
Tubuh kekar Dominic diangkat oleh beberapa security, dan hal tersebut disaksikan langsung oleh Amanda yang baru saja keluar dari dapur.
Apa yang Daddy lakukan padanya?
Amanda tampak terperangah melihat Dominic yang tak berdaya dan berpikir apa yang sudah terjadi pada pria itu. Terlebih kini Aneeq dan Ken berjalan berbarengan.
Mulut Amanda sebenarnya sudah gatal ingin bertanya, tetapi mengingat keputusan sang ayah yang semena-mena, dia pun jadi enggan. Dengan bibir yang mencebik, akhirnya Amanda memilih untuk masuk ke dalam kamar, berusaha tak peduli dengan kondisi yang dialami Dominic.
Cih, biarkan sajalah, lagi pula itu kan salah dia sendiri, kenapa harus berbohong pada Daddy! Rutuk Amanda disetiap hentakan langkahnya.
"An, ada apa dengan putrimu? Kenapa dia terlihat marah?" tanya Ken dengan kening yang mengernyit. Karena Aneeq memang belum mengatakan duduk masalahnya.
"Biasalah, Dad, anak muda. Awalnya saja bilang tidak suka, nanti kalau sudah tidak ada baru akan mencari," jawab Aneeq, seolah memahami kecemasan yang sempat tergambar di wajah Amanda. Namun, karena gengsi gadis itu memilih untuk diam saja.
Mendengar jawaban itu tentu Ken semakin bertanya-tanya, karena usianya yang sudah semakin tua, membuat cara kerja otaknya menjadi lamban.
"Hei, maksudnya bagaimana? Bukankah pria itu adalah pria yang kamu pukuli karena kedapatan tidur dengan Amanda?" tanya Ken lagi membuat langkah Aneeq jadi berhenti.
"Betul, Dad, sudahlah jangan terlalu banyak berpikir. Biar aku yang selesaikan masalah ini, oke? Kalau Daddy ingin ikut mengetesnya, nanti aku ajak lagi, tapi stop bertanya kenapa dan bagaimana," jawab Aneeq, dia tidak mau melibatkan Ken, karena tak ingin membuat sang ayah kepikiran. Terlebih dengan kondisi tubuh Ken yang sudah tidak fit seperti dulu lagi.
Ken menghela nafas kasar, dia tahu bahwa dia memang sudah tidak pantas menyimpan banyak masalah di otaknya, yang ada kesehatannya akan terganggu.
"Oke, I trust you," kata Ken sambil menepuk bahu putra sulungnya, dan Aneeq langsung melemparkan senyuman tipis. Kemudian keduanya kembali berjalan mengantar Dominic untuk sampai di mobilnya.
*
__ADS_1
*
*
Aneeq datang ke perusahaan sedikit terlambat, karena harus meladeni Dominic terlebih dahulu. Begitu ia hendak masuk ke dalam lift, di belakang sana ada Ziel yang tiba-tiba berlari mengejarnya.
"Dad!" panggil Ziel sedikit keras membuat Aneeq langsung menoleh dan melihat Ziel yang membawa sesuatu di tangannya.
"What's up?" tanya Aneeq dengan dahi yang berlipat-lipat.
"Ada kiriman untuk Daddy," jawab Ziel sambil memperlihatkan parsel buah yang ada di tangannya.
Tentu saja hal tersebut membuat Aneeq semakin menambah lipatan di dahinya. Parsel buah? Dari siapa pikirnya?
"Siapa pengirimnya?"
[Dari : Sarah
Untuk : Calon Besan]
Aneeq langsung menyingsingkan bibir hingga giginya terlihat sedikit. Dia tentu tahu siapa Sarah, sebab mereka pernah bertemu beberapa kali dalam acara-acara penting. Ya, wanita satu ini adalah ibu Dominic sekaligus pemilik iLuva Hotels. Dan Aneeq pernah mencari tahunya sebelum Amanda magang di sana.
"What? Calon besan?" cetus Aneeq dengan wajah terperangah, sementara Ziel melipat bibir ke dalam untuk menahan senyum, sepertinya kalau diibaratkan, Sarah adalah Gloria versi tua, bar-bar dan suka semaunya. "Hah, sekarang aku tahu dari mana keberanian pria itu berasal. Ternyata biangnya juga seperti ini." Sambung Aneeq bergumam.
"Ya sudah bawa saja ke atas, kalau kamu mau ambillah beberapa," kata Aneeq lagi pada Ziel.
__ADS_1
"Tapi, Dad—"
Aneeq yang sudah memutar badan kembali menatap ke arah Ziel, "Apalagi, Ziel?"
Ziel menunjuk ke arah belakang, karena Sarah tak hanya mengirim satu buah parsel, melainkan masih banyak aneka macam makanan lain yang membuat Aneeq semakin ternganga. Lobby utama tiba-tiba menjadi gerai dadakan.
"Apakah harus aku bawa ke atas semua?" tanya Ziel dan Aneeq langsung mendesaahkan nafas.
"Dia pikir bisa menyogokku dengan makanan sebanyak ini? Haish, tiba-tiba kepalaku jadi pusing dengan tingkah anak dan ibu satu ini," keluh Aneeq sambil memegangi kepalanya. "Sudahlah, bawa beberapa ke atas dan selebihnya bagikan pada seluruh karyawan."
"Baik, Dad. Apakah Daddy mau memilihnya?"
Lirikan tajam langsung melayang ke arah Ziel, membuat pria itu paham betul bahwa sang ayah sudah kesal. "Ah, baiklah, nanti aku pilihkan saja, silahkan Daddy naik."
Aneeq menghela nafas kasar lalu membenarkan jasnya karena tiba-tiba dia merasa gerah. Dia masuk ke dalam lift dan siap untuk bekerja.
Sementara di sisi lain, Dominic yang berada di dalam mobil sudah mulai tersadar, dia membuka matanya pelan-pelan dan melihat sekeliling. Begitu kesadarannya sudah berangsur normal, dia langsung memegang kepalanya, takut kalau ternyata anggota tubuhnya sudah terpisah.
"Hah, aku masih hidup, anggota tubuhku juga masih lengkap," gumam Dominic dengan perasaan lega, setelah memeriksa semuanya.
Dominic melirik ke sana ke mari, merasa tidak asing dengan tempat yang ia singgahi. "Benar, aku masih ada di dunia, ini bukan alam baka." Gumamnya lagi saat melihat beberapa mobil yang berjajar di samping mobilnya.
Karena dia masih ingat betul, saat Ken berusaha menembak ke arahnya. Dia pikir saat itu Ken berhasil melubangi kepalanya.
"Tapi tunggu, bukankah ini basemen hotelku?" tanya Dominic, karena ternyata dia sudah diantar pulang.
__ADS_1
***