Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Menantang Kesabaran


__ADS_3

Kau tahu apa kesalahanmu?"


Dua pria berbeda generasi itu saling berhadapan. Postur tubuh Teshar memang lebih tinggi dan gagah dari sang ayah. Namun, kharisma dan determinasi jelas Teshar kalah telak dari pria yang dipanggil dengan nama Bisma Indira itu.


"Tidak sepenuhnya aku tahu kesalahanku," jawab Teshar tanpa memandang kedua mata sang ayah. Dia sangat segan terhadap pria yang memiliki tiga putra itu.


Bisma langsung tertawa remeh. Sangat menyayangkan kejadian ini bisa menyeretnya dalam lingkaran kemarahan pada putra keduanya.


Mungkin beberapa tahun ini dia masih enggan merespon secara serius kegiatan yang dilakukan Teshar. Namun, apa pun yang menyangkut Jhony, putra kesayangannya, dia tidak bisa tinggal diam begitu saja.


"Kesalahanmu sangat fatal!" bentak pria itu sambil mengepalkan tangannya erat-erat, bersiap meluapkan kekesalannya pada cucu kesayangan Bima, ayahnya.


Ingin sekali dia meletupkan senjata sekaligus menghancurkan kepala pria di hadapannya itu, kalau saja bukan anaknya sendiri. Namun, keinginan itu harus dipendamnya kuat-kuat karena saat ini dia sedang berhadapan dengan darah dagingnya sendiri.


"Bagian mana yang fatal?" balas Teshar dengan pertanyaan memancing perseteruan.


Bila dulu Teshar selalu mendewakan ayahnya, mulai sekarang dia berjanji tidak akan lagi menjadi budak keegoisan. Sudah berkorban jiwa raga pun, ternyata tidak serta merta sang ayah melihatnya sebagai Teshar. Bisma selalu menjadikannya bayang-bayang Jhony yang telah meninggal.


"Kamu rupanya sudah menantang kemarahanku, Teshar." Mata Bisma memicing tajam. Namun, Teshar malah dengan sikap berani mendongak dan menatap dua mata ayahnya dengan ketajaman yang sama.


"Sampai kapan ayah bisa menghargai aku sebagai anak yang mencoba setiap saat berbakti padamu?"


"Cih!" Bisma mengumpat. "Kau ini bicara apa?"


"Apakah Jhony lebih berharga dibandingkan dengan aku yang mampu membanggakanmu melebihi pria pengecut itu?" lontar Teshar tajam.


Tentu kalimat ejekan yang ditujukan untuk Jhony benar-benar menyulut emosi Bisma. Dia tidak akan pernah rela siapa pun melecehkan putra kesayangannya, meskipun itu adiknya sendiri.


Bisma segera berjalan menuju ke arah almari besar berisi banyak koleksi barang antik miliknya, menarik satu tongkat kayu yang ada di dalamnya lalu bergerak dengan langkah tegas menghampiri Teshar.


Mundur dua langkah, hanya itu yang bisa dilakukan Teshar. Pria itu mencoba untuk mengamati pergerakan ayahnya yang sedang dilalap api kemarahan. Hasil dari ucapan yang sengaja dia lontarkan untuk membuka peperangan dengan ayahnya.


"Tidak sepantasnya orang sepertimu menghinanya!" teriak Bisma seraya mengayunkan tongkat ke arah Teshar.


Buru-buru Teshar menangkis serangan itu dengan satu tangannya. Memelintir gerakan sang ayah demi bisa melindungi tubuhnya dari sabetan tongkat berbahan kayu berukir indah itu.

__ADS_1


Dia tidak akan membiarkan pria pria itu melukainya lagi. Sama seperti yang biasa diterimanya saat masih berusia muda.


"Apa ayah lupa kalau aku sudah bukan anak-anak lagi!" balas Teshar dengan teriakan kemarahan yang sama.


Pria itu membalik gerakan sang ayah, menarik tongkat itu dengan kekuatan yang sama besar. Dia tidak sudi mengalah lagi, karena jelas di dalam pertarungan ini bukan tentang siapa yang salah, tetapi ayahnya membawa nama Jhony di dalamnya.


"Aku cabut kata maafku! Ini bukan masalah antara aku dan ayah, tapi Jhony dan lagi-lagi pria brengsek itu membuatku muak!"


Teshar merebut tongkat dari tangan ayahnya setelah gagal memukul tubuhnya lalu melemparkannya ke bagian arah samping. Efek suara gaduh karena benda keras itu mengenai guci besar hingga pecah berantakan pun membuat banyak pengawal rumah berdatangan.


Namun, tidak ada seorang pun dari mereka yang berani maju mendekat, setelah tahu tuan rumah sedang bersitegang.


"Kamu bilang apa tadi?" gertak Bisma semakin marah.


Ingin sekali dia mencabik-cabik mulut anak keduanya itu karena telah menantang kesabarannya. Namun, sekali lagi badan Teshar tidaklah selemah dua puluh tahun yang lalu.


