
"Sial, lagi-lagi aku dikerjai," umpat Dominic saat mobilnya sudah ada di tengah jalan raya. "Tapi kenapa juga aku harus ketakutan seperti tadi? Astaga, makin berkurang saja poinku di depan Tuan Aneeq."
Sebelum pergi Dominic sempat melihat bayangan seseorang yang ada di atas balkon, dan ia sangat yakin bahwa sosok yang ia lihat adalah sang calon mertua yang sedang menunggu kedatangan putrinya.
Mobil melandas cepat hingga tanpa terasa kendaraan roda empat itu tiba di kediamannya, yakni rumah yang selama ini ditempati oleh ia dan Sarah.
Saat ia membuka pintu dan melangkah masuk, suasana yang semula gelap langsung berubah terang, disusul dengan Sarah yang tiba-tiba muncul tepat di hadapannya.
"Astaga, Mommy mengagetkanku saja," ujar Dominic sambil berjengit. Sementara yang belum tidur, kini mendekat ke arah putranya.
"Mommy kira kamu akan menginap di hotel," ujar Sarah membahas yang lain. "Oh iya tadi pagi bagaimana? Sukses tidak misimu?" Nada bertanya Sarah terdengar sangat antusias, dia bahkan langsung memeluk lengan Dominic dan membawa pria itu untuk duduk di sofa.
Dominic menghela nafas panjang, mengingat seharian ini dia dibuat jantungan oleh tingkah Aneeq yang benar-benar aneh. Hah, mungkin seperti itu seorang ayah yang tidak rela menyerahkan putrinya pada pria lain.
"Aku harus melewati beberapa tantangan dulu, Mom, hari ini aku sudah melewatinya dengan sangat buruk. Entah lulus atau tidak, aku tidak tahu," ujar Dominic dengan tampang lesu, dia dan Sarah duduk berdampingan, dan Dominic langsung menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Haish, ya harus lulus dong, Dom. Anak Mommy tidak boleh menyerah. Besok datangi lagi Tuan Aneeq," ujar Sarah, tak ingin sang anak berkecil hati. Karena ia yakin Aneeq hanya menguji sebesar apa rasa cinta Dominic terhadap Amanda.
"Tapi kalau dia malah mengusirku bagaimana?" tanya Dominic sudah pesimis, karena dia tidak tahu ujian apalagi yang harus dia hadapi selanjutnya. Hari pertama saja dia sudah dibuat pingsan.
"Dengar ya, Dom, setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam menjaga dan mencurahkan kasih sayang terhadap anaknya. Tapi tujuan mereka tetap sama kok, jadi buktikan saja pada Tuan Aneeq bahwa kamu bisa memberikan yang terbaik bagi Amanda. Oh iya kamu juga jangan galak-galak dong sama calon menantu Mommy, panggil dia dengan sebutan sayang, bantu dia kalau sedang kesusahan. Jangan kebanyakan gengsi, yang ada dia kabur!" cerocos Sarah, sudah sangat mengharapkan kalau Amanda bisa menjadi pelabuhan terakhir bagi putranya.
Lagi-lagi terdengar helaan nafas panjang dari mulut Dominic. Harapan Dominic memang seperti itu, bisa dicintai oleh wanita yang dicintainya, menikah dengan restu para orang tua. Akan tetapi terkadang otaknya selalu mengejek yang bukan-bukan, membuat dia menjadi tidak percaya diri.
"Baiklah, Mom, besok aku akan mencobanya lagi besok. Do'akan aku ya, supaya aku pulang dengan anggota tubuh yang masih lengkap," balas Dominic seraya bangkit dari duduknya.
Sarah ingin menimpali ucapan putranya, tetapi Dominic justru kembali buka suara, "kalau begitu aku istirahat dulu ya, Mom. Mommy juga jangan lupa istirahat, ini sudah larut. Pikirkan kesehatan Mommy."
Sarah terpaksa mengangguk kecil, karena malam memang sudah sangat larut.
