Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 22. Salah Dengar?


__ADS_3

Hanya karena mendapat pujian dari pria yang disukainya, Amanda sampai tak bisa tidur. Dia terus terjaga dengan senyum yang senantiasa menghiasi bibirnya. "Astaga, kenapa aku jadi gila seperti ini?"


Gadis itu bergumam, lalu kembali mengusak wajahnya ke bantal dengan gemas. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perut, rasanya sungguh menggelitik.


"Sepertinya usahaku tidak akan sia-sia. Tuhan pasti mendengar doaku kali ini."


Amanda melebarkan tangannya dan menatap langit-langit kamar. Seolah di atas sana ada bayangan wajah Saga yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Hei, Kak Saga? Kenapa kamu membuatku terus-menerus salah tingkah?"


Persis seperti orang gila, Amanda berbicara sendiri, tertawa sendiri, bahkan menggerakkan kakinya ke atas, lalu menutup wajahnya seolah sedang malu.


Dia terus seperti itu hingga malam semakin larut. Karena tidak ada yang meladeni dan akhirnya lelah sendiri. Amanda pun perlahan-lahan menutup mata.


*


*


*


Seperti rutinitas biasanya, Amanda akan bangun saat alarm sudah berbunyi dengan nyaring. Karena tidur terlalu larut, dia pun terlihat masih mengantuk.


Namun, meskipun begitu dia tetap bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi dengan mata yang setengah terbuka. Karena dia tidak mau berurusan dengan sang bos yang super galak dan menyebalkan.


Amanda hanya membutuhkan waktu 59 menit untuk bersiap-siap. Setelah selesai sarapan dia langsung keluar dan turun ke basemen.

__ADS_1


Namun, saat pintu lift terbuka, dia justru melihat Saga yang memakai pakaian olahraga sedang adu mulut dengan Donita. Keduanya langsung terdiam dan sama-sama menatap ke arah Amanda.


Saat lift hendak tertutup kembali, Saga melangkah keluar dan Donita senantiasa mengekor padanya. Bahkan wanita itu tak henti-hentinya berusaha menarik tangan Saga.


"Saga, aku tidak mau kita berpisah!"


"Aku sudah bilang pergi dari sini, kenapa kamu tidak dengar?!" ucap Saga seraya menepis tangan Donita. Namun, wanita itu tetap tak menyerah.


"Saga!"


Pria yang dipanggil namanya hendak menoleh, tetapi Amanda bergerak cepat dengan membuat tameng. "Kak Saga sudah mengusirmu, jadi pergilah. Apa telingamu tuli?"


Mendengar itu rahang Donita langsung mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. "Kamu tidak perlu ikut campur masalah kami!"


"Oh jelas aku harus ikut campur. Kamu tidak ingat aku siapa?"


"Memangnya siapa kamu? Aku tahu kalian tidak memiliki hubungan apa-apa."


"Haish, sudah tentu karena aku adalah tetangga Kak Saga, sebagai tetangga yang baik aku harus melindunginya dari wanita sepertimu!" tukas Amanda, lalu mendorong tubuh Saga hingga pria itu sampai di apartemennya.


"Masuklah, Kak, biar wanita ini menjadi urusanku."


Saga terlihat bingung, bukankah seharusnya dia yang melindungi Amanda? Akan tetapi kenapa keadaannya malah berbalik.


"Tapi, Amanda—"

__ADS_1


Sebelum Saga melanjutkan ucapannya, Amanda sudah lebih dulu menghadap ke arah Donita. "Tunggu apalagi? Pergi dari sini atau ku panggilkan security? Supaya kamu diseret, mau?"


"Ck, dasar gadis gila!" umpat Donita dengan tatapan sebal.


"Oh, ternyata kamu menantangku yah. Baiklah, diam di sini sampai security datang untuk melemparmu ke jalanan!"


Amanda langsung mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura menelpon. Hal tersebut membuat Donita tak bisa berkutik, karena Saga benar-benar tak membelanya sedikit pun.


"Halo, Pak!" Baru kalimat itu yang keluar dari mulut Amanda, tetapi Donita langsung berteriak.


"Hei, hentikan! Aku akan pergi, tapi ingat urusan kita belum selesai!"


Lantas setelah itu Donita memutar badan untuk meninggalkan apartemen mantan kekasihnya. Dia pergi dengan dada yang menggebu-gebu, begitu kesal dengan sikap Amanda.


Sementara gadis itu langsung menyimpan kembali ponselnya dan tersenyum lebar. "Cih, jangan harap kamu bisa mendekati Kak Sagaku lagi. Karena aku akan menghadang jalanmu, Dasar Donat Kentang!"


"Kamu bilang apa?"


Tiba-tiba Saga menyambar membuat Amanda langsung gelagapan. Dia pikir Saga sudah masuk ke dalam apartemen, nyatanya pria itu senantiasa berada di ambang pintu.


Amanda lantas berbalik dan langsung menampilkan senyum kuda. "Hehe, bukan apa-apa. Aku hanya kesal dengan Kak Donita, jadi aku terbawa emosi."


Namun, Saga seperti tak menerima jawaban itu. Karena dia mendengar kata lain dari mulut Amanda. Atau dia memang salah dengar?


***

__ADS_1


Coba dikorek kupingnya, Bang🤣🤣🤣


__ADS_2