Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Perasaan Hampa


__ADS_3

Di kediaman Indira. Teshar membalikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bayangan semalam mengenai kaburnya Clara dari ruangan rahasia miliknya sangat membuat pria itu kesal. Dalam hati ia merasa geram karena apa yang sudah dilakukannya malah kacau karena keputusannya sendiri.


Membiarkan gadis itu hidup adalah sebuah kesalahan yang harus dia tebus dengan kemurkaan kedua orang tuanya bila mereka sampai mendengar masalah itu. Teshar mengembus napas panjang demi bisa mengusir impitan rasa kebingungan dengan langkah yang harus diambil selanjutnya.


Tangan pria itu dengan cekatan segera meraih ponsel dari atas nakas, memandang kontak nomor yang sudah menghubunginya beberapa kali. Dengan perasaan kesal ia menghubungi kontak itu kembali.


“Ada kabar apa?” tanya Teshar datar sambil memijit keningnya yang terasa berdenyut.


“Gadis itu saat ini berada di sebuah toko roti milik keluarga Januar.” Orang itu melaporkan pekerjaannya.


“Bagus. Biarkan saja, tapi awasi terus pergerakannya. Jangan sampai kamu kehilangan jejak! Jaga selalu keamanannya, aku yang akan menjemputnya sendiri kalau dia sudah selesai bermain-main di luar sana,” titah Teshar dengan ekspresi tegas. Meskipun begitu senyumnya kini terukir dengan sorot mata menunjukkan kelegaan.


“Baik, Tuan,” jawab orang itu mengakhiri laporannya.


Teshar meletakkan ponselnya ke atas dada sembari memandang langit-langit kamarnya dengan pikiran jauh melayang ke masa lalu. Hidup juga cintanya. Semua tidak pernah berakhir dengan baik. Kacau dan tidak pernah ada ketulusan yang hadir dari seorang wanita yang pernah dekat dengannya. Hanya berputar pada bisnis, kedudukan dan sisanya omong kosong.


Bila mengingat Clara, entah mengapa Teshar seperti diliputi rasa benci dan sayang yang menyatu, tidak mampu terlepas. Rasa rindu yang selalu ditampiknya dengan berusaha menunjukkan sikap dingin terhadap gadis itu setiap kali bertemu. Sejauh ini ia selalu mampu menekan dan mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Gadis itu terlarang untuk diberi hati.


“Kamu pikir, aku tidak bisa membuatmu semakin menderita saat kamu berada di luar sana, Clara?” gumam Teshar mulai membayangkan gadis itu.


Gadis kecil itu, orang yang selama bertahun-tahun ia jadikan mainan di dalam ruang rahasia. Gadis yang harus bersikap baik, menurut, dan mengikuti apa pun perintahnya. Ia tersenyum sendiri bila mengingat wajah polos gadis itu setiap kali berdebat dengan akhir sebuah kekalahan. Sangat menyenangkan bagi Teshar. Sebuah hiburan bagi hidupnya yang penuh dengan tekanan pekerjaan.


Ingatan pria itu kembali hadir saat malam menjelang hari raya tiba. Gadis itu menampilkan wajah suka cita ketika sedang menunggu kedatangannya. Gerak langkah kakinya juga terlihat ceria saat berjalan menghampiri. Tidak lupa, senyuman yang selalu memesona terukir indah menghias wajahnya yang cantik.


“Kakak sudah datang,” sambut gadis itu wajah senang.


“Ada apa?” Teshar menoleh datar. Ia mulai mengambil koleksi bukunya dari dalam rak, masih diikuti Clara ke mana pun kakinya melangkah.

__ADS_1


Dengan kesal pula, pria itu segera membalik badan dan menghadap persis ke arah Clara berdiri. Gadis itu terlihat tersenyum dengan menampilkan binar matanya yang sangat polos dan cokelat jernih.


“Kak Teshar, katanya mau mengajak Clara keluar rumah saat perayaan itu datang. Aku sudah menunggu dan menghitung hari demi hari, agar aku tidak sampai lupa ketika hari itu tiba,” celoteh Clara dengan wajah tidak berdosa, gadis itu kembali menatapnya untuk menunggu jawaban.


Teshar mengalihkan pandangannya sembari mendorong pundak Clara agar menjauh. Sungguh, gadis lugu yang semakin membuatnya kesal. Semua tingkah lakunya yang alami, wajah, sikap, semuanya. Ingin sekali ia memakai alasan itu untuk melakukan apa yang orang tuanya perintahkan. Namun, tetap saja setiap bertemu gadis itu, ia tidak mampu melakukannya. Itulah mengapa sampai sekarang perintah itu belum mampu ia laksanakan juga.


Terdapat pergolakan batin terhadap titah itu.


“Kakak,” rengek Clara menyusul langkah Teshar yang berjalan melewatinya.


