
Tangannya dengan cekatan segera meraih hendel pintu dan segera memutar dengan gerakan sangat pelan. Ia berharap tidak akan menimbulkan suara yang akan membuat rencananya menjadi sia-sia karena ketahuan.
Setelah pintu bisa terbuka karena tidak dikunci oleh kedua pria tadi, gadis itu pun segera melongok mengamati keadaan sekitarnya. Lagi-lagi sepi, tidak ada siapa-siapa yang tampak dari pandangan Clara mengamati ruangan.
Sebuah tengah ruangan terbuka berbentuk oval yang luas. Terdapat empat buah sofa berwarna putih cream—dua panjang dan dua pendek—berada di pinggiran dan juga beberapa pintu berjajar. Terdapat juga beberapa lemari kaca yang tampak mengisi ruangan itu penuh dengan koleksi barang hiasan antik.
"Apa aku keluar dan bersembunyi dulu?" bisiknya kembali dalam hati.
Tangannya mencengkeram dengan erat gagang pintu. Sambil melangkahkan kaki sebelah kiri ia keluar dari sana.
"Ya, Tuhan. Jagalah aku, selamatkan aku," ucapnya lirih berdoa.
Gadis itu segera keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Kedua matanya menatap waspada ruangan tengah sangat luas berbentuk oval itu sambil mengendap dan berlari secepatnya ke arah belakang kursi sofa besar yang berada di pojokkan untuk sejenak bersembunyi. Ia belum tahu di mana jalan keluar, pintunya banyak dengan bentuk serupa. Ia bingung memilih yang mana.
Suara ramai yang berasal dari ruang di sampingnya bersembunyi terdengar semakin jelas setelah pintunya terbuka, mereka semua sepertinya sudah hendak keluar. Nyali Clara semakin menciut, saat semua orang keluar dan jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Gadis itu memejamkan kedua bola mata, tubuhnya semakin masuk ke sela sisi belakang kursi sofa agar tidak terlihat dan sampai ketahuan. Tubuhnya semakin gemetar ketakutan, apalagi saat merasakan seorang pria membuka pintu ruangan tempatnya disekap.
"Gadis itu tidak ada di dalam kamar!" teriak salah satu pria itu sambil berlari ke tengah ruang.
Semua orang yang hendak menuju pos masing-masing setelah melakukan briefing tadi segera berlarian mendekat ke arah kamar tempat Clara dikurung.
"Bodoh! Kenapa bisa lepas! Cepat cari!" bentak pria bertubuh kekar yang merupakan ketua mereka itu dengan wajah kemarahan.
"Tadi, gadis itu sedang makan, bos," jawab pria yang tadi ditugaskan menjaga Clara sambil menunduk salah.
Wajah ketua itu terlihat geram. Pria itu memandang satu persatu bawahannya dengan rahang keras, mengetatkan barisan giginya menahan murka atas kebodohan bawahannya.
"Berpencar, dan cari gadis itu cepat!" teriaknya lantang.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab anak buahnya serempak.
"Potong kakinya kalau perlu!" gertak pria itu dengan suara keras, ia merasa yakin saat ini gadis itu masih bersembunyi di dalam rumah itu dan belum berhasil kabur.
Clara menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya semakin meringkuk, bersembunyi dengan wajah ketakutan dan tangannya gemetaran.
***
Sementara itu di tempat lain.
Teshar memarkir mobil setelah sampai di kediaman milik kakek Bima, langkahnya tergesa saat menjejak kaki di halaman. Ia bahkan mengabaikan beberapa pelayan rumah yang menyapa. Pikirannya benar-benar diliputi kekalutan.
Setelah mengecek rekaman dari kamera pengawas di dalam unit apartemen yang terkoneksi dengan ponselnya, memang benar saat ini gadis kecil itu sudah tidak berada di sana. Teshar sadar dengan ancaman yang diterimanya, dan merasa kesal karena Jeff sudah melangkah lebih dari apa yang ia perkirakan.
“Kakek di mana?" tanya pria tampan itu ketika kakinya menjejak di dalam rumah.
