
Di saat semua orang memerhatikan Dominic yang sedang menggendong Amanda. Ada Lucas yang ternyata mengekor pada langkah pria itu.
"Tuan—"
Baru saja mengucap kata itu, Dominic yang sudah sangat hafal dengan suara asistennya langsung memotong dengan nada menyentak. "Urus saja di bawah, bersihkan kursi itu!"
Kalau Dominic sudah marah-marah, tentu Lucas tak bisa membantah. Akhirnya ia berhenti mengikuti langkah sang tuan, dan membiarkan pria itu mengurus Amanda sendirian.
Setibanya di kamar 2069, Dominic hendak merebahkan Amanda di atas ranjang, tetapi gadis itu langsung menahannya, "Jangan!"
"Kenapa? Kamu harus segera diobati, aku akan memanggil dokter pribadiku," balas Dominic dengan nafas yang terengah-engah.
"Tidak perlu, lagi pula aku baik-baik saja," tolak Amanda dengan suara lemah, tetapi mampu menyulut emosi Dominic.
"Tidak perlu bagaimana? Jangan membuatku gila hanya karena mengkhawatirkanmu," cetus Dominic secara tak sadar yang membuat Amanda melongo. Reaksi pria itu sungguh di luar dugaannya.
Karena jantung Dominic terus berdebar dengan kencang, menyuarakan rasa khawatir yang begitu berlebihan.
"Aku tidak terluka, Tuan," ujar Amanda, tetapi kalimat itu masih belum mampu membuat Dominic merasa tenang.
"Tapi kamu berdarah. Apa namanya kalau bukan terluka, lagi pula kenapa yang lain diam saja, apakah mereka tidak melihat kamu yang sedang membutuhkan pertolongan?"
Melihat Dominic yang frustasi entah kenapa Amanda jadi ingin tersenyum. Namun, dia tahan karena tak mau membuat pria itu tersinggung.
Amanda tertunduk, karena ia yakin setelah ini ia akan menanggung malu yang tak berkesudahan. "Mereka sedang sibuk dan aku—hanya menstruasii. Ini hari pertamaku, makanya perutku sakit."
"What? Menstruasii?"
Amanda langsung mengangguk, sementara Dominic mulai berpikir apa itu menstruasii. Dan ia baru ingat, kalau seorang wanita akan mengalami masa seperti itu satu bulan sekali.
Dominic menghela nafas panjang, seperti menemui sebuah kelegaan ia langsung merebahkan tubuh Amanda di atas ranjang, tak peduli meski tempat tidurnya akan kotor.
"Kamu tidak jijik?" tanya Amanda.
"Kamu pikir badanmu tidak berat? Aku menggendongmu dari lantai bawah," jawab Dominic, yang sudah mampu mengontrol emosinya.
Bibir Amanda langsung mencebik, dia pikir Dominic akan menjawab "Aku tidak peduli, karena yang aku pikirkan hanyalah keadaanmu!"
__ADS_1
Hei, sepertinya Amanda juga mulai berandai-andai. Astaga, ia merasa otaknya ikut konslet sekarang.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Dominic setelah menyelimuti gadis itu.
Amanda terdiam karena tak yakin Dominic akan menuruti permintaannya. Namun, tatapan pria itu terus mendesak, membuat dia terpaksa berkata, "Aku butuh pembalut."
"Untuk apa? Katanya kamu tidak terluka?" ketus Dominic, suaranya kembali meninggi karena Amanda seolah mempermainkannya.
"Haish, wanita yang sedang menstruasii memang membutuhkan benda itu."
Amanda tak menyangka kalau Dominic tak mengerti apapun tentang sesuatu yang berkaitan dengan seorang wanita. Apakah sebelumnya Dominic hidup di hutan, sampai pembalut untuk wanita datang bulan saja tidak tahu?
"Baiklah, aku akan minta Lucas membelikannya untukmu."
Tanpa menunggu jawaban Amanda, Dominic langsung menghubungi Lucas. Sebagai seorang bos, panggilannya tentu di utamakan, "Lu, aku butuh pembalut."
Lucas langsung mengeryit, "Pembalut? Untuk apa, Tuan?"
"Sudah jangan banyak tanya. Turuti saja semua perintahku!"
"Yang biasa atau yang sayap?"
