Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 74. Satu Pertanyaan Satu Juta


__ADS_3

Karena pagi ini Amanda masuk shift satu, secara otomatis dia tidak akan bertemu dengan Dominic di rumahnya. Namun, ada yang berbeda hari ini, sebab saat ia keluar dari mansion, sudah ada mobil yang tersedia.


Dan yang membuatnya sedikit terperangah, ketika sang supir membuka pintu, mempersilahkannya untuk masuk.


"Nona, mulai hari ini saya yang akan mengantar dan menjemput anda," ucap supir tersebut, seseorang yang sudah ditugaskan oleh Aneeq untuk mengantar jemput Amanda.


Sontak saja gadis itu mengerutkan kening. Bukankah sang ayah sudah menarik semua fasilitasnya.


"Tapi—"


"Tuan yang menyuruh saya, Nona," potongnya dengan cepat, karena satu rumah ini pun tahu bahwa Amanda sedang menjalani hukuman.


Amanda termangu, sebab saat ia bersalaman dengan kedua orang tuanya, baik Aneeq dan Jennie tidak mengatakan apa-apa. Namun, tak dipungkiri dia pun merasa senang, karena Aneeq mulai perhatian lagi padanya. Tak ingin ambil pusing, dia pun segera masuk ke dalam kendaraan roda empat itu.


Lagi pun waktu terus bergulir, dia tidak ingin terlambat hanya karena hal yang tidak penting. Akhirnya mobil mewah itu pun melandas, sementara dari atas sana Aneeq terus memperhatikan hingga kendaraan itu benar-benar hilang dari pandangannya.


Begitu Amanda tiba di hotel, Amanda menyuruh sang supir untuk berhenti di sisi jalan yang cukup jauh dari gerbang utama, sebab ia tidak mau satu hotel menjadi heboh hanya karena ia menaiki mobil mewah. Sementara pekerjaannya adalah seorang houskeeping.


"Pak, aku turun di sini saja. Nanti kalau mau jemput juga tidak perlu ke dalam ya, cukup hubungi aku saja," ujar Amanda memberikan penuturan.

__ADS_1


"Baik, Nona," jawab supir tersebut dengan rasa hormat.


Akhirnya setelah itu Amanda pun turun dari mobil. Beberapa orang yang masih menjadi karyawan iLuva Hotels melihat itu sekilas, tetapi mereka tak ada yang berani menegur Amanda. Kejadian semalam sudah cukup menjadi pelajaran.


*


*


*


Sementara di sisi lain.


Pagi itu Aneeq menyeringai penuh saat melihat kedatangan Dominic di mansion keluarganya. Dia segera menghampiri pria itu dengan senyum remeh.


"Hari ini kamu datang lebih pagi, itu bagus, jadi aku tidak perlu berlama-lama menunggumu," ujar Aneeq setelah melirik jam di pergelangan tangannya. Semalam Dominic selalu mendapat pembelaan dari istri dan anaknya, tapi tidak untuk sekarang.


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan," balas Dominic yang membuat Aneeq mengerutkan kening.


"Cih, siapa juga yang sedang memujimu. Jangan terlalu percaya diri!" cetus Aneeq mulai menunjukkan tatapan sebal. "Sekarang ikut denganku, kali ini aku akan benar-benar memeriksa apa yang sudah kamu kerjakan, jadi lakukanlah dengan baik!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Aneeq melangkah lebih dulu menuju ruang kerjanya. Tanpa banyak kata, Dominic pun mengekor. Hingga mereka tiba di tempat yang dituju.


Di sana ada sebuah bangku dan meja seperti di sekolahan. Lantas Aneeq menyuruh Dominic untuk duduk.


"Duduklah di sana!" tunjuknya. Sementara ia melangkah ke meja kebesarannya untuk mengambil sesuatu. Kini di tangannya sudah ada berlembar-lembar kertas HVS, Dominic sama sekali tak bisa menebak apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Kerjakan soal-soal ini dalam waktu satu jam. Aku akan duduk di sini untuk mengawasimu!" kata Aneeq dengan gamblang, sementara Dominic langsung menelan ludahnya susah payah.


100 soal telah dia pegang, dan dia hanya diberi waktu selama satu jam untuk menjawab? Andai soal yang diajukan adalah pilihan ganda, mungkin Dominic masih bisa menyilangnya dengan asal, tetapi berbeda dengan kenyataannya.


Soal esai dengan pertanyaan yang begitu rumit, tentang saham, perusahaan dan juga kebiasaan seorang wanita, mana mungkin dia bisa menjawabnya dengan waktu secepat itu.


"Bagaimana jika aku tidak bisa menjawabnya?" tanya Dominic dengan wajah yang sudah tak tergambar jelas. Karena dengan melihatnya saja ia sudah merasa sakit kepala.


"Satu pertanyaan satu juta, kalau kamu tidak bisa menjawab ya tinggal kalikan saja," jawab Aneeq dengan enteng.


Hah, Dominic menghela nafas. Haruskah dia menyerahkan uang 100 juta pada Aneeq secara cuma-cuma?


"Waktu sudah berjalan 30 detik, kalau kamu mau silahkan kerjakan. Kalau tidak—"

__ADS_1


"Ya, saya akan kerjakan semuanya, Tuan," potong Dominic cepat. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. "Semoga saja kepalaku tidak meledak setelah ini," gumam Dominic sambil menatap kertas berlembar-lembar yang ada di tangannya.


Sedangkan Aneeq hanya menarik sudut bibirnya ke atas. Melihat wajah Dominic yang cemas, seperti sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya.


__ADS_2