
"Neng Clara, mie ayam dengan pangsit sudah siap,” ucap pedagang itu sambil meletakkan mangkuk ke atas meja.
Kedatangan pria itu seketika mengejutkan Clara, tangannya refleks menyentuh dada dengan mata membulat, menatap Abang penjual itu dengan wajah gugup.
“Astaga, Tuan. Mengagetkan saya saja,” keluh Clara membuat Abang penjual itu tertawa ringan.
“Maaf, Neng. Makanya jangan melamun. Abang dateng jadinya malah kaget," sahut Abang itu sambil tertawa kecil. ”Ayo, nanti keburu dingin, Neng. Silakan segera dinikmati,” tambah Abang penjual itu segera diberi anggukan kepala oleh Clara.
Clara menoleh lagi ke arah jalanan, menengok serta mengedarkan pandangan ke berbagai arah. Setelah memastikan pria itu sudah tidak terlihat, hati Clara merasa cukup lega. Ia pun segera kembali menatap semangkuk mie yang menguarkan aroma sedap dan mulai menghabiskan makanan itu.
Clara begitu menikmati jajanan pertama sejak dua belas tahun terkurung, mengecap rasa enak yang tidak pernah dirasakannya selama berada di rumah itu. Teshar hanya akan memberi makanan dengan porsi sedikit, tidak peduli seberapa lapar dirinya saat itu. Sambil memakan mienya, gadis itu mengoceh kesal sendiri.
Bayangan saat aturan makan yang ditentukan Teshar selama berada di rumah itu kembali memenuhi pikiran Clara.
'Maaf, Nona. Tuan Teshar sudah mendaftar semua menu makanan untuk Anda. Jadi, kami tidak akan melanggar perintah itu hanya karena Anda marah.'
Jawaban tidak terbantahkan dari pelayan pribadinya saat itu, selalu menjadi andalan ketika dirinya mengeluh dengan makanan yang diterimanya setiap hari.
Clara mengepal erat jemari tangan seraya menggeleng demi mengenyahkan bayangan itu segera, wajahnya terlihat bersungut.
“Sekarang aku bisa makan mie sampai puas, asal kamu tahu," ocehnya sambil menyeruput kuah terakhir yang masih tersisa dari dalam mangkuk.
__ADS_1
Ia segera mengusap dagu serta bibirnya dengan tisu yang berada di atas meja.
Clara segera meminum segelas air putih yang tersedia dan segera berdiri dengan tangan meraih selembar uang dari dalam amplop. Ia pun mendekati Abang penjual untuk membayar karena ingin segera pergi dari sana.
Clara merasa cemas kalau sampai Teshar melihatnya berada di sana dan menangkapnya kembali. Sebisa mungkin ia harus menyingkir dari area itu.
”Berapa, Tuan?" tanya Clara sambil menyerahkan selembar uang.
“Panggil 'Abang' aja, jangan tuan," ucap Abang itu sambil menyerahkan uang kembalian kepada Clara seraya tersenyum.
Clara membalas senyuman itu dan menerima uang itu dengan kedua tangannya. Clara tidak menyangka uangnya masih ada sisa.
Di sela langkahnya yang riang, Clara kembali menghitung uang yang tersisa. Tanpa ia sadari ternyata ada seorang pria yang selalu mengawasi pergerakannya. Seorang gadis cantik dari kalangan orang kaya sedang berjalan sendirian, beberapa orang yang berniat jahat pasti akan menjadikan gadis sepertinya menjadi target empuk sebuah tindak kejahatan.
Bruk! Pria itu menubruk pundak Clara hingga tubuh gadis itu terhuyung ke depan. Dengan gerakan gesit, pria itu merebut amplop dari tangan Clara lalu berlari secepatnya.
Clara membeku sejenak—seperti tidak bisa bergerak, sebelum akhirnya ia tersadar kembali dan segera berteriak meminta tolong saat pria penjambret uangnya itu sudah berlari menjauh. Sambil memutar kepala menengok sana-sini ia akhirnya memilih berteriak meminta bantuan orang-orang.
”Maling! Tolong, ada yang mengambil uangku!" teriak Clara penuh kepanikan.
Karena suasana sekitarnya masih cukup ramai, orang-orang segera berdatangan mengerumuni.
__ADS_1
“Ada apa?" tanya seseorang yang berlari ke arahnya.
”Itu … tolong!" Dengan panik Clara menunjuk ke arah pria yang berlari semakin menjauh ke ujung jalan. "Dia merebut uangku," jawab Clara panik histeris.
”Kita kejar!" teriak mereka bersama-sama.
“Jangan sampai orang itu lolos!" sahut yang lainnya ikut berlari mengejar.
Clara berusaha ikut menyusul dengan langkah yang terseok-seok. Beberapa orang juga masih berusaha membantunya dengan ikut mengejar pria itu, tapi sayang mereka semua kehilangan jejak. Pria penjambret itu sudah menghilang.
Clara hanya bisa terduduk lemas dan menangis sedih menyadari uangnya ludes semua. Ia kehilangan barang berharga yang akan digunakan untuk menyambung hidup.
“Bagaimana ini?" keluhnya tertunduk sedih.
Ia masih menunduk dan memukul kesal sepatunya, merutuki nasibnya kini harus bagaimana. Tanpa uang, tanpa saudara, tanpa orang yang dikenal. Clara semakin jengkel dan mulai melemparkan beberapa kerikil kecil yang ada disekitarnya.
Clara bersikap defensif saat mendengar suara langkah kaki mendekat, hingga pandangannya kini teralihkan kepada sepasang sepatu hitam mengkilap yang berdiri tepat di hadapannya. Ia mendongak perlahan menatap sempurna seorang pria yang tinggi menjulang yang saat ini juga tengah menatapnya.
Clara berusaha mundur hingga terduduk di jalan beraspal itu dengan mata membelalak kaget, memandang mata pria itu yang seperti hendak menerkamnya hidup-hidup.
Bersambung
__ADS_1