
Hari ini Dominic benar-benar dibuat ketar-ketir, tak hanya jantungnya yang terasa ingin meledak, emosinya pun naik hingga ke puncak saat tangan kanan dan kirinya penuh oleh belanjaan kedua wanita yang ada di hadapannya. Lebih dari bodyguard, sepertinya dia lebih pantas disebut sebagai budak.
Namun, rasa ingin protes dia telan bulat-bulat saat tatapan tajam Sarah melayang. Seolah berkata "Tutup mulutmu, kamu hanya perlu mengikuti ke mana kami pergi!"
Akhirnya pria itu tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia sudah mirip seperti anak itik yang hanya bisa mengekor pada induknya. Penderitaan Dominic tak sampai di sana, sebab Amanda menyarankan agar mereka pergi ke tempat spa.
Pria dengan jambang lebat itu lantas menatap Amanda dengan alis yang bertautan, menandakan agar Amanda tidak berbuat macam-macam. Namun, seolah memiliki keberanian lebih, Amanda tidak memedulikan tatapan itu.
"Idemu bagus juga, Sayang. Sudah lama Mommy tidak dipijat. Kalau begitu ayo, tunggu apalagi sekarang kita pergi ke tempat spa," seru Sarah seraya menggandeng tangan Amanda.
Namun, baru saja melangkah pria yang ada di belakang sana justru merengek. Karena sudah dipastikan waktunya akan terbuang sia-sia.
"Mommy, kali ini aku hanya akan mengantar kalian. Habis itu aku langsung pulang," ujar Dominic dengan tampang lusuh, seperti baju yang belum disetrika.
"Lho terus nanti kita pulang sama siapa?"
"Di jaman secanggih ini Mommy tidak perlu khawatir, lewat ponsel saja kalian bisa memesan taksi atau kendaraan yang lain. Aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Dominic dipenuhi alibi.
"Pekerjaan saja terus, tapi sedikit pun kamu tidak pernah memperhatikan aku. Pulang saja sana, setelah ini jangan harap bisa menghubungiku lagi, karena hubungan kita selesai!" sambar Amanda dengan seringai licik, membuat Dominic hanya bisa menelan ludahnya susah payah.
Amanda benar-benar memanfaatkan situasi dengan sangat baik. Hingga membuat Dominic lagi-lagi tak bisa berkutik. Padahal dia sendiri yang menarik Amanda masuk, tetapi sekarang keadaan berbalik menyerangnya.
"Sudahlah, Dom, turuti saja. Mommy tidak ingin kehilangan calon menantu seperti Amanda. Lagi pula di sana kamu bisa ikut pijat dan rileksasi lainnya," timpal Sarah semakin memeluk bahu Amanda, seolah menunjukkan bahwa gadis itu tak boleh pergi dari sisinya.
Dominic menghela nafas panjang. Sepertinya hari ini dia memang tak boleh lolos dari ide jahil Amanda. Sehingga dia pun kembali duduk dibalik kursi kemudi untuk sampai di tempat spa. Tujuan akhir mereka bertiga.
__ADS_1
Sesampainya di sana, mereka langsung berganti pakaian. Sarah yang sudah selesai lebih dulu, keluar dan siap untuk berendam di air yang sudah disiapkan. Namun, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh seseorang yang dia kenal.
"Nyonya Jennie?" panggil Sarah, melihat wanita itu sudah berpakaian rapih dan nampak lebih segar.
"Lho Nyonya Sarah? Apa kabar?" balas Jennie seraya melakukan cipika-cipiki. Sementara di belakang sana Amanda langsung kalang kabut, melihat ada ibunya di tempat yang sama.
Ya, seseorang yang disapa Sarah benar-benar ibu Amanda. Sebagai sesama pengusaha, tentu mereka kerap bertemu di beberapa acara besar. Sehingga mereka bisa saling mengenal.
"Haish, kenapa Mommy juga ada di sini? Bisa diinterogasi habis-habisan kalau dia tahu aku tidak bekerja dan malah keluyuran," rutuk Amanda seraya kembali ke ruang ganti, tetapi sebelum masuk Dominic lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Mau ke mana?"
"Ck, ada barangku yang tertinggal jadi lepaskan aku!"
Dominic sengaja berkata seperti itu, karena ia tahu di luar sana ada Jennie, dan dia ingin melihat bagaimana reaksi Amanda. Seperti dugaannya, Amanda langsung menolak dengan keras.
"Tidak, aku ingin mengambilnya sendiri."
Namun, Dominic malah mengerjai gadis itu dengan pura-pura menyeretnya hingga membuat Amanda semakin gelagapan. Bahkan karena aksi mereka yang mengundang suara berisik, membuat Jennie dan Sarah sama-sama menoleh.
Belum sempat Jennie melihat keberadaan Amanda, gadis itu sudah mendorong Dominic masuk ke dalam ruang ganti bersamanya.
"Mereka anak dan calon menantuku, Nyonya. Biasalah anak muda, dikit-dikit jadi masalah, makanya suka ribut," ujar Sarah saat Jennie celingukan ke belakang.
"Oh begitu. Baiklah, lain kali semoga kita bisa bertemu lagi, saya duluan ya, Nyonya," balas Jennie dan Sarah langsung menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sementara di ruang ganti, Amanda terus menutup mulut Dominic agar tidak banyak bicara. Namun, dia kalah tenaga karena kini Dominic malah mendorongnya mundur hingga punggung itu menyentuh dinding.
Dominic mengunci pergerakan Amanda dengan kedua tangannya.
"Mau apa kamu?! Jangan berani macam-macam. "
"Hari ini kamu benar-benar sukses, kamu sengaja 'kan melakukan ini semua untuk membalasku?" tanya Dominic dengan tatapan yang terus terkunci pada netra milik Amanda.
Amanda yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka lantas mendorong dada Dominic hingga sedikit menjauh. "Bukankah kamu yang memulai semua drama ini? Aku hanya mengikuti alurnya saja."
"Benarkah? Aku tidak yakin, karena sepertinya kamu suka sekali saat aku marah dan kesal."
"Hei, harusnya kamu berkaca, kamu juga suka saat aku marah-marah. Apakah seperti itu hal yang wajar?"
"Kalau begitu haruskah aku menciummu di depan Mommy supaya dia semakin percaya kalau kita adalah sepasang kekasih?" tantang Dominic yang membuat Amanda reflek meneguk ludah.
Kini keadaan berbalik, Dominic menarik sudut bibirnya ke atas dengan tatapan buas yang membuat jantung Amanda berdebar lebih cepat. Apalagi dalam posisi mereka yang dibilang cukup intimm, menciptakan suasana yang menegangkan.
Dominic memangkas jarak, tetapi tepat pada saat itu Amanda reflek mengangkat kakinya dan menendang pusat tubuh Dominic cukup keras.
Bugh!
"Jangan gila!" cetus gadis itu, sementara Dominic langsung merasa mulas akibat tendangan kaki Amanda yang tak main-main.
"Oh my God, it hurts!"
__ADS_1