
"Kamu mau makan buah?" tanya Amanda pada Dominic.
Sebenarnya mulut Dominic masih terasa sakit untuk mengunyah. Namun, dia seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, pasti Amanda ingin menyuapinya bukan?
"Boleh, tapi tanganku masih sangat lemas," balas pria itu dan mengatakan apa adanya.
"Biar aku suapi, kamu tinggal mengunyah saja," kata Amanda seraya membuka parsel yang ia bawa. Dia mengambil buah jeruk untuk dikupas, lalu membantu Dominic untuk bersandar.
Akan tetapi karena tubuh Dominic cukup berat, Amanda mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Sekarang buka mulutmu!" titah Amanda saat ia sudah kembali duduk.
Patuh, Dominic langsung membuka mulutnya dan menerima suapan Amanda. Dia mengunyah dengan sangat pelan, karena rahangnya benar-benar terasa sakit.
Melihat Dominic yang meringis, tentu membuat Amanda merasa kasihan, dia segera bangkit dan menyentuh pipi pria itu. "Apakah rasanya sangat sakit?"
Merasakan sebuah sentuhan yang begitu lembut, Dominic pun membuka matanya. Dan dia langsung disuguhi wajah cantik Amanda yang tampak cemas. Hah, rasanya dia ingin seperti malam itu, mencium Amanda sampai bibirnya terasa kebas.
"Aku tidak apa-apa, mungkin karena lukanya masih baru jadi seperti ini," jawab Dominic pura-pura kuat. Padahal dalam hati dia ingin menjerit, karena rasanya minta ampun.
"Daddy benar-benar memukulmu sekuat tenaga. Bahkan saat itu aku sampai tidak mengenalinya," ujar Amanda, sekali lagi dia memeriksa wajah Dominic, dan hampir semua bagian dipenuhi dengan luka lebam.
"Itu artinya kamu sangat berharga," balas Dominic sambil terus menatap dua manik mata milik gadisnya.
Amanda menghentikan pergerakan bola matanya tepat di dua manik mata milik Dominic, hingga mereka saling tatap dalam jarak yang cukup dekat. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama, karena detik selanjutnya tatapan Amanda turun ke bibir.
Benda tipis yang pernah menciumnya, dan pernah menciptakan beberapa tanda di dadanya. Akan tetapi sayangnya, sampai saat ini tak ada satu pun peristiwa yang ia ingat.
__ADS_1
Astaga, Amanda langsung tersadar karena tatapannya sudah ke mana-mana. Jangan sampai hal tersebut juga membuat Dominic salah paham, karena dia tidak bermaksud apa-apa.
"Eum, kamu mau jeruk lagi?" tanya Amanda dengan sedikit salah tingkah.
Dominic langsung mengangguk, dan Amanda kembali menyuapinya. Sementara dalam hati pria itu, dia merasakan ada sesuatu yang menggelitik, karena ia yakin sedikit demi sedikit, Amanda sudah mulai memikirkannya.
Tak berapa lama kemudian, Sarah sudah kembali dengan membawa beberapa camilan. Namun, karena merasa kasihan pada sang ibu, Dominic pun meminta wanita paruh baya itu untuk pulang.
"Mommy, istirahat saja di rumah, nanti biar Lucas yang menjagaku, aku sudah sempat menghubunginya kok," ujar Dominic saat Sarah baru saja duduk di sofa. Dari semalam wanita paruh baya itu tidak meninggalkan rumah sakit, demi mengurus putranya yang sedang tidak berdaya.
"Kamu yakin?" tanya Sarah, sebenarnya tak tega meninggalkan Dominic, tetapi di usianya yang tidak lagi muda, dia juga harus menjaga pola makan dan waktu istirahatnya agar tetap sehat.
"Aku yang akan menjaganya sampai Asisten Lucas datang, Mom. Jadi Mommy pulang saja," timpal Amanda yang membuat Sarah langsung mengulum senyum. Dia senang sekali saat gadis itu perhatian pada Dominic.
"Baiklah kalau begitu. Karena ada kamu, Mommy akan merasa tenang, terima kasih ya, Amanda," kata Sarah seraya mengambil tasnya.
"Iya-iya, Mommy, hati-hati di jalan," balas Dominic seraya melirik sang pujaan yang sedang tersenyum manis.
"Man, sekali lagi terima kasih ya, karena kamu sudah mau direpotkan," kata Sarah yang tertuju pada Amanda. Gadis cantik itu langsung mengangguk, lantas Sarah pun segera melenggang ke arah pintu.
Namun, baru saja benda persegi panjang itu terbuka, tiba-tiba seorang wanita berpakaian seksi menyelonong masuk dan langsung menghambur ke arah Dominic.
"Om my God, Dom. Kenapa kamu bisa seperti ini sih?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Sesil, sampai sekarang ternyata dia masih belum menyerah untuk bisa mendapatkan Dominic.
"Hei, kamu tahu dari mana kalau aku ada di sini?" cetus Dominic seraya berusaha menghindar dari sentuhan Sesil.
"Itu tidak penting. Sekarang biarkan aku menemanimu," ujar Sesil tanpa peduli tatapan semua orang, termasuk Amanda.
__ADS_1
Amanda mengangkat satu alisnya, dan ia masih ingat betul siapa Sesil. Yakni wanita yang pernah datang ke hotel demi bisa makan bersama Dominic. Hih, entah kenapa Amanda jadi kesal. Terbukti dari raut wajahnya yang memberenggut.
Menyadari itu perubahan raut wajah Amanda, Sarah pun segera melangkah ke arah Sesil dan menarik telinga wanita itu. "Sesil, sudah Mommy bilang, jangan ganggu Dom dan kekasihnya. Apakah kamu tidak mengerti?"
"Aduh-aduh, sakit, Mommy," keluh Sesil sambil memegangi telinganya.
"Makanya punya telinga itu digunakan dengan baik. Sudah Mommy peringati waktu itu ya? Sekarang malah datang tiba-tiba!" cerocos wanita paruh baya itu sambil membawa Sesil ke ambang pintu.
"Aish, Mommy, aku hanya ingin menjenguk Dominic."
"Hei, kamu tidak lihat ada siapa? Sudah ada Amanda yang menjaganya, jadi jangan buat onar ya."
Seketika itu juga mata Sesil tertuju pada gadis yang duduk di samping brankar Dominic. Sontak saja bibirnya langsung mencebik, tetapi tarikan di telinganya justru semakin kuat membuat dia meringis.
"Aw, Mommy," keluhnya.
"Dom, Amanda, kami pergi dulu," ucap Sarah, membawa serta Sesil bersamanya, karena tak ingin wanita itu mengganggu anak serta calon menantunya.
Dominic dan Amanda mengangguk kompak, bahkan terdengar helaan nafas kecil dari mulut keduanya saat pintu tertutup. Membuat mereka saling pandang.
Namun, tatapan itu terpaksa terputus, karena lagi-lagi datang satu orang di antara mereka, yaitu Lucas.
"Permisi, Tuan, Nona, apakah saya mengganggu?" tanya Lucas, membuat Dominic mengepalkan tangannya.
***
Ganggu bet🤣
__ADS_1