Kaki gadis itu mengentak kesal karena Teshar selalu mengingkari janji. Semua hal yang kadang terucap baik dari mulut pria itu nyatanya selalu menjadi kebahagiaan semu baginya. Ia masih mengekori langkah Teshar saat memilih buku.


“Baca ini, berikan pendapatmu,” ucap Teshar menoleh membuat Clara membelalak mata dan menghentikan langkahnya.


“Pendapat apa?” tanya Clara merasa bingung.


Ada sebanyak empat buku tebal sukses mendarat di atas telapak tangan yang sengaja ia ulurkan untuk menyangga buku pemberian pria galak itu.


“Lalu, janji Kakak bagaimana?” sela Clara memprotes.


“Ish!” desis Teshar membuat Clara mengkerut. “Tidak ada janji!”


Clara segera mengangguk, menunduk sambil berjalan membawa bukunya ke sebuah meja tempatnya belajar ketika Teshar datang untuk membaca. Sambil duduk membuka buku ia melirik wajah pria menyebalkan itu sesekali.


“Hih! Kapan aku bisa mencekik leher pria menyebalkan itu.” Clara merutuk kesal.


"Kamu bilang apa, tadi!" hardik Teshar kesal ketika mendengar gerutu Clara yang tidak begitu bisa tertangkap jelas di telinganya.

__ADS_1


"Ah ... tidak!" Mata gadis itu melebar sambil tertawa. "Aku ingin mencekik tokoh di cerita novel yang kubaca ini, Kak. Jangan salah paham," sambung Clara meringis menundukkan kepala, masih dengan tawanya yang riang.


Teshar segera mengambil sendiri buku dari dalam rak, duduk tenang di tempat biasa dia menghabiskan waktu selama berada di ruangan itu. Pria itu sering menghabiskan waktu hanya untuk membaca selama hampir tiga jam setiap kali datang berkunjung.


Teshar memejamkan mata, bayangan itu hilang musnah menyisakan rasa yang aneh. Perasaannya mendadak menjadi hampa.


"Clara, bagaimana rasanya bisa keluar dari rumah ini? Bahkan semalam saja rasanya sudah seperti setahun, bukan?" resah Teshar berbicara sendiri.


Pria itu segera bangun dari tempat tidur dengan lesu, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor. Ia tidak akan melewatkan pertemuan penting hanya untuk memikirkan seorang gadis yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dunia. Namun, seperti biasa, dia akan sarapan di kediaman orang tuanya.


**


Teshar kini sudah berada di dalam kediaman milik orang tuanya. Mengenakan setelan jas, terlihat fokus sedang memasangkan jam pada pergelangan tangan sambil berjalan menyusuri anak tangga. Pandangannya beradu dengan sang adik yang ternyata berhasil menyusulnya dari arah belakang. Meskipun bangunan rumah miliknya terpisah, tetapi Teshar selalu menyempatkan waktu untuk sarapan di kediaman milik orang tuanya.


Teshar terus berjalan mengabaikan siulan dari bibir adiknya. Ia menduga kalau saat ini Kenan sudah tahu bahwa gadis yang menjadi rahasianya itu benar-benar ada dan kini sedang membuat masalah.


“Apa saat ini kamu sedang mengejek kakakmu?” sindir Teshar membalik badan, menatap ke arah Kenan.


Adiknya segera berhenti melangkah sambil tertawa geli melihat raut wajah kakaknya yang kaku. Pria yang usianya terpaut tujuh tahun lebih muda itu segera melenggang pergi tanpa menjawab amukan yang ditujukan padanya.


“Apa maksudmu!” decak Teshar berjalan mengikuti adiknya.


“Aku tidak menyangka rumor itu benar adanya. Omong-omong, gadis yang kamu sembunyikan itu sangat cantik. Wah, kalau saja aku tahu ada gadis secantik itu berada di dalam rumahmu, sudah pasti aku tidak akan membiarkannya duduk kesepian dan menganggur,” ocehnya memanaskan telinga Teshar.


Hampir saja Teshar menghajar Kenan karena merasa adiknya sudah kelewatan dalam berbicara. Namun, kedatangan ayah dan ibunya dari ruang tamu segera menghentikan adu mulut antara kakak beradik itu.


“Kalau kamu tidak cepat membawa gadis itu pulang dan menyembunyikannya lagi. Jangan salahkan, kalau aku bermain-main dengannya di luar sana. Bukankah nama gadis itu sudah lenyap dari daftar riwayat hidup?” Kenan berbisik di telinga kakaknya.

__ADS_1


Teshar menatap tajam Kenan yang kini sudah melenggang pergi dari rumah. Seperti biasa, apa yang dilakukan adiknya selalu diabaikan oleh kedua orang tuanya.


Bersambung


__ADS_2