Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Kumohon Bertahanlah!


__ADS_3

Jemmy membawa Teshar yang tengah tidak sadarkan diri ke sebuah rumah sakit, setelah mengelabuhi sejumlah petugas polisi dengan lewat bagian gedung belakang yang memiliki jalan rahasia.


Mereka tidak mau masalah ini menggemparkan dunia bisnis, apalagi operasi ini bersifat rahasia dari kedua orang tua Teshar mengenai keberadaan Clara.


Mobil yang membawa Teshar melaju dengan kecepatan tinggi, Jemmy melajukan mobilnya dengan emosi, menyalahkan dirinya sendiri. Ia tidak menyangka Teshar akan menerima serangan—yang jujur saja malah membuatnya malu bercampur marah.


“Rumah sakit berada di radius sekitar lima menit dari jalur ini,” ucap seorang pengawal melaporkan.


“Hubungi bagian IGD, ada pasien terkena tusukan benda tajam beracun.” Jemmy memberi perintah sambil mengacak rambutnya hingga berubah kusut. Ia merasa sudah kecolongan.


“Baik, Tuan Jemmy.” Pengawal itu segera melakukan perintah Jemmy.


Malam ini menjadi pengalaman berharga bagi Jemmy bahwa seberapa banyaknya pengawal, tanpa antisipasi maka semuanya akan berjalan sia-sia saja. Ia berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


“Clara … Cla, maafkan aku ….” 


Jemmy menatap sesaat Teshar yang kini tengah mengigau. Raut wajahnya pucat dengan mata masih menutup rapat, keringat tampak menghiasi dahinya.


Jemmy merasa cukup bersyukur saat kesadaran Teshar telah kembali, setidaknya sahabatnya itu kini tidak sedang pingsan. Ia sangat yakin bahwa Teshar sangat kuat dan mampu bertahan.


Perjalanan mereka berakhir saat mobilnya kini sudah berhenti di depan ruang IGD. Tampak paramedis kini sudah bersiap menyambut.


Dengan sigap mereka membuka pintu mobil, mendorong brankar dan menarik bersama-sama untuk memindahkan tubuh Teshar ke atas brankar kemudian bergegas membawanya masuk ke ruangan IGD, diikuti Jemmy dan semua bawahan.


“Maaf, Tuan. Hanya pasien dan anggota medis yang diperbolehkan masuk,” cegah seorang wanita berpakaian perawat, mencoba untuk menghalangi langkah Jemmy agar tidak ikut ke dalam ruangan.


“Tolong selamatkan sahabat saya,” pinta Jemmy dengan wajah gusar. Ia memegang tangan perawat itu dengan wajah penuh harap.


“Bapak tenang dulu. Silakan isi data diri pasien ke bagian administrasi di sebelah sana. Kami dan tim medis akan melakukan tugas kami dengan baik,” kata perawat itu menenangkan, tangannya menunjuk ke arah ruangan yang berada tidak jauh dari tempat Jemmy berdiri.


“Baik, suster.”


Jemmy segera melepaskan genggaman tangannya dan membalik badan, berjalan menuju ke arah bagian administrasi. Ia akan melengkapi data diri Teshar agar semua prosedur perawatan medis bisa berjalan dengan baik.


“Tuhan, jaga pria kesepian itu agar tetap hidup,” do'a Jemmy terucap dalam hati.


***

__ADS_1


Clara memilih untuk diam, sesekali matanya terpejam ketika manuver mobil begitu menakutkan untuk disaksikan. Ia tidak menyangka pria yang terlihat slengean itu lihai dalam mengemudi.


Brakkk! Suara dentuman dari body belakang mobil membuat kendaraannya hampir hilang kendali.


“Sialan!” kutuk pria itu geram.


Sebisa mungkin Kenan berupaya untuk mengendalikan laju mobil yang hendak oleng ke kiri. Setelah memutar setirnya guna menghindari tabrakan dengan pengemudi lain, mencoba mengurangi gesekan dengan pembatas jalan yang menyebabkan spion bagian kanan putus, akhirnya Kenan bisa kembali ke jalur beraspal. Clara hanya bisa memejamkan mata sambil berteriak ketakutan.


“Tenang saja. Kita akan baik-baik saja,” ucapnya penuh ketenangan.


Walaupun beberapa kali mobilnya harus menerima benturan dari mobil yang mengejar, nyatanya pria itu tidak menampilkan gentar sama sekali.


Sebenarnya Clara ingin menanyakan keadaan Teshar, tapi keadaan genting yang tengah mereka hadapi mengurungkan niat itu. Melihat usaha gigih yang diperlihatkan pria asing itu saat mencoba menyelamatkan diri, dengan memutar-mutar jalur dalam mencari posisi yang aman membuat Clara harus menahan napas sesekali.


“Buka sabuk pengamanmu, cepat!” perintahnya tegas.


“Untuk apa? Apa kita akan turun di sini?” tanya Clara memastikan.


Ia tidak menyangka pria asing itu akan memintanya turun di saat genting seperti ini.


“Kita akan bertukar mobil di pom bensin. Dengan mempertahankan diri tetap memakai kendaraan yang sama akan semakin memudahkan mereka mencari dan menemukan kita,” tegasnya tanpa menoleh. “Aku sudah menghubungi pihak Jemmy untuk mengatur pertukaran yang aman,” imbuhnya memberi penjelasan.