__ADS_1
Cup!
Dominic mengecup pipi kanan Sarah terlebih dahulu sebelum akhirnya dia melenggang ke arah kamar.
*
*
*
Pagi datang dengan cepat, Dominic yang masih mengantuk nyatanya tak bisa bersantai seperti biasa. Mengingat pesan yang disampaikan Aneeq bahwa dia tidak boleh terlambat, membuatnya tergesa dalam bersiap-siap.
Dalam sekejap Dominic sudah rapih dengan setelan kerja, tetapi jas belum terpasang di badannya, dengan berpenampilan seperti itu Dominic keluar dan menyambangi sang ibu di meja makan.
"Mom, aku harus segera berangkat," ucapnya seraya mengambil roti bakar isi selai yang sudah terhidang.
"Kamu tidak mau sarapan di rumah, Dom?"
Sarah hanya bisa menyaksikan kepergian Dominic dengan gelengan kecil, tetapi tak dipungkiri ada senyum tipis yang tersemat di bibir wanita paruh baya itu. Senang kalau Dominic memiliki semangat untuk masa depannya.
*
*
Dominic mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, berhubung hari masih pagi jadi jalanan pun tak begitu ramai, memudahkan dia untuk mendahului beberapa mobil yang ada di depannya.
Namun, karena jarak rumah dan mansion keluarga Tan cukup jauh, akibatnya Dominic tiba saat Aneeq sudah hampir masuk ke dalam mobil.
"Pagi, Tuan," sapa Dominic dengan sopan
__ADS_1
Aneeq mengerutkan kening melihat Dominic yang berdiri tak jauh darinya, lalu melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Tiba-tiba seringai kecil muncul, "Sudah terlambat, lagi pula aku ada meeting dengan klien."
"Tapi, Tuan—"
Ucapan Dominic menghentikan pergerakan Aneeq, dia mengangkat kepala dan bertanya melalui tatapannya yang tajam.
"Saya datang lebih pagi dari kemarin, Tuan, selisihnya 3 menit. Itu artinya saya belum terlambat," lanjut Dominic yang membuat Aneeq mengangkat satu alisnya, tak percaya dengan ketelitian Dominic.
"Jadi?"
"Itu artinya saya masih bisa mengikuti tes hari kedua. Kemarin anda juga tidak mengatakan kalau saya gagal, jadi tidak alasan apapun untuk menolak saya," jawab Dominic dengan gamblang, demi Amanda dia rela menahan ketakutan yang bersarang di dadanya.
Aneeq menatap dengan begitu takjub, ternyata Dominic pun bisa licik juga.
Cih, bocah ingusan ini sudah semakin berani ternyata.
"Baiklah, kalau begitu terima tes keduamu," ujar Aneeq, lalu pandangannya beralih pada beberapa penjaga yang berjejer tak jauh darinya. "Ambilkan segelas air penuh dan berikan padanya!"
Dengan sigap salah satu mereka melaksanakan perintah Aneeq. Sementara Dominic menunggu dengan harap-harap cemas, dalam hati dia terus berdoa semoga apapun yang diberikan oleh Aneeq dia bisa melakukannya dengan benar.
Tanpa menunggu lama seorang penjaga membawa segelas air penuh dan langsung memberikannya pada Dominic.
Dominic pun menerimanya dengan penuh kehati-hatian takut air tersebut tumpah.
Sementara itu Aneeq kembali melihat arloji yang melingkar di tangannya, kemudian memberikan interupsi, "Kelilingi mansion ini sebanyak 20 kali putaran selama 20 menit. Dan ingat, jangan sampai air yang ada di dalam gelas itu tumpah sedikit pun. Ingat sedikit pun jangan!"
Glek!
Dominic langsung menelan ludahnya susah payah, mengingat mansion yang sedang dia pijak bukan kontrakan 3 petak.
__ADS_1
***
Semangat, Bang🤭🤭🤭