Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 81. Patah


__ADS_3

Amanda tiba di mansion saat sore hari. Begitu mobil berhenti dia langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Langkahnya yang begitu lebar mencuri perhatian Gloria yang saat itu sudah pulang lebih dulu.


"Man!" panggil Gloria berteriak, tetapi sang empunya nama tidak menoleh sedikit pun. Bahkan terkesan berlari hingga gadis itu sampai di kamarnya.


"Man, kamu kenapa?" tanya Gloria yang saat itu mengejar Amanda. Terlihat jelas bahwa sang keponakan sedang menangis. Itu terbukti dari mata dan hidung Amanda yang memerah. Namun, gadis itu masih saja berusaha untuk menyembunyikannya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Amanda singkat, tetapi Gloria tidak merasa puas.


"Man, jangan bohong!"


"Aku hanya butuh waktu untuk sendiri," ujar Amanda dengan suara sumbang. Rasanya dia sudah tak tahan lagi untuk menumpahkan semuanya. Tanpa menunggu balasan Gloria, Amanda segera menutup pintu kamarnya, dia melemparkan tas dengan asal lalu membawa dirinya ke kamar mandi.


Di bawah guyuran shower, tangis Amanda pecah begitu saja. Dia sengaja melakukan itu semua, agar tak ada satu pun orang yang tahu kalau dia sedang merasa terluka.


"Sebenarnya apa yang aku tangisi? Bukankah semua ucapan dia benar? Dari kemarin aku selalu mengelak bahwa aku tidak menyukainya. Aku juga tidak ingin berhubungan dengan dia. Lalu kenapa sekarang hatiku malah sakit? Kenapa?" tanya Amanda pada dirinya sendiri. Dia tergugu dengan tubuh yang terduduk lemas di atas lantai.

__ADS_1


"Harusnya aku senang, harusnya aku tidak peduli, harusnya aku berhenti memikirkannya. Bukan malah seperti ini!"


Amanda menulusupkan ke sepuluh jarinya pada rambutnya yang mulai basah. Seperti tengah merasakan patah hati hebat, perasaannya benar-benar hancur sekarang. Apalagi mengingat Dominic yang pergi begitu saja tanpa memedulikannya.


"Apakah aku terlihat jahat sekarang karena membiarkan kamu berjuang sendirian?"


"Tidak!" Teriak Amanda menjawab pertanyaannya sendiri. "Harusnya kamu dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Harusnya kamu tidak menyerah, kamu tidak boleh menyerah begitu saja pada Daddy." Sambungnya dengan bibir yang bergetar hebat. Dia kembali terisak-isak dengan wajah yang ia tutup dengan kedua tangan.


Amanda terus seperti itu sampai dia benar-benar puas. Dia meluapkan emosinya yang sudah tertahan selama ia bekerja. Di tempat ini, ia bebas melakukan apapun. Karena tak ada satu pun orang melihatnya.


Bahkan karenanya ia melewatkan makan malam. Dia sama sekali tak keluar dari kamar, atau ribuan tanya akan ia dapatkan dari keluarganya. Terlebih dari Aneeq dan Jennie.


Setelah membuka kunci dan membiarkan Jennie masuk, Amanda kembali berbaring di atas ranjang dan menyembunyikan wajahnya di antara selimut dan bantal. Sementara tatapan gadis itu lurus ke arah jendela yang terbuka sebagian.


"Sayang, kamu belum siap-siap? Atau kamu memang masuk shift dua?" tanya Jennie pelan-pelan seraya mengelus puncak kepala putrinya yang menyembul sedikit.

__ADS_1


"Hari ini aku tidak masuk kerja, Mom. Aku izin sehari," jawab Amanda dengan suara parau. Tentu hal tersebut membuat Jennie mengerutkan dahinya.


"Kamu sakit, Sayang?" Mulai memeriksa kening Amanda, tetapi suhu tubuh putrinya terasa normal.


"Hanya pusing sedikit, Mom. Mungkin tubuhku butuh waktu istirahat yang lebih lama, karena selama ini kan aku sudah bekerja keras."


"Apakah Mommy perlu memanggilkan Uncle Derrick?" tanya Jennie, berniat untuk menelpon kembaran suaminya yang berprofesi sebagai dokter.


Amanda menggeleng lemah.


Uncle De hanya bisa menyembuhkan penyakit, bukan hatiku. Batin Amanda.


Jennie menghela nafas berat. "Ya sudah nanti Mommy antarkan sarapan dan obat sakit kepala ya."


"Thank you, Mom," jawab Amanda, Jennie mengusap puncak kepala Amanda sekilas, kemudian beranjak pergi. Namun, sebelum wanita itu keluar dari kamar Amanda, gadis itu kembali berseru. "Mom, cukup katakan pada Daddy bahwa aku baik-baik saja." Dia berkata seperti itu karena tak ingin Aneeq khawatir padanya.

__ADS_1


"Iya, Sayang."


Jennie tak membantah, karena tahu sang anak belum mau berbagi cerita dengannya. Dan ia tidak mau memperkeruh keadaan.


__ADS_2