Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 68. Kita Bersihkan Bersama


__ADS_3

Hari ini hari yang buruk bagi Aneeq, karena sampai kembali ke mansion wajahnya senantiasa tertekuk, dan hal tersebut tentunya membuat seorang Jennie bertanya-tanya, karena tidak biasanya sang suami pulang dalam keadaan seperti itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jennie saat Aneeq baru saja masuk ke dalam kamar. Pria itu membuka dasi dengan gerakan kasar lalu menghela nafas panjang.


"Calon besanmu itu menyebalkan sekali, tidak anak tidak ibunya sama saja, suka membuatku pusing. Bagaimana nasibku nanti kalau sampai Amanda jadi dengan putranya?" cerocos Aneeq dengan tatapan sebal.


Namun, tak lekas menimpali Jennie justru mengerutkan keningnya, mencari tahu siapa yang suaminya maksud.


"Maksudmu Nyonya Sarah?" tanya Jennie memastikan.


Aneeq melempar jas ke atas ranjang dengan gerakan malas. "Ya, siapa lagi, Dear?"


"Memangnya kenapa dia?"


"Kemarin dia menyogokku dengan makanan yang sangat banyak. Dan pagi tadi, astaga aku tidak habis pikir dia mendapat ide dari mana, dia mengirim wanita jadi-jadian ke kantor untuk menggoda aku dan Caka," jelas Aneeq menggebu-gebu seraya menggelengkan kepalanya, mengingat kejadian tadi pagi yang begitu menggelikan. "Cih, memangnya aku sudah tidak normal apa?" Sambungnya mengomel.


Mendengar itu, bukannya prihatin Jennie justru menyunggingkan senyum tipis, entah apa yang ada di pikirannya sehingga membuat Aneeq pun merasa heran.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu.


"Makanya kamu jangan terlalu galak begitu sama calon menantu. Nyonya Sarah itu sebenarnya baik kok, An. Kamunya saja yang suka menyiksa Dominic, jadi Nyonya Sarah juga ikut-ikutan," jawab Jennie sambil memeluk lengan suaminya. Dia cukup mengenal siapa Sarah, jadi dia tahu bagaimana sifat wanita itu.


Bukannya senang bisa berbagi cerita, Aneeq malah bertambah kesal karena Jennie tak membelanya.


"Sayang, aku tidak menyiksa dia, aku hanya ingin mengetes pria yang akan menikahi putri kita. Itu juga demi kebaikan Amanda," balas Aneeq kembali berseru.


"Iya aku mengerti, tapi jangan salahkan Nyonya Sarah juga, dia seperti itu kan demi putranya. Dia ingin kamu menerima Dominic," timpal Jennie dengan suara tenang.


"Tapi, Jen," rengek Aneeq seperti balita.


"Stop! Aku sudah siapkan air hangat untukmu, sekarang lebih baik kamu mandi dan jernihkan pikiranmu," tukas Jennie seraya melepaskan pelukannya dari tangan Aneeq, dia sedikit mendorong sang pria agar lekas masuk ke kamar mandi.


Cup!


"Aku akan memasak makan malam, dan setelah itu kamu boleh memakanku," sambung Jennie dengan kedipan nakal untuk menggoda suaminya.


Aneeq yang ingin marah langsung tekendali begitu saja. Hingga akhirnya dia hanya bisa menghela nafas sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Lihat saja besok, masih ada 5 hari untuk membalas dendam!" gumam Aneeq dengan tersenyum kecut.


***


Masih bekerja di shift dua, Amanda selalu berangkat tepat waktu dan mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Seperti saat ini, sebelum pulang hotel tiba-tiba disibukan oleh para pengunjung yang datang rombongan, semua orang melakukan tugas masing-masing, tapi tidak dengan Amanda yang ditugaskan untuk mengepel lorong-lorong hotel padahal biasanya dia mengerjakan bagian kamar.


"Amanda, kamu diminta untuk membersihkan lorong-lorong hotel," ucap Lara yang kebetulan masih satu shift dengannya.


"Oh baiklah, aku akan kerjakan sekarang," jawab Amanda dengan cepat.


Lara langsung menganggukkan kepala dan pamit untuk pergi, karena dia terlihat sedang terburu-buru. Sementara Amanda lekas mengambil alat kebersihan, dia sempat melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, itu artinya sebentar lagi shift nya habis.


