
Sarah beranjak naik ke atas ruangan Dominic. Sementara Donita memilih untuk tetap tinggal di lantai bawah. Saat semua orang membubarkan diri, Donita secara sengaja memanggil Amanda, karena dia ingin mengajak gadis itu bicara.
"Amanda!" panggil Donita hampir saja menyentuh lengan Amanda. Akan tetapi gadis itu lebih dulu menoleh. Amanda menunjukkan raut datar. Sebab masih terngiang jelas dalam ingatannya saat Saga mencium Donita dengan mesra.
Namun, secepat mungkin Amanda menepis memori kelam itu. Dia tidak ingin terus-menerus berpijak pada masa lalu. Dia telah berusaha menata hati, jadi dia harus melangkah lebih jauh dari ini.
"Ada apa?" tanya Amanda masih dengan respon yang sama.
"Aku ingin meminta waktumu sebentar," ujar Donita dengan tatapan sendu. Tidak ada kilatan rasa ingin menyaingi seperti dulu.
"Aku sedang bekerja. Jadi, maaf, aku tidak bisa meladeni kamu," jawab Amanda apa adanya.
"Tapi aku sudah meminta izin pada Mommy Sarah. Dan beliau mengizinkan." Kali ini Donita terlihat serius, lagi pula apa yang Amanda takut kan? Di sini banyak orang, jadi Donita tidak mungkin berbuat macam-macam.
__ADS_1
Akhirnya gadis itu pun mengangguk. Mereka pergi untuk mencari tempat duduk. Dan di sinilah mereka sekarang, di sebuah taman kecil yang masih menjadi bagian iLuva Hotels.
Suasana canggung benar-benar tercipta. Karena baik Amanda dan Donita masih bungkam satu sama lain. Namun, karena tak ingin membuang waktu, Donita segera angkat bicara. "Aku minta maaf untuk masalah kemarin. Aku akui tindakanku benar-benar memalukan."
"Yang mana?" tanya Amanda, yang membuat Donita melihat ke arahnya.
"Semuanya, saat aku mencegatmu di tengah jalan, juga malam itu. Aku akui, aku sempat memiliki pikiran untuk membuat kamu cemburu. Karena sebagai sesama wanita, aku sadar kamu juga menyukai Saga. Tapi ternyata, apa yang aku lakukan itu sangat jahat. Aku hanya memikirkan kepuasanku sendiri, tanpa tahu bagaimana hancurnya hatimu saat itu. Dan semua itu aku ulangi, meski secara tidak sengaja, tapi aku berhasil mematahkan hati Saga untuk yang kedua kalinya," tutur Donita sambil membiarkan air matanya melaju membasahi pipi.
Dia menarik nafas, karena tenggorokannya terasa tercekat untuk melanjutkan.
Namun, yang dia terima justru sebuah gelengan kepala. "Aku dan dia sepakat berpisah."
Mendengar itu tentu saja mata Amanda langsung terbelalak lebar. "Berpisah?"
__ADS_1
"Iya, semakin hari aku semakin sadar bahwa mempertahankan Saga, sama saja membunuhnya secara perlahan. Karena hubungan kami akan selalu dihantui kesalahanku yang fatal. Aku sudah membuatnya terluka parah dua kali. Padahal dia adalah orang yang paling mengerti bagaimana diriku, dia adalah pria paling baik, paling perhatian. Dan saking baiknya, aku memanfaatkan itu semua untuk kepuasanku sendiri ...."
Donita menghentikan ceritanya, dia semakin menangis tersedu-sedu, mengingat betapa beratnya melepas Saga dari hidupnya. Namun, demi kebahagiaan pria itu, dia rela melakukannya.
"Makanya aku berharap, di kehidupannya yang baru. Dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik," sambung Donita sambil menatap Amanda. Mereka saling pandang untuk sesaat, kemudian Donita meraih tangan Amanda. "Aku memang sangat mencintai Saga. Tapi aku rasa puncak rasa cintaku adalah mengikhlaskannya dengan yang lain."
"Apa maksudnya? Kamu ingin memberikan dia padaku, setelah kamu menyia-nyiakannya?" tanya Amanda seraya menarik tangannya dari genggaman Donita.
"Hei, tidak ada orang pintar yang menyia-nyiakan bongkahan berlian. Aku akui, aku yang bodoh. Di sini aku hanya ingin minta maaf, dan tidak ingin kamu salah paham dengan Saga. Saga adalah orang baik, dia pria yang bertanggung jawab. Sama seperti Dominic. Tapi kamu harus tahu baru kali ini dia berjuang keras hanya untuk mendapatkan seorang wanita. Dia telah hidup bersama ibunya selama 30 tahun, dan kamu adalah wanita kedua yang dicintainya setelah Mommy Sarah," jelas Donita sebagai saksi dari kedua pria yang kebetulan ada dalam hidupnya.
"Kamu jangan salah paham, aku tidak meminta kamu untuk memilih salah satu. Kamu berhak menentukan pilihan. Tapi aku minta, setelah kamu berkomitmen dengan seorang pria, jangan pernah sia-siakan dia. Karena itu sangat fatal," sambungnya lagi semakin membuat pikiran Amanda melambung ke mana-mana.
Masih antara Saga dan Dominic. Dia harus menjatuhkan pilihannya ke mana? Orang pertama? Atau justru orang yang datang setelahnya.
__ADS_1
@@@
Komen+like dong, biar gue semangat nulisnya, katanya pada nungguin😮💨😮💨