"Aku tidak akan tunduk padamu lagi, Ayah. Kamu telah menyeretku dalam lingkaran dosa-dosa dan aku menyesal baru sadar sekarang. Jhony yang kamu sayangi itu telah menghabiskan rasa cintamu sampai melupakan anakmu yang lain, apa Ayah sadar itu?"


Teshar maju selangkah, sedangkan Bisma malah terpaku di tempatnya. Dari atas tangga terdengar ibunya berteriak meminta agar perdebatan ini segera dihentikan. Namun, Teshar akan menggunakan kesempatan ini untuk mengeluarkan ganjalan hatinya selama bertahun-tahun.


"Diam kamu! Seharusnya aku membunuh sendiri anak itu alih-alih mempercayakannya pada anak bodoh seperti kamu!"


"Di mana gadis itu sekarang! Katakan, akan aku habisi dia dengan tanganku sendiri!" Bisma berjalan mendekat.


Tangan Bisma segera meraih kerah kemeja Teshar lalu menariknya seolah pria itu akan terintimidasi dengan tindakannya. Namun, salah besar karena Teshar hanya bergeming, sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Bibir Teshar pun terlihat mengulas senyuman miring.


"Ayah tidak akan bisa melakukan apa pun padanya. Aku pastikan itu!"


"Kau anak—"


"Hentikan! Kalian berdua, ada masalah apa ini?" Muria berlari kecil menuruni tangga. Dia sangat terkejut saat pelayan rumah melapor padanya kalau Teshar datang dan suaminya malah marah-marah.


Perempuan itu segera meraih lengan Bisma, mencoba untuk melerai dengan mendorong Teshar agar mundur. Dia sebenarnya bingung, apa yang membuat keduanya bertengkar padahal Teshar merupakan putra penurut dan sangat menghormati sang ayah.


"Teshar ada apa?" tanya Muria seraya menarik lagi tangan Bisma dari ujung kerah kemeja putranya agar dilepaskan. Namun, Bisma maupun Teshar belum ada yang bersedia mengalah.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu bersikap kasar pada putramu sendiri?" Murai mengusap punggung suaminya demi melembutkan hati pria itu. Dia tidak ingin emosi Bisma menghancurkan hubungan keluarga.


"Putramu telah menyembunyikan anak dari pembunuh Jhony," kata Bisma seraya melepaskan tangannya dari cengkeraman kerah baju Teshar. Pria itu mundur seiring gerakan Muria menariknya ke belakang.


"Teshar?" Muria meminta penjelasan putranya dengan mata penuh ketegasan.


"Aku tidak hanya menyembunyikannya saja, Ibu." Teshar memberikan seringai setelahnya. "Lebih dari itu."


"Apa maksudmu, Nak?"


Muria menggeleng cepat, tidak ingin putranya memancing pertikaian karena jelas dia bisa membaca ekspresi Teshar menyiratkan demikian.


"Aku akan melindunginya, meskipun itu sama saja aku harus mempertaruhkan nyawaku," tukas Teshar tanpa mengalihkan pandangannya dari sang ayah. Dia ingin melihat, bagaimana reaksi orang tuanya mengenai tindakannya yang mulai membangkang.


Urat-urat pada wajah Bisma mengetat dan kaku. Dia sangat terkejut dengan sikap Teshar yang berbalik menyerangnya alih-alih memohon ampun dengan segala kekuatan yang dimilikinya.


"Kau mengibarkan bendera perang dengan ayahmu sendiri, Teshar? Bagus sekali." Pria itu mengulas senyuman sinis seraya membuang muka.


"Apakah Ayah akan membunuhku? Kehilangan Jhony ternyata tidak serta-merta membuat Ayah belajar menghargai nyawa."


"Teshar, kamu ini bicara apa? Serahkan saja perempuan anak pembunuh itu pada kami. Maka semua kesalahanmu akan terampuni."


Muria mulai mendekati Teshar, berharap bisa mengusap lembut lengan putranya agar melembut. Namun, gerakan mundur putranya membuat tangan wanita berusia lima puluhan itu menggantung di udara.


"Kalau Clara kalian sebut anak pembunuh, lalu apa sebutan untuk orang tua seperti kalian?" balas Teshar seraya membalik badan lalu melangkah keluar rumah dan meninggalkan kediaman orang tuanya.


"****! Tidak mungkin Teshar memberontak pada kita," geram Bisma memandang kepergian putranya.


"Sayang," panggil Muria mencoba untuk menenangkan.


"Pasti ayah yang telah memberikan dukungan padanya. Cih!" Bisma mengumpat kesal bukan main.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Sayang?" tanya Muria sangat cemas kalau sampai Teshar benar-benar membangkang terhadap keluarga.


"Siapkan pengawal terlatih, aku akan menjemputnya ke rumah ayah dan menghabisi perempuan sial itu dengan tanganku sendiri!" ujar Bisma seraya melangkah meninggalkan tempatnya menuju ruang kerja.

__ADS_1


"Sayang? Kamu tidak akan menyerang kediaman ayahmu sendiri 'kan?"


Muria melotot kaget dengan rencana yang akan dilakukan suaminya, demi bisa menghilangkan jejak musuh yang telah membuat putra kesayangannya meninggal.


__ADS_2