
Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit, Dominic pun merasa cukup bosan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Pagi itu, dengan wajahnya yang masih babak belur, Dominic berencana untuk pergi ke mansion keluarga Tan, yakni memenuhi permintaan Aneeq untuk menjelaskan kejadian malam itu.
"Dom, bagaimana kalau Mommy ikut?" tanya Sarah yang sampai saat ini belum tahu apa duduk masalahnya.
"Tidak perlu, Mom, karena aku pergi juga bukan untuk main-main. Aku ingin bertemu dengan Tuan Aneeq dan menceritakan semuanya. Dan satu lagi aku ingin memperjelas hubunganku dengan Amanda," jawab Dominic. Kini mereka sedang berjalan di lorong rumah sakit menuju parkiran.
Sarah menghela nafas panjang, "Ya sudah, tapi lain kali ajak Mommy ya, karena Mommy ingin menunjukkan pada keluarga Amanda, bahwa Mommy adalah mertua yang baik."
Dominic terlihat sedikit ragu, karena dia pun sebenarnya tidak yakin rencananya akan berhasil. Karena yang dia hadapi sekarang bukanlah orang biasa, salah sedikit bisa-bisa dia ditendang secara cuma-cuma.
Akhirnya di parkiran Dominic dan Sarah berpisah. Sarah dialihkan ke taksi, sementara pria itu membawa mobil milik ibunya untuk sampai di rumah Amanda.
Butuh waktu satu jam lebih untuk tiba di depan bangunan megah bercat putih itu. Namun, Dominic tak langsung masuk, dia lebih memilih untuk menepikan mobilnya di sisi jalan, lalu menatap takjub mansion milik keluarga Amanda.
Ada beberapa penjaga berseragam hitam di sekitar gerbang. Sementara di dalam sana, 3 kendaraan roda empat sedang dipanasi, membuat Dominic merasa ciut, karena sepertinya orang-orang yang tinggal di sana cukup banyak.
"Haish, jangan jadi pengecut, Dom. Kalau kamu tidak memberanikan diri untuk menemui Tuan Aneeq, lalu sampai kapan kamu menggantung hubungan dengan Amanda? Lagi pula ini kesempatan bagus. Believe in yourself, you can do it!" gumam Dominic menyemangati dirinya sendiri.
Namun, tak bisa dipungkiri saat mesin mobil kembali dia nyalakan. Jantungnya malah deg-degan. "Hei, jangan meledekku! Aku tidak secemen itu!" cetus Dominic pada jantungnya sendiri. Ingin menghentikan kegugupan yang tiba-tiba menyapa.
Dia kembali menghela nafas kasar, lalu memutar stir untuk sampai di depan gerbang. Wajah Dominic yang masih dipenuhi luka sedikit pias.
Dan dia tidak bisa mundur lagi, karena tiba-tiba seorang penjaga menghampirinya dan mengetuk kaca mobil.
__ADS_1
Mau tidak mau Dominic pun menurunkan kaca mobilnya dan berusaha untuk tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Tuan, ada perlu apa?" tanya penjaga tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Aneeq, Pak. Apakah beliau ada di rumah?" jawab Dominic sekaligus melayangkan sebuah pertanyaan.
"Tuan Aneeq ada. Sebentar saya lapor dulu ya, kalau memang beliau bersedia ditemui, nanti saya ke sini lagi. Oh iya dengan Tuan siapa?"
"Dom—Dom—Dominic," jawab Dominic dengan suara terbata.
"Baik, saya tinggal dulu, Tuan Dominic."
Dominic langsung mengangguk, dan sang penjaga langsung melenggang masuk. Kebetulan saat itu Aneeq dan anggota keluarganya sedang sarapan pagi.
"Ada apa?" tanya Aneeq to the point.
"Di luar ada Tuan Dominic, katanya ingin bertemu dengan anda," jawab penjaga itu dengan suara yang nyaris berbisik. Namun, masih terdengar jelas di telinga Aneeq.
Aneeq sedikit mengerutkan keningnya, bukankah Dominic masih di rumah sakit? Ternyata pria itu memiliki keberanian juga untuk datang menemuinya.
"Suruh dia masuk dan tunggu saya selesai sarapan," jawab Aneeq tak kalah berbisik.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Setelah kepergian penjaga, semua orang yang ada di meja makan pun jadi bertanya-tanya. Apalagi Amanda, karena sepertinya pembicaraan itu serius sekali.
"Ada masalah apa, An?" tanya Ken, ayah pria itu.
"Ada tamu, Dad, aku akan menemuinya sebentar lagi," jawab Aneeq seraya melirik Amanda sekilas. Membuat gadis itu jadi salah tingkah.
Ken langsung manggut-manggut dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sementara itu, Dominic yang disuruh menunggu di ruang tamu, terus merasakan jantungnya yang berdebar keras.
Dia melihat sekeliling, semua yang ada di mansion ini terlihat sangat mewah dan mahal tentunya. Dia benar-benar tak habis pikir, dengan semua ini kenapa Amanda malah memilih menjadi seorang houskeeper?
"Hah, dia memang sedikit gila. Dan aku lebih gila karena menyukainya," gumam Dominic, lalu dia dikejutkan dengan kedatangan Mira, kepala pelayan di mansion tersebut.
"Silahkan dinikmati, Tuan, selagi Anda menunggu Tuan Aneeq datang," ujar Mira setelah meletakkan sandwich dan juga jus jeruk.
Dominic tersenyum tipis dan mengangguk sekilas untuk menghargai apa yang sudah dilakukan oleh Mira. Karena jangankan untuk makan atau minum, menelan ludah saja rasanya sangat sulit.
Apalagi tiba saatnya Aneeq datang dengan wajah datar dan tatapannya yang selalu nyalang.
"Ehem!" Aneeq berdehem keras, membuat Dominic gelagapan. Dia mengangkat kepala dan melihat ayah dari gadis pujaannya berjalan dengan penuh wibawa.
Haish, kenapa aku malah merinding. Batin Dominic merasakan bulu-bulu halus di tengkuknya meremang.
***
__ADS_1