Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 75. Dendanya Jadi Bertambah


__ADS_3

Baru beberapa menit terlewat kepala Dominic sudah terasa berasap. Jangankan menemukan jawaban, memahami soalnya saja perlu waktu yang lama.


Terdengar helaan nafas kasar dari mulut Dominic, sementara sang pembuat ide sedang berduduk santai sambil menikmati segelas kopi.


Namun, fokus Aneeq yang awalnya tertuju pada suasana di luar sana, beralih pada Dominic yang tiba-tiba memanggilnya. "Tuan."


"Ada apa?" tanya Aneeq dengan kening yang mengernyit.


Dominic terlihat ragu untuk mengatakannya. Akan tetapi demi kesehatan otaknya, dia pun mencoba untuk memberanikan diri. "Saya pilih untuk membayar denda saja. 100 juta saya akan kirimkan ke rekening anda."


Sudut bibir Aneeq terangkat membentuk senyum sinis. Tidak semudah itu Ferguso, itulah arti tatapan matanya.


"Kamu pikir aku tidak punya uang sebanyak itu? Kamu meremehkanku?" ujar Aneeq yang membuat Dominic langsung tergagap.


"Bukan begitu, Tuan, tapi anda sendiri yang membuat peraturan kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Maka satu soal dikenai biaya satu juta. Sedangkan soal ini ada 100, jadi saya—"

__ADS_1


"Itu artinya kamu menyerah? Bagus, memang itu yang aku tunggu-tunggu. Kamu dinyatakan—"


"Tunggu, Tuan!" Dominic ikut memotong ucapan Aneeq, karena bukan jawaban seperti itu yang dia harapkan. Dia hanya ingin Aneeq menepati ucapannya. "Saya tidak menyerah untuk mendapatkan Amanda. Tapi saya hanya ingin menyepakati apa yang ada. Di sini saya punya dua opsi, dan saya berhak memilih salah satunya bukan?"


Aneeq tampak semakin menyeringai, dan entah kenapa hal tersebut membuat perasaan Dominic menjadi tak enak.


"Tetap saja, itu artinya kamu kalah sebelum berjuang. Bagaimana bisa aku menyerahkan putriku pada orang sepertimu? Punya pendirian saja tidak, apalagi memahami perasaan seorang wanita. Enyahlah, aku tidak butuh uang 100 jutamu," ujar Aneeq dengan suara yang terdengar pelan tetapi justru mematikan. Dia terlihat semakin senang melihat Dominic yang sudah ketar-ketir.


Dominic menghela nafas panjang, sepertinya keputusan untuk membantah Aneeq adalah sesuatu yang salah.


"Karena kamu membuang-buang waktu, dendanya jadi bertambah, satu soal jadi dua juta," ujar Aneeq yang membuat Dominic kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


***


Di lain sisi tepatnya di iLuva Hotels. Tiba-tiba Sarah datang bersama seseorang, semua karyawan menyambut dengan hangat, begitu juga dengan Amanda. Namun, tatapan Amanda masih terasa begitu canggung dengan seseorang yang dibawa Sarah, karena ternyata dia adalah Donita.

__ADS_1


Sarah hanya tersenyum kecil saat melihat calon menantunya. Kemudian di depan semua orang Sarah meminta Amanda untuk mendekat. "Sayang, kemari lah."


Amanda yang semula menundukkan wajah langsung menatap lurus, wajah kikuknya sangat kentara karena Sarah memanggilnya dengan begitu akrab. Padahal banyak pasang telinga yang mendengarnya.


"Amanda," panggil Sarah sekali lagi, membuat Amanda yang semula ragu kini mulai berjalan mendekat hingga berhenti di samping Sarah.


"Untuk semuanya kalian harus dengar ini ya. Karena saya yakin di sini kalian semua memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk bekerja. Jadi, kami pihak hotel pun berusaha untuk memperlakukan kalian sama rata. Tidak pilih kasih, berat sebelah, atau pun yang lainnya. Menindak kasus semalam, saya benar-benar merasa kecewa. Karena tentunya kalian yang merasa menjadi pelaku, melakukannya secara sadar. Saya tidak tahu awal pemicunya, kenapa kalian bisa membenci Amanda, entah masalah pribadi atau apa, tapi bukankah setiap permasalahan memiliki jalan tengah? Tidak melulu soal kekerasan apalagi kalian main keroyokan. Di sini saya tidak membela Amanda karena dia dekat dengan putra saya, tapi dari apa yang saya telaah, Amanda adalah korban. Korban yang berusaha melawan. Menurut kalian apakah tindakan Amanda salah?" tutur Sarah dengan begitu gamblang untuk menasehati seluruh karyawannya agar tidak bertindak gegabah.


Mendengar itu semuanya tertunduk dalam diam. Bahkan ketiga pelaku tak berani menatap ke arah Sarah sedikit pun.


"Jadi, saya mohon dengan sangat, jangan ada kejadian seperti ini lagi ya. Di dalam atau pun di luar. Kalian punya otak untuk berpikir, dan kalian juga sudah dewasa. Maka dari itu saya rasa, kalian bisa lebih bijak," sambung Sarah, kemudian melirik ke arah Amanda, dia sedikit mengusap bahu sang calon menantu. Sangat berterima kasih, karena sudah mampu bertahan bekerja di sini. "Saya sebagai owner dan penanggung jawab, memohon maaf ya, Amanda untuk kelakuan rekan saya."


Amanda langsung mengangguk dengan senyum kecilnya yang tersemat. "Iya, saya sudah memaafkan dan berusaha melupakan semuanya kok. Jadi, ayo bangun hubungan yang baik ke depannya. Karena sejatinya sebagai makhluk sosial kita memang saling membutuhkan."


Detik selanjutnya Sarah merangkul Amanda dengan begitu sayang, dan yang lain pun ikut merasa lega. Tak terkecuali Donita, kini dia semakin sadar apa yang membuat sang sepupu menyukai gadis ini, bukan hanya cantik, tapi hati Amanda juga teramat baik.

__ADS_1


__ADS_2