
Dominic mengantarkan sang calon mertua sampai di perusahaan Tan Group. Tanpa berbasa-basi lagi mereka langsung berpisah, dan Aneeq naik ke atas ruangannya.
Dia duduk di ruangannya, mencoba mencari cara untuk mendukung rencana Dominic. Karena sudah pasti pria dengan minim kepekaan itu sulit untuk memecahkan hati sang anak.
Hingga tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja. Kemarin dia mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Saga ada di ibu kota dan sempat menginap di iLuva Hotels, yang artinya Saga masih berusaha untuk menemui Amanda.
"Baiklah, mari kita susun rencana dengan semaksimal mungkin," gumam Aneeq sambil merogoh ponselnya. Kemudian mencari nama Saga di kontaknya.
Masih memakai nomor yang dulu, panggilan pun akhirnya terhubung. Tanpa menunggu lama Aneeq sudah mendapat sebuah balasan. Karena Saga tidak mungkin berani mengabaikan panggilannya.
"Halo, Tuan, apakah ada sesuatu yang ingin anda katakan?" sapa Saga dengan suara sedikit terbata. Karena ia tahu Aneeq pasti tahu kalau ia menemui Amanda.
"Tepat sekali. Kamu ada di ibu kota 'kan sekarang?" ujar Aneeq tepat sasaran, dan tentunya hal tersebut membuat Saga semakin gelagapan. Dia takut Aneeq akan kembali memberinya hukuman.
"Benar, Tuan," jawab Saga pasrah. Padahal hari ini dia sudah bersiap-siap untuk pulang, tetapi sepertinya niat Saga tidak akan terlaksana.
__ADS_1
"Bagus, kalau begitu tidak usah kembali. Tetap di sini sampai beberapa hari ke depan, karena aku membutuhkan bantuanmu. Kalau kamu berhasil menyelesaikan tugas, aku akan mengizinkanmu kembali menjadi asisten Ziel," jelas Aneeq tanpa ragu. Dan tentunya semua itu membuat mata Saga terbelalak, sementara otaknya berpikir apa kiranya tugas yang akan diberikan oleh Aneeq.
"Tugas apa itu, Tuan?" tanya Saga setelah mengumpulkan keberanian.
Aneeq pun menjelaskan rencana yang sudah dia susun untuk menyatukan Amanda dan Dominic. Dia meminta tolong pada Saga, untuk mengetahui isi hati putrinya. Benar-benar sudah ada nama Dominic, atau justru masih nama Saga yang bersemayam di dalam sana.
"Baik, Tuan, saya akan melakukannya dengan baik," ujar Saga dengan perasaan yang entahlah. Dia senang, karena dapat kembali, dan bisa melihat Amanda berdampingan dengan pria yang tepat. Ya, dia pun yakin bahwa Dominic adalah pria yang baik.
Setelah panggilan dengan Saga terputus, ada seseorang yang mengetuk ruangannya. Aneeq langsung menyuruhnya masuk, dan ternyata ada seorang resepsionis serta wanita paruh baya di belakangnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Sarah.
"Hah, calon besan, apa kabar?" tanyanya dengan gaya heboh. Membuat Aneeq merasa pusing.
***
Dominic benar-benar mengikuti arahan dari Aneeq untuk tidak memedulikan Amanda. Padahal sejujurnya dia tidak bisa melihat gadis itu merasa sedih. Setiap kali Amanda tak menatapnya, dia selalu mencuri-curi pandang, tetapi sebisa mungkin ia melakukannya tanpa ketahuan.
__ADS_1
Bahkan saat ia membuat Amanda menangis, dia langsung frustasi sendiri dan beberapa kali mengadu pada Lucas.
"Bagaimana ini, Lu? Dia menangis karena aku. Seharusnya aku tidak diam saja 'kan?" ujar Dominic saat sudah di dalam mobil. Padahal dia pamit pada Amanda untuk menemui klien penting, tetapi nyatanya dia hanya duduk di basemen. Seolah pindah ruangan, dia mengerjakan pekerjaannya di sana.
"Sudahlah, Tuan, dengarkan saja apa kata ayah gadis itu. Saya yakin Nona Amanda memang sudah menyukai Anda, kalau tidak, tidak mungkin dia menangis," jawab Lucas, tetapi nyatanya semua itu tak berhasil membuat hati Dominic merasa tenang.
Dia mengacak-acak rambut, sementara pikirannya penuh dengan bayangan wajah Amanda. Hingga tiba di malam itu, di mana sebuah kejutan kecil tercipta untuk Amanda.
Sebenarnya Dominic sudah ada di sana sejak Amanda pertama kali duduk. Namun, dia memilih untuk bersembunyi bersama Sarah dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Hingga tiba-tiba Amanda menolak Saga dengan lantang, lalu memilih untuk pergi dari meja makan. Hati Dominic mendadak berbunga, dadanya berdebar tak menentu karena yakin Amanda hendak menemuinya.
Tepat, seperti harapannya. Saat ia menghadang mobil Amanda, gadis itu langsung keluar dan memeluknya.
Akhirnya kamu jatuh juga.
__ADS_1