
Sementara itu Dominic yang dilarikan ke rumah sakit langsung mendapat penanganan dari pihak dokter. Dia masih tampak sadarkan diri, meski sekujur tubuhnya terasa sakit dan tak bisa digerakan.
Satu yang ia sesali, ia bertemu ayah dari wanita pujaannya dalam situasi seperti ini. Karena dengan begitu, ia sudah pasti mendapat predikat buruk dari Aneeq.
Dominic tidak sendirian, sebab setelah membereskan berita yang terlanjur beredar, Ziel datang dan menghubungi Lucas, asisten Dominic. Kebetulan ponsel Dominic ia yang pegang, dan ia sedikit terkejut ketika melihat isi wallpaper pria itu.
Ternyata adalah foto sang adik, yang terlihat berada di rooftop kafe. Sepertinya Dominic dan Amanda kerap menghabiskan waktu berdua. Dan ia yakin, sang ayah tidak mungkin tidak tahu akan hal itu.
"Cih, orang kalau sudah cinta mendadak jadi bodoh," gumam Ziel, dia hendak masuk ke ruangan Dominic, untuk melihat keadaan pria itu. Namun, ponsel milik Dominic justru berdering, karena Sarah sedang berusaha menghubungi putranya.
Karena tahu bagaimana khawatirnya seorang ibu ketika terjadi sesuatu pada anaknya. Ziel pun mengangkat panggilan itu. Dari sana langsung terdengar suara Sarah yang begitu menggema. "Dimana kamu sekarang, Dom? Kamu habis melakukan apa pada calon menantu Mommy?"
Kening Ziel berkerut, karena sepertinya Sarah mengetahui berita yang baru saja naik ke media. Namun, bukankah seharusnya wanita itu mengkhawatirkan keadaan putranya, bukan malah memikirkan tentang Amanda.
"Oh iya kamu juga belum memberitahu Mommy kalau sebenarnya Maman itu anak Tuan Aneeq. Astaga, Dom ... Tuan Aneeq itu bukan orang biasa, bisa-bisanya kamu berurusan dengannya. Katakan di mana kamu sekarang, Mommy mau bertemu!"
Suara Sarah kembali mendominasi, tetapi Ziel masih betah untuk terdiam. Ingin mendengar apalagi yang akan dikatakan oleh wanita paruh baya itu.
"Dominic, jawab Mommy, jangan diam saja!"
Mulut Sarah sudah gatal ingin mengomel, karena hanya ada hening di ujung sana. Namun, tiba-tiba terdengar suara deheman yang begitu asing di telinganya.
"Ehm, maaf, Nyonya, ponsel Tuan Dominic saya yang pegang, karena dia baru saja menjalani beberapa pemeriksaan. Perkenalkan saya Ziel," ujar Ziel yang membuat mulut Sarah menganga.
Sepertinya masalah yang Dominic hadapi sangat serius, hingga putra sulung Aneeq juga ikut turun tangan.
Ya, wanita itu sempat melihat berita tentang putranya. Karena jelas sekali di sana mengatakan bahwa orang yang dipukuli pimpinan Tan Group adalah general manager iLuva Hotels.
__ADS_1
Namun, belum sempat ia membaca berita tersebut sampai akhir. Ponselnya mendadak blank, dan ternyata berita sudah tidak tersedia, alias ditarik dari edaran.
"Anda putra Tuan Aneeq bukan?" tanya Sarah dengan terbata-bata.
"Benar, Nyonya."
"Ah saya minta maaf kalau begitu, Tuan. Saya pikir Dominic yang pegang ponselnya, oh iya Dominic diperiksa untuk apa ya? Apakah dia di kantor polisi sekarang?" tanya Sarah, berpikir kalau pemeriksaan tersebut karena Dominic hendak dipenjara.
"Bukan, Nyonya. Tuan Dominic ada di rumah sakit. Kalau untuk lebih jelasnya, Nyonya bisa datang ke rumah sakit Puri Medika."
Sarah langsung menganga, karena ternyata Dominic sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Itu artinya berita yang tersebar luas benar adanya.
"Baik, Tuan, saya akan segera ke sana. Terima kasih atas informasinya," ujar Sarah, dia tak bisa marah, karena paham betul bagaimana kepribadian Aneeq yang dikenal para pengusaha. Pria itu tidak akan menghancurkan lawan, kalau tidak disenggol duluan.
Tanpa banyak kata, Sarah langsung menyambar tas miliknya dan meminta supir untuk mengantarnya ke rumah sakit Puri Medika.
***
"Bagaimana ini, Aunty? Daddy benar-benar marah padaku," ujar Amanda sambil sesenggukan.
"Haish, aku juga bingung. Kak An tidak pernah semarah ini, bahkan dia sampai memindahkan Asisten Saga ke kantor cabang," jawab Gloria sambil menghela nafas.
Amanda sedikit terkejut mendengar kabar itu, dia sampai mengangkat kedua alisnya. "What? Kak Saga dimutasi?"
"Iya, aku dengar dari Ziel, dan sekarang dia sedang mencari asisten baru. Lagi pula kenapa kamu bisa pergi dengan pria itu sih? Sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian?" celetuk Gloria dengan tatapan menginterogasi.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa," rengek Amanda.
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa dia mengantarmu yang notabenenya hanya anak magang? Kamu ini bodoh atau bagaimana sih? Kalau sudah seperti itu, artinya dia memiliki maksud tertentu. Begitu saja tidak paham!" cerocos Gloria sebagai mantan playgirl kelas kakap. Karena dalam satu waktu dia bisa mendapatkan 15 orang pacar sekaligus.
"Mana aku tahu, lagi pula maksud yang seperti apa?"
"Makanya punya wajah cantik itu jangan disia-siakan, seperti aku dong, karena sudah menemui banyak pria aku jadi tahu bagaimana sifat mereka," omel Gloria, membuat perasaan sedih Amanda berubah jadi rasa kesal.
"Huh, Aunty saja tidak tahu kalau sebenarnya Kak Ziel memendam rasa cinta!" cetus Amanda, membalik perkataan tantenya.
"Hei, hei, yang itu berbeda. Sebelumnya kan kakakmu itu manusia batu, patung tidak bernyawa, kaku! Bagaimana bisa aku memprediksinya," balas Gloria membela diri.
"Ya begitulah sikapnya. Dia juga kaku, suka marah-marah tidak jelas, dan pendendam. Lalu bagaimana aku bisa menebak perasaannya?"
Tanpa sadar Amanda mendeskripsikan sikap Dominic sambil membayangkan pria itu yang suka sekali mencari gara-gara dengannya.
Satu toyoran Gloria berikan di kening Amanda, membuat gadis itu mendelik.
"Aunty!" jeritnya lengkap dengan bibir mengerucut.
"Kalau begitu sudah jelas, kalau pria kaku sudah mulai perhatian, berarti dia memang mengincarmu. Aku yakin malam itu dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, dan kamu yang bodoh tidak sadar akan hal itu," jelas Gloria yang membuat Amanda bergeming.
Seperti De Javu, dia teringat kalimat yang dilontarkan Dominic pagi itu.
'Kita buat semuanya jadi nyata'
"Ah tidak tahulah, aku pusing!" rutuk Amanda sambil mengacak-acak rambutnya.
***
__ADS_1
Ngothor juga pusing, Man😪