
"Badjingan kau!" umpat Aneeq dengan lantang seraya melayangkan tangan untuk menghajar Dominic. Serangan membabi buta itu membuat Dominic tak bisa mengelak sedikit pun, hingga dia harus merelakkan wajahnya babak belur.
Namun, ada yang lebih mengejutkan, karena ternyata orang yang menghajarnya adalah ayah Amanda sendiri. Jadi, meskipun ia memiliki kesempatan untuk memukul balik, rasanya tidak mungkin ia lakukan.
Ya, dia telah berhadapan dengan orang yang salah. Ketidakhati-hatiannya membuat dia harus menemui bencana, bahkan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah dia akan selamat di tangan Aneeq?
Tak hanya Dominic yang merasa terkejut, tetapi juga dengan Amanda. Dia menutup mulutnya yang menganga, tak menduga kalau ayahnya bisa tahu dia ada di sini. Hah, dia lupa kalau sang ayah bukanlah orang biasa.
"Daddy!" teriak Amanda ketar-ketir, saat melihat Aneeq yang semakin bertambah brutal.
Dia segera turun dari ranjang, dan berniat keluar untuk mencari bantuan, tetapi Dominic dan Aneeq menghalangi jalannya. Karena pergulatan mereka terjadi di depan pintu.
"Argh!" Suara erangan Dominic mengudara, tapi tak sedikitpun dia mengelak atau pun melakukan serangan balik.
"Untuk apa kamu membawa putriku ke tempat ini, hah?" tanya Aneeq seraya mencengkram kedua bahu Dominic dengan kuat. Di umurnya yang sekarang Aneeq masih memiliki tenaga yang begitu besar. Apalagi dengan setan yang sudah merasuki dirinya. "Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa-apa tentang kalian berdua. Aku bukan orang bodoh, Sialan!"
"Tuan, saya—" Suara Dominic terbata-bata dengan nafas yang terengah-engah. Namun, karena emosinya yang masih sangat tinggi, Aneeq kembali melayangkan bogem mentah, hingga membuat Dominic tersungkur di lantai.
__ADS_1
Amanda merasa terperangah, "Daddy, stop! Jangan memukulnya lagi, dia tidak bersalah!" serunya, sementara pihak keamanan hotel mulai berdatangan. Namun, mereka seperti tak memiliki keberanian untuk melawan murka Aneeq.
"Hei, jangan diam saja!" seru Amanda kepada semua orang yang mematung.
Hal tersebut tentu membuat Amanda merasa frustasi, karena tak ada satu orang pun yang bisa diandalkan.
"Bangun kamu, hadapi aku sebagai sesama pria! Akan ku pastikan bahwa kamu salah mencari lawan!" sentak Aneeq dengan kobaran api amarah. Dia sedikit mengangkat kepala untuk melihat ke arah putrinya, tetapi mata setajam elang itu justru menangkap tanda merah yang ada di dada Amanda.
Dan hal tersebut sukses membuat Aneeq semakin murka. Tanpa mengulur waktu, dia menarik paksa tubuh Dominic yang saat itu berusaha untuk bangkit. Sedangkan Amanda terus menggeleng, berharap sang ayah menghentikan aksinya.
"Kau memang benar-benar badjingan. Beraninya kau melakukan semua itu terhadap putriku. Jangan harap kau bisa lepas, Bocah tengik!"
"Daddy, stop! We can talk all right!" ujar Ziel yang saat itu mengikuti ke mana ayah angkatnya pergi. Dari reaksi wajah Aneeq yang menyembunyikan kemarahan, dia tahu bahwa sedang terjadi masalah yang serius, maka dari itu dia tidak bisa berdiam diri di mansion.
"Kamu ingin Daddy melepaskan pria yang sudah menodai adikmu?" tanya Aneeq dengan nafas yang terengah-engah, bahkan seketika wajahnya di aliri oleh peluh yang menderas, sementara Dominic nampak sudah tak berdaya. Sekujur tubuhnya lemas dan sakit.
"No, Daddy bisa membunuhnya, lihat dia sudah hampir pingsan. Sadarlah bahwa Daddy bukanlah orang yang gegabah," cetus Ziel, karena ia tak bisa meremehkan Aneeq ketika sudah menghadapi para musuhnya.
__ADS_1
Dada yang semula naik turun itu perlahan mengempis. Ya, dia memang dikenal sebagai orang yang tidak gegabah dalam mengambil tindakan, tetapi kalau sudah mengenai putrinya, entah kenapa otak Aneeq langsung berubah blank. Hingga tak memikirkan apapun lagi, selain menghabisi orang yang sudah berani menyentuh Amanda.
Ya, tadi pagi ia baru saja mendapat kabar dari koneksinya bahwa Amanda dibawa ke sebuah hotel oleh seorang pria. Pantas saja perasaan Jennie tidak enak dari semalam, ternyata semua itu adalah pertanda.
Akhirnya Aneeq melepaskan cengkraman dari tubuh Dominic, membuat pria itu kembali tersungkur tak berdaya. Namun, Dominic akui ini semua salahnya, karena memilih untuk membawa Amanda ke hotel, padahal ia bisa saja mengantarkan gadis itu ke rumah orang tuanya.
"Jangan kamu pikir aku akan melepaskanmu begitu saja. Setelah ini aku tunggu penjelasanmu di rumah, kalau kamu tidak datang, maka jangan harap hidupmu akan tenang. Sampai ke ujung dunia pun, akan ku kejar dan ku pastikan kamu hancur!" ujar Aneeq dengan penuh penekanan, lalu tatapannya beralih pada Amanda yang terlihat masih shock.
Dalam situasi seperti ini Amanda benar-benar melihat Aneeq yang begitu mengerikan. Karena yang ada dalam pandangannya, Aneeq seperti bukan sosok ayah penyayang.
Aneeq berjalan ke arah Amanda, dan langsung meraih pergelangan tangan anak gadisnya. "Ikut Daddy pulang!"
"Tapi, Dad, dia—" Amanda merasa khawatir dengan keadaan Dominic. Karena walau bagaimanapun mereka hanya salah paham, tidak sepantasnya Dominic mendapatkan perlakuan seperti itu, dia yang salah.
"Jangan pedulikan dia. Kalau dia memang seorang pria, dia akan bertanggung jawab atas semua perbuatannya!" ujar Aneeq, lalu menyeret tangan Amanda untuk keluar dari sana.
Sementara itu, Ziel yang akhirnya membantu Dominic. Dia segera meminta pihak keamanan untuk memanggil ambulans.
__ADS_1
***
Wiuwiu aku datang 🚑