
Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah apartemen. Dan kendaraan roda empat itu adalah milik Dominic, karena dia baru saja mengantarkan Amanda.
Sebelum turun gadis itu tersenyum lebar ke arah Dominic. Dia begitu puas karena hari ini berhasil mengerjai Dominic habis-habisan, "Terima kasih untuk hari ini, jangan bosan untuk mentraktirku ya. Dengan senang hati aku akan menerimanya."
Dominic tak merespon, sedari tadi dia hanya menampakkan raut masam. Namun, Amanda tidak peduli, dia lekas turun dari mobil dengan membawa semua barang belanjaannya.
Sementara itu Saga yang sedang menelepon segera memutus panggilan ketika melihat Amanda. Pria itu menajamkan penglihatannya, karena gadis itu turun dari sebuah mobil mewah, tampaknya seseorang yang ada di balik kemudi bukan orang biasa.
"Pulang sama siapa?" tanya Saga, dia lebih dulu menghampiri Amanda dan terus menatap mobil yang melenggang pergi itu.
"Eum itu temanku," jawab Amanda, tak mungkin bicara jujur kalau yang mengantarkan dia adalah Dominic.
"Pria atau wanita?" Pertanyaan Saga terdengar lebih spesifik membuat Amanda mengerutkan dahinya. Gadis itu tampak bingung, tetapi karena ingin melihat reaksi Saga dia pun menjawab apa adanya.
"Pria."
Saga langsung memicing tak suka, "Pria? Apakah kalian sudah kenal lama? Jangan gegabah, mereka itu bisa lebih berbahaya dari apa yang kamu bayangkan." Pria itu berusaha mengambil alih semua barang bawaan Amanda, lalu memimpin langkah.
Melihat reaksi Saga, Amanda pun lantas mengulum senyum. Suka sekali kalau Saga mengomel seperti tengah menyuarakan kecemburuan.
"Kami belum kenal lama. Dan dia sudah begitu baik padaku." Amanda semakin ingin memancing reaksi pria yang berjalan di depannya. Tepat seperti harapan gadis itu, Saga langsung menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya.
"Apakah barang-barang ini juga darinya?"
Amanda langsung mengangguk pelan, membuat Saga menghela nafas, tatapan pria itu nampak serius, "Jangan dekat-dekat dengannya."
Waktu seolah berhenti berpijak, mimpi apa ia semalam sampai-sampai Saga melayangkan kalimat itu. Rasanya Amanda tak bisa percaya.
"Kenapa?" tanya Amanda dengan nada pelan, sementara jantungnya berdebar layaknya genderang mau perang. Mungkin satu atau dua detik lagi, organ yang bertugas memompa itu bisa meledak.
"Karena dia seorang pria. Meskipun aku tahu kamu adalah gadis yang kuat, tapi aku tidak mau kamu dalam bahaya," jawab Saga yang membuat Amanda langsung meneguk ludahnya dengan berat.
__ADS_1
"Tapi bukankah Kakak juga seorang pria? Apakah Kakak tidak berbahaya untukku?"
"Aku sudah mengenal keluargamu, jadi aku akan berpikir tentang keselamatanku lebih dulu sebelum melakukan sesuatu padamu."
Mendengar itu Amanda tak bisa berkutik, bahkan kakinya seolah tak bisa digerakkan, padahal Saga sudah kembali berjalan untuk masuk ke dalam lift. Kalau saja ia bisa tahu, mungkin buncahan cinta di dadanya sudah meleleh ke mana-mana.
Amanda tersadar begitu Saga kembali dan menarik tangannya. Karena sudah beberapa menit dia malah mematung dan tak mendengar ketika dipanggil oleh pria itu.
"Apa yang kamu pikirkan? Jangan bilang otakmu penuh dengan pria itu," seru Saga, nampaknya dia semakin mengakrabkan diri dengan Amanda. Hingga tutur bahasanya lebih santai dari pada awal pertemuan mereka.
Amanda mengerjap beberapa kali.
"Siapa bilang, aku hanya berpikir apa yang akan aku lakukan nanti malam untuk mengisi waktu luang," balas Amanda bohong, padahal sedari tadi otaknya sudah berkelana ke mana-mana.
"Bagaimana kalau menonton film di apartemenku? Kebetulan aku tidak ada kerjaan malam ini."
Wajah gadis itu langsung berubah sumringah.
Saga terkekeh kecil, "Baiklah, aku akan mengikuti gadis kecil yang sedang tumbuh dewasa ini. Nanti aku beli camilan dulu supaya kita tidak bosan." Padahal tangan Saga penuh oleh paper bag, tapi dia tetap menyempatkan diri untuk mengusak puncak kepala Amanda.
Amanda langsung tersipu, bukankah akan sangat romantis kalau mereka menonton film berdua, apalagi kalau sampai mereka mempraktekkan adegan yang sedang berlangsung di dalam layar kaca. Ah, dengan membayangkannya saja pipi Amanda sudah terasa panas dan memerah.
*
*
*
Setelah makan malam, dua orang berbeda jenis kelamin itu bersiap-siap untuk menonton film. Saga turun ke bawah untuk pergi ke mini market, sementara Amanda mengupas dan memotong-motong buah.
Tak butuh waktu lama Saga sudah kembali dengan dua kantung belanjaan, terlihat Amanda sudah duduk manis di atas karpet tebal dengan tv yang menyala.
__ADS_1
"Mana es krimku?" tanya Amanda dengan antusias, Saga segera melepas sandal dan duduk di sebelah gadis itu, menyerahkan satu kotak es krim yang Amanda mau.
"Kamu mau menonton judul yang mana?" tanya Saga.
"Yang mana saja, yang penting jangan hantu."
"Baiklah, kita pilih yang sedang booming saja. Aku dengar ada satu judul yang menyenangkan."
Amanda tak berkomentar, karena tujuan utamanya hanyalah berduaan dengan pria yang ada di sampingnya. Tak peduli film mana yang akan diputar, selagi bersama Saga dia akan menyukainya.
Satu judul telah Saga pilih, dan film mulai berjalan. Namun, di awal pertemuan protagonis pria dan wanita diisi oleh pertengkaran kecil yang membuat para penonton merasa gemas.
"Haish, aku kesal sekali dengan pria tidak berpendirian seperti dia. Harusnya kalau suka bilang saja suka, kenapa pakai berbelit-belit segala? Andai aku jadi wanitanya, sudah aku habisi pria itu!" cetus Amanda mengonentari film yang sedang mereka tonton.
Sontak saja Saga terkekeh dengan keras, "Kamu ini seram sekali. Aku jadi penasaran seperti apa pria yang kamu suka."
"Tentu saja harus seperti Kak Saga," ceplos Amanda karena terlalu menggebu-gebu.
"Apa?" tanya Saga dengan kening berkerut.
***
Jangan lupa mampir ke karya baru Ratu Ngupil gaesπππ
Judul : Pernikahan Estetik
Napen : DHEVIS JUWITA
Karena terancam dideportasi dan tidak mau pulang ke negara asalnya, Celine nekat mengacaukan pernikahan Cedric dan mencoba menjadi pengantin pengganti supaya mendapat visa menikah.
Apa usaha Celine akan berhasil?
__ADS_1