Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 32. Memastikan


__ADS_3

Amanda nampak terperangah saat mobil Dominic tiba-tiba masuk ke area kafe yang terkenal di ibu kota. Karena ternyata pria itu berencana untuk mengajak Amanda makan terlebih dahulu sebelum benar-benar pulang ke apartemen.


Dan kali ini Amanda tidak membantah, sudah cukup mulutnya merutuk dan menggeram karena sikap Dominic yang selalu seenaknya. Gadis itu turun dari mobil dan mengekor pada Dominic yang memimpin langkah.


Di ambang pintu mereka sudah disambut oleh para pelayan. Namun, seperti sudah dipesan, mereka langsung dibimbing untuk naik ke rooftop.


Di atas sana Amanda bisa melihat hiruk pikuknya ibu kota, tak hanya itu saat senja telah datang maka ia bisa menikmati langit yang berwarna jingga.


"Kenapa di sini sepi? Padahal pemandangannya bagus," tanya Amanda, karena tak ada satu orang pun di sekeliling mereka. Dia ingin memastikan bahwa Dominic tidak benar-benar menyewa tempat ini hanya untuk mereka berdua.


Sebelum menjawab Dominic lebih dulu menarik kursi untuk Amanda, lalu membiarkan gadis itu duduk. Sebuah perlakuan manis yang membuat mulut Amanda terkunci rapat.


"Jangan mempertanyakan sesuatu yang tidak penting," balas Dominic, suaranya terdengar tenang, tapi sukses membuat Amanda menautkan kedua alisnya. Sikap Dominic hari ini benar-benar di luar nalar, apakah pria ini sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjainya?


Ya, entah kenapa di otak Amanda selalu ada pikiran-pikiran buruk tentang Dominic. Karena sudah tak terhitung, berapa kali pria itu membuat dirinya menahan amarah dan kekesalan.


Namun, karena tak ingin berdebat akhirnya Amanda tak lagi bersuara, detik berikutnya dia lebih memilih untuk membolak-balik buku menu. Kebetulan dia sedang lapar sekali, jadi dia memesan beberapa makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


Bahkan dia tak melupakan Saga, dia berpesan pada pelayan agar membungkuskan makanan untuk dibawa pulang.

__ADS_1


"Untuk siapa?" tanya Dominic dengan rasa penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas karena kamu yang membawaku ke sini, maka dari itu aku tidak akan bayar, aku anggap kamu sedang mentraktirku," ujar Amanda yang membuat Dominic menaikkan satu alisnya.


"Kamu ini minta ditraktir atau ingin merampokku?" tanya Dominic, karena dia tahu jelas berapa banyak pesanan Amanda.


"Salahmu sendiri membawaku ke sini, pakai menyewa tempat segala," jawab Amanda, lebih terdengar seperti gerutuan. Akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya, dia merasa senang karena seperti sedang diistimewakan.


Dominic hanya geleng-geleng kepala. Sambil menunggu pesanan datang, Amanda melihat-lihat pemandangan sekitar, bahkan beberapa kali dia memotret dirinya sendiri, membuat sudut bibir Dominic berkedut.


"Dari atas semuanya terlihat jauh lebih indah," ungkap Amanda seraya menikmati semilir angin yang menerbangkan beberapa anak rambutnya.


"Apa katamu? Siapa yang norak?"


"Aku tidak bicara apa-apa," elak Dominic. Amanda melangkah ke arahnya dengan picingan tajam. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan selain mendesaahkan nafas kasar, karena percuma saja meladeni cibiran Dominic, pria itu justru akan suka kalau dia marah-marah.


Akhirnya Amanda kembali duduk, karena pesanan mereka sudah datang satu persatu. Seolah tak dapat menahan rasa laparnya, Amanda langsung menyambar makanan yang sudah terhidang di atas meja. Gadis itu makan dengan lahap, tak peduli meski Dominic terus menatap wajahnya.


"Hei, pelan-pelan saja, aku tidak akan memintanya," seru Dominic.

__ADS_1


"Aku lapar," timpal Amanda dengan mulut yang penuh oleh makanan. Wajah menggemaskan itu membuat Dominic tak bisa berpaling, tetapi dengan cepat Amanda mengibaskan tangan.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Saat itu juga Dominic langsung tersadar. Dia sedikit gelagapan karena sudah tertangkap basah.


Karena pria itu tak menjawab, Amanda pun mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan sesuatu. Sebab ada hal yang ingin dia pastikan, yaitu tentang hubungan Dominic dengan Donita. Padahal Saga yang notabenenya mantan kekasih Donita saja tidak merasa penasaran, sementara dia yang bukan siapa-siapa malah jadi kepikiran.


"Kamu kenal dengan wanita ini? Kamu menemuinya kemarin 'kan?" tanya Amanda tanpa basa-basi seraya menunjukkan foto Donita dan seorang pria yang sedang membelakangi kamera. Pria yang ia duga adalah Dominic.


Dominic terdiam sesaat untuk memperhatikan layar ponsel milik Amanda, lalu dia melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat Amanda tersedak.


"Kalau itu aku, apakah kamu akan cemburu?"


Uhuk!


***


Nasgor, nuget, baso, es campurnya keluar lagi😌😌

__ADS_1


__ADS_2