Setelah mematikan panggilannya pada sang asisten, Dominic sibuk mengotak-atik ponselnya. Tanpa bertanya pada Amanda, pria itu berusaha mencari tahu apa yang harus dilakukan seorang pria ketika wanitanya sedang datang bulan.
"Kamu tidak perlu menghubungi dokter," ujar Amanda, yang menebak bahwa Dominic sedang berusaha menghubungi dokter pribadinya.
"Aku tidak menghubungi siapapun," balas Dominic. Lantas dia keluar dari kamar itu, entah ingin pergi ke mana.
Amanda hanya bisa mengeryit dan kembali merasakan perutnya yang melilit. Ia tidak menyangka, kalau akan ada kejadian seperti ini di tempat magangnya.
Selang beberapa menit, Dominic kembali datang dengan mangkuk yang berisi air hangat serta handuk untuk mengompres. Dia duduk di sisi ranjang, sementara Amanda hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan pria itu.
"Buka bajumu!" titah Dominic yang membuat Amanda mendelik.
"Buka baju? Jangan kurang ajar kamu, Tuan!"
"Hei, katanya kalau perutmu dikompres rasa sakitnya akan membaik. Jadi aku mencoba untuk melakukannya."
__ADS_1
"Tapi aku tidak mungkin membukanya di depanmu!" ketus Amanda, sudah gila ya kalau sampai Dominic melihat bagian tubuhnya yang terdalam. Meskipun hal itu untuk kebaikannya.
Dominic menghela nafas panjang. Tak ingin berdebat, dia pun menaikkan selimut sampai ke dada Amanda.
"Letakkan di perutmu. Aku tidak mungkin melihatnya. Kalau sudah terasa dingin berikan lagi padaku," ujar Dominic seraya menyerahkan handuk kecil yang sudah dia basahi itu.
Patuh, Amanda langsung mengambil alih benda itu dan meletakkannya sesuai permintaan Dominic. Hari ini pria itu benar-benar terlihat telaten untuk mengurus Amanda.
Hingga dia pun membelikan pakaian baru, agar Amanda tak perlu malu. Namun, yang membuat Amanda tak habis pikir, Lucas benar-benar membeli semua jenis pembalut yang ada di mini market.
Gadis itu tak bisa berkomentar apa-apa, karena sepertinya baik bos maupun asistennya, sama-sama tak mengerti persoalan wanita.
*
*
*
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Dominic setelah Amanda sudah bangun dari tidurnya. Setengah hari dia habiskan untuk beristirahat, karena Dominic melarangnya untuk bekerja.
"Tapi aku ingin membawa motorku. Sudah berapa lama dia aku tinggal di sini?" balas Amanda, teringat dengan kendaraan roda dua miliknya.
"Pikirkan keselamatanmu, sebagai bos aku tidak ingin terjadi apa-apa pada karyawanku!" tukas Dominic, tak menerima penolakan, tetapi dengan embel-embel jabatan.
Amanda berpikir bahwa apa yang dikatakan Dominic ada benarnya juga. Lagi pula dia masih merasa lemas. Jadi, tak ada alasan lagi untuk menolak tawaran pria itu.
Akhirnya Amanda kembali diantar oleh Dominic sampai tiba di apartemen. Namun, saat ia baru saja hendak memapah Amanda, tiba-tiba Saga datang dan mengambil alih tubuh gadis itu.
"Biar aku yang melakukannya," kata Saga, membuat Dominic langsung bergeming di tempatnya. Sementara Amanda menjadi si serba salah.
"Ah, Tuan, terima kasih ya sudah mengantarku pulang, besok aku pasti kembali bekerja," ujar Amanda, memecahkan keheningan yang tiba-tiba tercipta.
Dominic hanya mengangguk sekilas, dan tatapannya kembali melayang ke arah Saga. Sebuah tatapan permusuhan. Namun, Saga tak menanggapinya, dia malah terus membantu Amanda untuk naik ke unit apartemen mereka.
"Kamu sakit? Kenapa tidak bilang?" tanya Saga bertubi-tubi, tetapi Amanda hanya menggeleng kecil.
Sebuah pemandangan yang lagi-lagi menyiksa batin Dominic.
__ADS_1
***
Panas membara🙈🙈🙈