Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 72. Cemas Bukan Main


__ADS_3

"Kalian tidak akan aku pecat, tapi aku akan menurunkan jabatan kalian per hari ini. Kalau kalian tidak terima, silahkan angkat kaki. Karena kalian dipecat secara tidak hormat!" cetus Dominic menyambung ucapannya yang memproklamirkan Amanda sebagai calon istrinya.


Satu sisi dia menyukai sikap lembut dan pemaaf Amanda, tetapi kali ini dia tidak bisa mentolerirnya. Dia ingin memberikan pelajaran yang setimpal bagi mereka yang bersikap semena-mena terhadap gadisnya.


Belum sempat ada yang menimpali ucapan Dominic, pria itu sudah menarik tangan Amanda untuk keluar dari ruangan. Karena waktu sudah semakin larut, dia takut Aneeq akan berpikir macam-macam lagi tentangnya.


Ketika mereka baru saja melewati pintu, Amanda yang tersadar langsung meronta-ronta, dia menghentak tangan Dominic hingga terlepas.


"Aku bilang jangan bersikap semena-mena! Mereka sudah meminta maaf padaku, jadi lupakan kejadian ini!" cetus Amanda, masih saja membela ketiga wanita yang telah menyerangnya.


Dominic sampai tak habis pikir kenapa Amanda begitu kuat dalam pendiriannya padahal mereka sudah sangat keterlaluan. Tindakan yang ketiganya lakukan sudah masuk ke tindak kriminal.


"Kenapa hanya padaku kamu mengatakan itu? Bukankah mereka yang sudah sangat semena-mena padamu? Tegaslah sedikit, aku tidak suka mereka menyakitimu," balas Dominic dengan nada yang meninggi, membuat Amanda begitu tertegun. Dia melakukan itu karena teringat dengan Aneeq yang selalu memiliki sikap ketika menghadapi para musuhnya. Dia berharap Amanda pun memiliki sikap seperti itu.


Amanda terdiam dengan pikiran yang melambung tinggi, dia memang terluka saat ini, tetapi bukan berarti dia tidak melawan saat penyerangan itu terjadi. Bahkan mungkin ketiganya mendapat rasa sakit yang jauh lebih banyak dari dirinya.


"Lagi pula siapa yang suka disakiti dan diperlakukan seperti itu? Tidak ada, aku sudah membalas mereka karena aku tidak selemah yang kamu pikir! Aku bersikap seperti ini karena aku juga memikirkan nasib hotelmu dan kehidupan mereka selanjutnya. Aku tidak mau Daddy sampai tahu, aku sudah lelah dijauhi orang-orang karena mereka menganggap Daddyku adalah orang berbahaya. Persepsi mereka sudah dipenuhi betapa hebat dan kejamnya Daddy, maka dari itu aku lebih memilih untuk menyembunyikan identitasku. Jadi aku mohon, hentikan masalah ini sekarang juga, mata-mata Daddyku banyak," jelas Amanda dengan menggebu, bahkan tak terasa sudut matanya mengembun hingga mengalirkan bulir-bulir bening.


"Aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri," lirih Amanda dengan suara tangis yang tertahan.


Aneeq memang sangat posesif, dan ia sangat bersyukur dengan itu. Akan tetapi terkadang semuanya membuat ruang dalam diri Amanda terhimpit. Sampai di kampus saja, tidak banyak yang ingin berteman dengannya setelah tahu bahwa ayahnya adalah orang yang menguasai dunia bisnis.


Melihat Amanda yang menangis di depannya, Dominic kembali luluh. Dia menghela nafas panjang dan merasa bersalah karena sudah bicara dengan nada tinggi di depan Amanda.


Amanda mengusap wajahnya dengan kasar, tetapi detik selanjutnya ia merasakan tubuhnya ditarik dan masuk ke dalam dada bidang Dominic.

__ADS_1


"Aku minta maaf, aku tidak berpikir sampai ke sana," ucap Dominic seraya mengelus rambut Amanda dengan begitu lembut.


*


*


*


Sementara di lain tempat, Aneeq sedang mondar-mandir tak karuan karena belum mendapat kabar dari anak buahnya tentang Amanda. Sampai sekarang katanya mereka belum melihat Amanda keluar dari hotel, bahkan bertanya pada staff pun tak ada jawaban. Karena mereka terkesan menutupi kejadian beberapa saat lalu.


Satu jam hampir terlewati, sebenarnya ada apa dengan putrinya?


"Lihat, kamu menyiksa dirimu sendiri! Kamu memberikan pengawalan pada Amanda, tetapi mereka seperti tak ada gunanya!" ketus Jennie yang begitu jengah melihat tingkah suaminya. Sedari tadi dia pun sudah menghubungi Amanda tetapi nomor ponsel putrinya sedang tidak aktif.


"Kalau begitu biar aku yang mencarinya! Mungkin anak buahku tidak melihat Amanda keluar," ujar Aneeq menimpali ucapan Jennie. Dia segera meraih kunci mobil dengan gerakan tergesa.


Karena pikirannya yang sedang kacau, Aneeq tak bisa menimpali ucapan Jennie. Yang ada mereka akan bertengkar. "Aku minta maaf, tapi akan aku pastikan bahwa Amanda baik-baik saja. Aku pergi dulu."


Cup!


Aneeq menyempatkan diri untuk mengecup kening Jennie sekilas, kemudian beranjak menuju mobilnya. Bahkan karena saking cemasnya Aneeq sampai melupakan ponselnya yang tadi ia lemparkan ke sofa.


Saat ini jam menunjukkan tengah malam, Aneeq menyusuri jalur bus yang biasa dinaiki oleh putrinya. Siapa tahu sang anak masih ada di sana dan memiliki masalah.


"Haish, ke mana ponselku?" gumam Aneeq saat ingin menghubungi anak buahnya untuk ikut mencari keberadaan Amanda. "Astaga, kenapa aku bisa melupakannya? Sekarang mana bisa aku menghubungi mereka."

__ADS_1


Aneeq menyetir sambil memperhatikan jalanan dengan seksama, berharap masih ada bus yang lewat. Namun, sudah beberapa menit berlalu dia belum menemukan apa yang ia cari. Bahkan jalanan sudah mulai lenggang, ibu kota mulai menunjukkan sisi sepinya untuk sesaat.


Saking fokusnya Aneeq sampai tidak sadar kalau mobilnya berpapasan dengan mobil Dominic. Dan di sana sudah jelas ada Amanda, ya, Dominic benar-benar mengantarkan gadisnya.


Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mobil mewah itu sampai di kediaman keluarga Tan. Sebelum turun Amanda menghadap ke arah Dominic, "Terima kasih sudah mengantarku."


Dominic mengangguk kecil.


"Sekali lagi aku minta maaf atas sikapku yang sok tahu. Aku hanya tidak ingin kamu ada dalam bahaya."


"Ya aku mengerti, kalau begitu aku masuk dulu, sampai bertemu besok," balas Amanda seraya meraih handle pintu.


"Eum, Amanda."


"Ya!"


Tanpa aba-aba Dominic langsung mencium kening Amanda dengan mesra membuat Amanda terpaku seketika. Antara menolak dan menerima, dia tidak tahu yang mana yang jelas Amanda hanya diam saja.


"Aku akan berusaha untuk selalu menjagamu, trust me!"


Deg!


Ada jantung yang mendadak bergemuruh. Namun, ada yang lebih membuat jantungan dari itu, karena mereka sama-sama mendengar suara teriakan.


"BUKA!" teriak Aneeq.

__ADS_1


**


Jadi cincang lagi lu, Bang🤣🤣🤣


__ADS_2