Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 77. Masih Menjalankan Misi


__ADS_3

Hari keempat.


Dominic selalu mengawali harinya dengan mulut menganga, mengingat betapa beratnya tugas yang diberikan sang calon mertua. Satu gulungan kertas menjuntai hingga ke lantai, dan semua itu berisi catatan belanja.


Ada bahan pokok dan berbagai bumbu dapur yang sama sekali belum pernah dia jumpai wujudnya.


"Kamu harus membelinya di Pasar tradisional!" ujar Aneeq yang membuat Dominic semakin terhenyak.


"Bukannya di supermarket juga ada?" tanya Dominic.


"Benar, tapi aku ingin kamu masuk ke dalam pasar," jawab Aneeq dengan wajah setengah meledek. Dia yakin Dominic pun belum pernah datang ke tempat itu.


"Baik, saya yakin pasar bukanlah tempat yang buruk, saya akan ke sana sekarang," timpal Dominic seolah menantang. Detik berikutnya dia langsung pamit untuk pergi dan membeli semua yang ada di daftar belanja.


Namun, karena baru pertama masuk ke dalam pasar. Dominic melalui beberapa drama, dari bau yang menyengat, terik matahari yang memancar langsung ke kulitnya, juga desakan yang tak terelakan.


Dan yang paling membuatnya tidak menyukai tempat ini adalah setiap dia membeli, pasti para pedagang justru menggodanya. Bahkan rela memberikan harga murah.


"Udah segini aja belinya ganteng?" tanya sang pedagang genit, karena wajah dengan rahang tegas itu banyak membuat kaum emak-emak terpesona. Rasanya ingin menjambak sedikit saja bulu-bulu halus di sekitar pipi Dominic.


"Sudah, Bu," jawab Dominic dengan cepat sambil mengambil belanjaannya dan menyerahkan uang pecahan 100 ribu.


"Telurnya nggak sekalian?"


Dominic menggeleng sambil menahan aroma yang menusuk indera penciumannya.


"Gula? Gula? Di sini ada gula pasir, gula merah yang manisnya kayak Mas-nya."


"Tidak, Bu, sudah cukup itu saja," jawab Dominic setengah frustasi. Namun, dia belum bisa bernafas lega setelah mendapatkan kembalian. Karena masih harus membeli yang lainnya.

__ADS_1


Di saat ia melewati pedagang ikan, dia langsung merasa mual, hingga sepanjang jalan dia terus menutup mulut. Tak peduli akan tatapan semua orang, yang penting dia berhasil menyelesaikan tugas dengan baik.


"Astaga, tempat mengerikan apa ini?" gerutu Dominic setelah berhasil keluar, dia menjinjing seluruh kantung belanjaan yang entah ada berapa jumlahnya.


Tak ingin berlama-lama dia pun segera memasukkan semua itu ke dalam bagasi mobil. Lalu membawa kendaraan itu keluar, melewati jalanan yang sedikit becek dan juga sampah yang berserakan.


"Halo, Tuan Aneeq, Tuan Dominic berhasil menyelesaikan misi," ucap seseorang dibalik telepon sambil memperhatikan mobil Dominic yang sudah mulai memasuki jalanan.


@@@


Hari Kelima.


Dominic merasa bahwa misi kali ini jauh lebih mudah. Karena dia hanya ditugaskan untuk menemani Aneeq memancing. Begitu ia sampai di tempat pemancingan ikan, Aneeq benar-benar sudah duduk di sana dengan dua alat pancing.


"Kamu tidak nyasar 'kan?" tanya Aneeq, sebab dia hanya memberitahu tentang tempat ini, tanpa mengirim lokasi. Namun, bersyukur, jiwa jalanan Dominic bisa diandalkan jadi dia tidak tertipu oleh arahan maps.


"Tidak masalah. Duduklah di sana dengan alat pancingmu. Hari ini kita adu, siapa yang paling banyak menghasilkan ikan, dia yang menang," ujar Aneeq seraya menunjuk tempat duduk yang sudah tersedia tak jauh darinya, dan alat pancing yang sudah terpasang.