“Aku langsung ke sana," pamit Teshar seraya berlari kecil menuju lantai atas tempat ruang kerja kakeknya berada.
”Silakan, Tuan," jawab pelayan itu memberi jalan.
Teshar menyusuri tangga dengan langkah cepat, menyusuri koridor beberapa saat hingga sampai ke ujung ruang. Ia menghela napasnya, mencoba mengatur ritme dan ketenangannya dalam mengatasi masalah ini. Ia tidak menyangka gadis itu berhasil menjatuhkan ketenangannya dalam berpikir dan mengatur strategi. Bayangan raut wajah polos dan sikap penurut gadis kecilnya itu kembali membuat pikirannya mengular ke mana-mana.
“Clara, apa kamu baik-baik saja?" gumamnya pelan, kakinya berhenti melangkah tepat di depan pintu ruangan kerja kakeknya. Pikirannya kembali jatuh kepada gadis itu.
Setelah termangu sejenak, Teshar mengetuk pintu hingga suara kakek Bima terdengar menyuruhnya masuk, baru ia berani membuka pintunya.
"Masuklah, Cucuku," ucap Bima berjalan menghampiri.
Pria tua yang terlihat bugar di usianya yang ke delapan puluh tahun itu tersenyum. Teshar menundukkan kepala memberi hormat sebelum melangkah mendekati kakeknya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu bertidak ceroboh! Ini tidak seperti kamu biasanya, Teshar," omel Bima mengomentari cucunya.
Teshar segera duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya saling menggenggam erat dan bertumpu di atas kedua lututnya. Ia mencoba untuk bernegosiasi dengan kakeknya, walau apa yang menjadi penawarannya mungkin saja tidak begitu berarti bagi kakeknya.
"Apa yang bisa kakek lakukan untukmu?" tanya Bima sambil duduk mengambil kursi yang berseberangan dengan cucunya.
"Kakek sudah tahu kalau gadis itu menghilang?" tanya Teshar dengan hati penasaran.
"Sudah aku katakan, mencari informasi tentangmu itu sangat mudah," jawabnya sambil terkekeh.
Tampak guratan usia menghiasi wajahnya, tapi ketenangan sangat kentara dari seorang Bima Indira, Teshar merasa canggung setiap kali harus berhadapan dengan orang tua dari ayahnya itu. Semua yang diketahuinya selalu berhasil dimentahkan oleh sang kakek.
"Beri Teshar bantuan seorang pengawal, Kakek," punya Teshar dengan wajah serius.
Bima menghela napas sebelum akhirnya pria tua itu terhembus perlahan. Pria penuh pengalaman hidup itu paham apa yang diinginkan Teshar. Cucunya itu masih merasa berada di bawah pengawasan orang tuanya sehingga tidak boleh sembarangan dalam melibatkan pengawal yang masih ada hubungannya dengan Clara.
"Pengawalmu sendiri?" balik Bima seakan mengetes cucu yang tidak begitu akrab dengannya itu seraya menyerahkan satu botol softdrink kepada Teshar.
"Aku hanya punya beberapa yang setia di sisiku, dan aku tidak mau melibatkan mereka untuk proses pencarian gadis itu, Kakek. Aku harap Kakek memahami apa yang aku takutkan," jelas Teshar segera diberi anggukan Bima.
"Ambil berapa pun yang kamu butuhkan. Bahkan yang ada di rumah ayahmu saja sebenarnya loyal kepada kakekmu ini," ucap kakek itu sambil terbahak.
"Maaf, Teshar terlalu sibuk bekerja sehingga hal-hal seperti ini luput dari pengamatan," jawab Teshar merendah.
Bima tertawa, ia segera bangkit seraya memandang Teshar sejenak hingga akhirnya berjalan mendekati meja kerja yang biasa ia gunakan seharian untuk sekedar membaca dan menghabiskan waktu.
Ia membenarkan kacamatanya sebelum membuka map cokelat yang tergeletak di atas meja. Teshar masih terdiam mengamati.
"Jeff pasti akan menekan dengan memanfaatkan gadis itu sebagai kelemahanmu," papar Bima sambil melirik ke arah Teshar.
__ADS_1