Namun, sebagai pekerja profesional dia tetap menggunakan waktu dengan sebaik mungkin.


Karena cukup singkat, Amanda pun bergerak dengan gesit, hingga memicu banyaknya keringat yang mengucur dari tubuhnya. Dan pemandangan itu disaksikan langsung oleh Dominic yang sengaja menempatkan Amanda berbeda dari yang lain.


Hap!


Amanda terkejut bukan main saat ada seseorang yang mengambil alih gagang pel dari tangannya. Dia memutar badan dan melihat Dominic sudah berdiri di sampingnya.


"Biar aku membantumu," jawab Dominic dengan wajah datar.


"Hih, tidak perlu, kamu ini Bos, jadi tidak perlu membantu karyawan seperti aku. Lagi pula nanti kelihatan sama yang lain, jangan sampai mereka berpikir yang tidak-tidak," cetus Amanda.


"Aku tidak peduli, karena kita memang pernah melakukan yang tidak-tidak," jawab Dominic masa bodo.


Sontak saja hal tersebut membuat mata Amanda mendelik, "Hei, jaga ucapanmu itu, kalau ada yang dengar bagaimana?"


"Aku bilang aku tidak peduli, aku hanya ingin membantu calon istriku, itu saja."


Deg!


Jantung Amanda langsung meletus mendengar ucapan frontal dari mulut Dominic. Dia hampir saja terhuyung, tetapi ternyata kakinya masih mampu menumpu berat badannya.


"Kamu ini semakin ngawur, kamu pasti sudah kemasukan jin!" sewot Amanda, masih berusaha mengambil pel-an yang dipegang erat oleh Dominic.


"Aku justru ingin memasuki dirimu," timpal Dominic dengan senyum ambigu yang membuat Amanda semakin merinding, dia merasa bahwa yang ada di hadapannya ini bukan Dominic.

__ADS_1


Amanda sedikit mundur, apalagi saat melihat tatapan Dominic yang tidak biasa. Sementara pria itu mulai menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, membuatnya terlihat semakin tampan, detik selanjutnya Dominic benar-benar mengepel, tetapi karena hal tersebut adalah pekerjaan yang pertama kali dia lakukan.


Dominic melakukannya dengan salah, bukannya berjalan mundur, dia justru mengepel ke depan. Alhasil pekerjaannya tak kunjung selesai, dia terus merasa heran karena tapak kakinya justru ada di mana-mana.


"Haish, kenapa dari tadi tidak bersih-bersih? Bukankah aku melakukannya dengan benar?" gumam Dominic sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sementara itu Amanda hanya bisa tersenyum-senyum melihat kelakuan Dominic. Dia melipat bibir ke dalam karena merasa lucu sekaligus gemas.


"Hah, sudah aku bilang biar aku saja yang melakukannya. Pakai sok-sokan segala," cibir Amanda, membuat Dominic merasa malu.


"Aku bisa, hanya saja lantainya yang susah bersih," kilah Dominic.


"Kamu kan yang punya hotel, harusnya kamu tahu kwalitas bangunin ini termasuk lantainya."


"Hotel ini sudah ada sebelum aku lahir!" Masih kekeuh tak ingin kalah dari Amanda.


Mendengar itu, Amanda berdecak keras, "Ck, bilang saja kamu tidak bisa mengepel. Begitu saja repot sekali. Sini biar aku saja, sebentar lagi aku harus pulang jadi jangan mengganggu pekerjaanku, Bos Rese!"


Amanda merebut paksa gagang pel itu, tetapi Dominic masih juga ingin mempertahankannya.


"Aku bilang jangan menggangguku!" cetus Amanda.


"Aku hanya ingin membantu, bukan mengganggu!"


"Tapi apa yang kamu lakukan itu justru sebaliknya!"


Karena terlalu banyak berdebat akhirnya Dominic menumpahkan air yang ada di dalam ember, membuat mata Amanda melebar seketika.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" ketusnya merasa gemas sendiri. Namun, Dominic justru tersenyum lebar.


"Kita bersihkan bersama," jawabnya tanpa dosa.


"Oh my God, aku bersumpah aku tidak akan kasihan padamu lagi saat dikerjai Daddy!" batin Amanda dengan perasaan geram di dadanya.


***


Hola apa kabar Readeranu? Masih setia nunggu Domdom dan Maman kah🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2