
"Sejak kapan kamu ada di situ?" ketus Dominic pada sang asisten yang ternyata ada di ruangannya. Padahal sedari tadi dia tidak merasakan keberadaan Lucas di sana.
"Dari tadi, Tuan, kan saya mengikuti anda terus," balas Lucas dengan wajah tanpa dosa. Seperti biasanya dia selalu jadi penghalang antara Dominic dan Amanda. Padahal dia bisa saja berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi, tetapi sepertinya Dominic tidak bisa mengandalkan asistennya itu.
Dominic menghela nafas kasar untuk menetralisir kekesalannya terhadap Lucas yang suka mengacau. Sementara Amanda sudah berdiri sejak Lucas mengagetkan mereka berdua.
"Bisa tidak sekali saja jangan mengikutiku, apalagi—" Dominic melirik Amanda yang mengerutkan keningnya, tiba-tiba suaranya tertahan. "Ah sudahlah, lebih baik sekarang kamu siapkan kompres dan kotak p3k."
"Siap, Tuan, saya akan kembali secepat mungkin," balas Lucas seraya bangkit untuk menyiapkan apa yang Dominic mau.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Jadi biarkan aku pulang sekarang!" cegah Amanda, karena waktunya sudah semakin terbuang sia-sia. Namun, Dominic tak mau mendengar alasan apapun, dia segera mencekal pergelangan tangan Amanda ketika gadis itu hendak melangkah.
"Aku akan mengantarmu," kata Dominic.
Mendengar itu lantas Lucas melanjutkan niatannya untuk membuka pintu.
"Jangan mencari masalah dengan Daddy!"
Lucas kembali berhenti.
"Lalu kamu pikir aku harus diam saja? Yang ada aku akan semakin jelek di mata Daddy-mu. Karena kamu terluka di hotel ini, tempat yang aku pimpin!"
Lucas setuju, dia kembali memutar kenop pintu hingga persegi panjang itu terbuka.
"Tapi—"
Kaki Lucas yang sudah hendak melangkah langsung menggantung di udara. Dia berbalik dan menyeletuk. "Cukup!"
Dominic dan Amanda sontak berjengit, karena mendengar suara Lucas yang begitu keras. Untuk pertama kalinya, sang asisten bertindak berani seperti itu.
"Jadi tidak ambil kompresnya? Dari tadi saya jadi serba salah," keluhnya sambil menatap Dominic dan Amanda secara bergantian.
"TIDAK!"
__ADS_1
"YA!"
Ucap Amanda dan Dominic berbarengan.
"Hei, yang kompak dong? Jangan membuat orang bingung!" cetus Lucas dengan wajah yang sudah tampak malas.
"Ck, beraninya kau berbicara dengan nada tinggi di depanku?" balas Dominic yang sadar bila Lucas sudah bersikap kurang ajar.
"Maaf, Tuan saya kelepasan. Saya hanya ingin memastikan jadinya bagaimana?"
Nyali Lucas kembali menciut seketika.
"Aku akan pulang!" sambar Amanda, tetapi langsung ditahan oleh Dominic.
"Di sini aku bosnya, jadi ikuti perintahku!" tegas Dominic, tak ingin mendengar penolakan lagi dari Amanda. Dia kembali menarik tangan Amanda agar gadis itu duduk, sementara Lucas langsung meninggalkan ruangan bosnya.
"Duduklah dengan tenang. Karena kamu tidak mau bercerita, jadi aku akan mencari tahu sendiri apa penyebab kalian bertengkar," ujar Dominic lalu melangkah ke meja CCTV yang ada di ruangannya.
*
*
*
Di lantai bawah, ketiga senior yang sempat menyerang Amanda tengah membenahi penampilan mereka. Namun, tiba-tiba ada seorang wanita yang memiliki jabatan lebih tinggi dari mereka.
"Aku akan lepas tangan soal ini. Karena aku tidak mau ikut campur. Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku," ujarnya dengan serius.
"Kami akan bertanggung jawab atas kekacauan ini, Bu," balas salah satu dari mereka, nampak masih bersikap santai karena ia belum terlalu mengenal siapa keluarga Amanda, terlebih ayahnya.
"Bagus. Tapi perlu aku beritahu, kalian telah memilih musuh yang salah. Kalian pikir bisa hidup santai setelah ini? Andai anak magang itu mengadukan kelakuan kalian pada keluarganya, aku yakin karir kalian akan berubah 180 derajat. Atau bahasa kejamnya, riwayat kalian akan tamat!"
Ketiganya langsung menghentikan gerakan masing-masing. Lalu menatap lurus pada sang atasan yang baru saja bicara.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya mereka kompak.
"Kalian tahu siapa Tuan Aneeq?"
Ketiganya mengangguk, mereka tahu Aneeq adalah pengusaha. Ya, jadi tidak salahkan kalau mereka mengklaim kalau Amanda adalah anak orang kaya. Lalu apa maksudnya Amanda memilih magang di tempat kerja mereka? Bukankah semua itu janggal?
"Kalian tahu tapi kalian malah gegabah! Andai beliau tahu putrinya diperlakukan seperti itu, aku yakin tidak hanya kalian, tapi hotel ini pun akan dihancurkan!"
Glek!
Ketiga wanita itu meneguk ludah dengan kasar.
"Apakah dia semenakutkan itu?" tanya salah satu dari mereka, dia yang pertama mendorong Amanda hingga terjungkal.
"Sangat, bahkan Tuan Dominic nyaris mati di tangannya. Lalu apa kabar dengan kalian?"
Tubuh ketiganya langsung gemetar. Mereka saling pandang dengan ketakutan yang tiba-tiba memenuhi dada masing-masing. Kini nasib mereka ada di tangan Amanda, jadi jangan sampai kabar ini terdengar oleh ayah gadis itu.
"Sekarang kalian naik ke ruangan Tuan Dominic dan meminta maaf pada Amanda. Kalau tidak, aku tidak tahu besok kalian masih bisa bangun dari tidur atau tidak!"
Wanita itu langsung pergi setelah mengatakan semuanya. Dia sedikit menggelengkan kepala, karena tak habis pikir bagaimana bisa tiba-tiba penyerangan ini terjadi padahal sebelumnya hubungan mereka dengan Amanda terlihat biasa saja.
"Haish, lalu bagaimana dengan nasib kita?" rengek mereka bertiga.
*
*
*
Jangan lupa mampir karya bunda ya😘😘
__ADS_1