"B-baik." Clara pun segera melakukan perintah Kenan, melepaskan sabuk pengaman.


"Oke, jangan panik!"


Kenan. masih sesekali menatap spion, memastikan dua mobil yang mengejarnya kini sudah tertinggal jauh. Sementara itu ia bisa menggunakan kesempatan untuk mengganti mobil dan terbebas dari mereka. Masih dengan pandangan lurus ke depan Kenan melepaskan sabuk pengaman miliknya dan memberi isyarat Clara untuk melakukan perintahnya.


“Saat aku menghentikan mobil, cepat keluar dan lari ke bagian depan mobil.” 


Clara menelan ludah dengan menahan napas, mengangguk mengerti sambil menyingkirkan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya ke bagian belakang.


Mereka berdua kini memilih tetap fokus ke jalanan. Kenan melajukan kendaraan menuju ke pusat pengisian bahan bakar. Mereka memilih tempat itu karena memahami bahwa area itu sangat berisiko mengalami kebakaran apabila kendaraannya dihantam dari arah belakang.


Ia dan anak buah Jemmy sudah memperkirakan tempat itu paling aman.


Kenan kini sudah mengitari pelan jalur menuju pengisian bahan bakar lalu menghentikan kendaraannya.

__ADS_1


"Saatnya turun!" Dia segera memberi perintah pada Clara untuk turun lebih dulu.


Dia segera ikut turun, lalu menyusul langkah panik Clara dan menggandengnya agar berlari lebih cepat. Mereka menuju arah mobil Jaguar F Type bercat hitam glossy yang telah siap terparkir mengarah ke jalan raya. Kenan meninggalkan begitu saja mobil Maserati GranTurismo miliknya, yang kini sudah diambil alih dua anak buah Jemmy.


“Bagus, Cantik!” pujinya memberi semangat kepada gadis itu agar berlari lebih cepat.


Jujur saja perasaan Clara ketakutan. Namun, sebisa mungkin gadis itu memercayai pria itu; seperti Teshar juga memercayainya, saat pertukaran sandera yang dilakukan di dalam gedung Bar.


“Cepat naik!” Suara anak buah Jemmy begitu mendesak, mengambil alih Clara dan memasukkan gadis itu ke dalam mobil.


“Biar aku sendiri yang menyetir,” pinta Kenan seraya masuk ke bagian jok kemudi.


“Kami akan mengamankan posisi Anda. Dengan mobil lain, kami akan menghalau laju mereka,” tegas anak buah Jemmy itu seraya membantu menutup pintu dan membiarkan Kenan melajukan kendaraan itu.


"Oke!"


Clara memegang erat sabuk pengaman, membiarkan Kenan kembali memacu kendaraannya. Setidaknya lebih terukur daripada beberapa saat yang lalu.


Setelah beberapa kali memotong jalur, menyelinap di antara padatnya kendaraan, akhirnya usaha Kenan membuahkan hasil.


“Yess! Kita bisa pulang dengan aman sekarang!” seru Kenan membuat Clara menoleh samar.


Kenan mengembangkan senyuman kepuasan. Sedari tadi, kepanikan dan umpatan kasar dari mulutnya seolah menguap setelah kini ia sudah berhasil berada di jalur ke arah kediaman kakeknya.


Ia sendiri tidak menyangka bisa berpikir cepat, ide cemerlang berganti mobil dengan salah satu pengawal hingga bisa mengecoh para anak buah Jeff yang mengejarnya sejak dari Bar.


“Mengenai Teshar, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja,” ucapnya kemudian tanpa menoleh ke arah Clara. “Maaf, tadi aku mengabaikanmu, karena harus melakukan aksi gila,” ocehnya dengan nada bersemangat.


Clara tidak menyahut, ia masih memikirkan ke mana arah tujuannya saat ini. Kepala mendadak pusing karena selama perjalanan kendaraan yang membawanya hanya memutar tidak jelas. Sambil menunduk ia memijit keningnya perlahan.


“Kita akan segera pulang,” ucap Kenan seakan mengerti kegundahan yang dirasakan gadis di sampingnya itu.


“Pulang?”


Seketika tubuh gadis itu menegang. Bayangan rumah Teshar kembali membayangi ingatannya. Ia tidak menyangka akan kembali ke rumah itu lagi setelah usahanya begitu gigih untuk kabur dari sana. Ia bahkan harus melalui sebuah situasi mengerikan yang baru saja dialaminya.


“Jangan khawatir, aku akan membawamu ke rumah kakekku. Teshar tidak mungkin membawamu pulang ke rumahnya. Karena itu sangat berisiko terhadap keselamatanmu,” jelas Kenan sedikit melegakan hati Clara.

__ADS_1


Walaupun ia tidak paham seperti apa kakek yang dimaksud, setidaknya ia tidak kembali terkurung di ruang baca yang sepi dan menakutkan itu.


“Kamu sudah lama tinggal di rumah Teshar?” selidik Kenan, merasa sangat penasaran dengan kehidupan gadis di sampingnya itu.


__ADS_2