Kini Dominic hanya tinggal menunggu para ikan memakan umpannya.


"Kalau kalah hukumannya apa, Tuan?" tanya Dominic, dia tertarik dengan taruhan kali ini. Karena sedikit optimis bisa mengalahkan sang calon mertua.


"Yang kalah tidak boleh pulang, sebelum mendapatkan ikan sebanyak yang didapatkan pemenang. Dan waktu memancing kita adalah satu jam," tutur Aneeq, dan Dominic tidak curiga sama sekali. Dia malah merasa bahwa hari ini Aneeq mulai baik padanya.


Di sela-sela menunggu ikan memakan umpan. Aneeq membuka makanan yang telah disiapkan sang istri sebelum dia berangkat.


"Kamu mau?" tanya Aneeq menawarkan kentang serta sosis goreng pada Dominic.


"Terima kasih, Tuan," tolak Dominic dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak usah canggung begitu, makanlah kalau kamu mau. Aku juga bawa dua botol jus jeruk, kamu boleh mengambilnya satu. Ya, sambil menunggu setidaknya basahi tenggorokanmu."


Kalau sudah seperti ini kepercayaan Dominic semakin meningkat. Dia memberanikan diri mengambil botol berisi jus jeruk yang Aneeq maksud. "Terima kasih, Tuan."


"Hemmm."


Begitu mata Aneeq beralih pada kolam, alat pancingnya mulai bergerak-gerak. Seketika itu juga dia langsung menghentikan kunyahannya. "Wah, aku yakin umpanku berhasil!" Seru Aneeq langsung menarik alat pancing itu naik ke permukaan. Dan benar saja satu ikan telah berhasil menyangkut.


"Wow, satu-kosong!" Aneeq terlihat bahagia. Dia pun segera meletakkan ikan di dalam ember. Kemudian memasang umpan lagi.


Awalnya Dominic merasa bahagia melihat Aneeq yang begitu heboh. Namun, wajahnya berubah masam ketika Aneeq terus-menerus mendapatkan ikan, sementara dia belum sama sekali.


"Hei, ikanku sudah 7, kamu kapan akan mendapatkannya?" tanya Aneeq dengan tatapan mengejek. Dia tampak sangat kegirangan, apalagi lawannya masih nol.


Dominic hanya bisa menghela nafas kasar. Kenapa juga dia belum mendapatkan ikan? Padahal mereka memancing di kolam yang sama.


Hingga waktu satu jam telah berlalu, Aneeq berhasil memenangkan taruhan hari ini. Dia pun segera berkemas untuk pulang dengan membawa ikan hasil pancingannya.


"Aku dapat 15 ikan, jadi setidaknya lebihi walaupun hanya satu," ucap Aneeq sebelum pergi, dia menepuk-nepuk bahu Dominic, seolah memberikan semangat, padahal dia sangat senang karena Dominic kalah. "Makanan itu untukmu saja, biar kamu tidak bosan. Hahahah."


Aneeq berjalan sambil tertawa. Sementara Dominic hanya bisa merenungi nasibnya. Hingga setelah Aneeq benar-benar menghilang, dia pun menarik tali pancingnya. Dia rasa ada yang salah.


"Astaga!" ucap Dominic dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa dia mendapatkan ikan, kalau umpannya saja tidak ada. "Benar-benar ya, apa sebutan untuk calon mertua yang suka menindas menantunya? Kalau begini ceritanya, sampai kiamat pun aku tidak akan mendapat ikan!"


Dominic mulai menggerutu. Karena dengan bodohnya dia percaya begitu saja pada Aneeq yang suka mengerjainya.


@@@


Yang bosen dan merasa bertele-tele, aku udah sering bilang, kalian tinggal skip. Dari pada ancurin mood nulisku yang udah aku bangun dengan susah payah.

__ADS_1


__ADS_2