cukup sesak. Karena tak ada seorang pun yang sanggup melihat sosok yang dicintainya menangisi orang lain dengan sebegitu hebat.
"Haish, kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana? Tidak mungkin pria mempesona seperti dia jatuh cinta pada bocah sepertiku. Dia lebih suka wanita seperti Kak Donita."
Amanda kembali menandaskan minuman beralkohol yang ada di meja, membuat kepalanya seperti melayang-layang. Tiba-tiba dia tertawa kecil, tapi masih dengan sudut mata yang basah, "Dia bilang dia menjagaku karena Daddy. Haha, ya seharusnya aku menyalahkan Daddy, bukan Kak Saga. Daddy yang mengirim dia ke sisiku. Tapi ... kenapa sikapnya manis sekali, bukankah semua itu berlebihan?"
Pandangan mata Amanda terangkat, lalu melihat ke arah Dominic yang masih setia menemaninya. Sedari tadi tak ada yang pria itu lakukan selain memperhatikan gadis yang disukainya merancau.
"Hei, apa kamu kenal dengan Daddyku?" tanya Amanda tiba-tiba, kini dia mengambil botol dan menenggaknya langsung dari sana. Melihat itu Dominic mendekat, mencoba menghentikan aksi Amanda.
"Stop it! Kamu sudah minum terlalu banyak, Amanda," ujar Dominic dengan tatapan prihatin, sebegitu besarkah cinta Amanda terhadap Saga hingga nekad melakukan ini semua?
__ADS_1
"Aku tanya, kamu kenal Daddyku tidak?" Amanda kembali bersuara setelah menampar pipi Dominic dengan tangannya yang nyaris tak bertenaga.
"Ya, aku kenal," jawab Dominic, mengikuti permainan sang gadis. Namun, tiba-tiba Amanda menarik dasi yang melingkar di lehernya, membuat dia sedikit tercekik.
"Bagus, dia adalah orang yang sangat hebat. Bahkan Kak Sagaku patuh sekali padanya, jadi kamu jangan macam-macam!"
"Kamu yang jangan macam-macam, singkirkan tanganmu!" cetus Dominic, tetapi Amanda justru merasa tertantang. Dia melepas dasi Dominic, tetapi beralih untuk menangkup kedua sisi wajah pria itu.
"Hih, memangnya kamu siapa? Kenapa kamu berani memerintahku seperti bos gilaku di tempat magang?"
Amanda memperhatikan wajah Dominic dengan seksama. Bahkan tangan langsing itu sampai merabaa pipi Dominic yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Kamu Domba Tua yang menyebalkan itu? Heh, kenapa kamu ada di sini? Kamu mengikutiku ya?"
Karena otaknya yang tak bisa dikendalikan dengan baik, dia pun bersikap seenaknya. Dia semakin mendekat ke arah Dominic, "Ah aku tahu. Akhir-akhir ini kamu perhatian sekali padaku, jangan-jangan kamu mulai menyukaiku? Kamu menyukaiku 'kan?"
Amanda merancau ke mana-mana, sementara Dominic memilih untuk diam, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
"Kenapa diam saja? Ayo katakan kalau kamu menyukaiku, jangan memberiku harapan palsu!" tuntut Amanda setengah berteriak.
__ADS_1
Tak kunjung mendapat jawaban, tiba-tiba Amanda naik ke atas tubuh Dominic, membuat pria itu merasa terperangah. "Apakah seperti ini sikap seorang pria? Hah, apakah harus selalu wanita yang memulainya? Kenapa kalian seperti bancii?" cibir Amanda dengan netranya yang semakin sayu.
"Apa maksudmu? Turun!" titah Dominic seraya meraih tangan Amanda yang mencengkram kecil dadanya. Dia mulai ketar-ketir, karena sepertinya alkohol semakin merusak kinerja otak Amanda.
Amanda menggelengkan kepala, "Kali ini biarkan aku membuatmu mengaku. Jangan halangi aku!"
Belum sempat Dominic mencerna ucapan Amanda. Bibirnya sudah dibungkam lebih dulu, sebuah sapuan lembut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Amanda, sang amatiran terus berusaha melumaat bibir Dominic, sementara pria itu mematung seperti tak tahu harus berbuat apa.
Hingga Amanda yang bekerja sendiri, meski belum terlalu ahli tetapi hal tersebut sukses membuat hasrat Dominic bangkit. Tubuh yang semula kaku bagai patung, kini bergerak sesuai keinginan naluri. Dominic membalas tiap decap yang Amanda ciptakan, hingga mereka saling melumaat dan menghisap bibir satu sama lain.
"Katakan kamu menyukaiku!" lirih Amanda saat pertautan itu terlepas, dengan nafas yang terengah-engah Dominic menatap wajah Amanda yang memerah. Dia menyingkirkan tiap anak rambut yang menjuntai menutupi wajah gadis itu.
Tanpa berkata dia kembali menarik tengkuk Amanda, melabuhkan ciuman dalam untuk menyiratkan semua perasaannya. Karena tak ada gunanya menjawab, sebab kesadaran Amanda berada di awang-awang.
***
Tebak-tebakan part selanjutnya π
__ADS_1