
Bima menunggu kedatangan Teshar ke ruangannya sambil membaca buku. Dia cukup gusar dengan perkembangan hubungan antar cucunya. Meskipun masih bisa dikendalikan, tetapi dia tidak bisa memastikan semua rencananya bisa berjalan dengan lancar tanpa kendala.
"Kakek," panggil Teshar seraya mengetuk pintu ruangan.
Bima segera melambaikan tangan sebagai isyarat agar pria itu segera masuk.
"Kakek apa kabar?" sapa Teshar berbasa-basi.
Terakhir bertemu saat perencanaan pembebasan Clara, rasa canggung pun tidak terbantahkan karena lagi-lagi kakeknya menjadi sang penolong.
"Kamu sendiri apa kabar? Kenapa baru ke sini setelah aku mengirimkan orang ke rumahmu?"
Bima menyandarkan punggungnya pada bantalan sofa. Menatap kedatangan Teshar yang berjalan mendekat lalu duduk di sofa seberang meja—menghadap ke arahnya. Mereka berpandangan sesaat, sebelum akhirnya saling menebarkan senyuman.
"Aku butuh berpikir jernih sebelum akhirnya memberanikan diri untuk datang ke sini," ujar Teshar sambil menuangkan teh dari poci yang telah tersedia di atas untuk sang kakek. Dia sedang menata kalimat agar tidak menimbulkan kesan jelek di mata kakeknya.
"Soal apa? Hatimu terhadap Clara, atau mengenai adikmu atau malah kedua orang tuamu?" Bima sengaja memancing jawaban karena tahu Teshar bukan tipe laki-laki yang suka berbagi masalah hidup.
"Semuanya, Kek. Terutama ayah dan ibu." Teshar menggangsurkan cangkir ke arah Bima kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir lain untuk dirinya sendiri.
"Pulanglah, dan cari tahu apa yang akan dilakukan orang tuamu padamu," ucap Bima sambil tersenyum.
"Aku sudah mempersiapkan diri sejak dulu. Saat aku tahu kebenarannya seperti apa, barulah aku mulai menyusun rencana."
"Bagus. Teruskan rencanamu. Aku akan mendukungmu dari belakang," ujar Bima membawa angin segar bagi Teshar. Dia tidak menyangka kakeknya akan membuat langkah besar seperti ini hanya untuk membantunya.
"Terima kasih, Kek." Teshar tersenyum penuh arti kepada sang kakek.
Percakapan mereka berakhir setelah dua jam kemudian. Teshar meninggalkan ruangan kakeknya setelah berbincang cukup lama. Tidak langsung pulang melainkan bertemu dulu dengan Clara. Saat ini gadis itu sedang menikmati buah di taman belakang mansion.
Teshar mengamati sejenak dari arah belakang sebelum akhirnya melangkah maju setelah ketahuan. Clara menyunggingkan senyum begitu melihat kedatangan Teshar. Buru-buru pula menyiapkan tempat duduk agar Teshar segera bergabung dengannya.
__ADS_1
"Silakan, Kak," ucap Clara seraya menyodorkan satu piring kecil berisi buah untuk Teshar.
"Kenapa kamu tidak menyusul?"
Teshar duduk seraya meraih piring kecil berisi buah yang disodorkan Clara padanya lalu mencicipi satu di antaranya. Clara dibuat puas hanya dengan melihat ekspresi ramah yang ditunjukkan Teshar padanya.
"Aku tadi sempat ingin masuk. Tapi, aku mengurungkan niatku setengah melihat Kak Teshar dan kakek saling melempar tawa. Interaksi yang sangat manis antara cucu dan kakeknya," ungkap Clara segera ditanggapi Teshar dengan anggukkan kepala.
"Iya, sudah lama tidak ke sini. Momen bersama kakek sudah terlupakan di masa kanak-kanak." Teshar menyembunyikan semburat kesedihan di sudut matanya dengan menundukkan kepala. Meskipun begitu, Clara bisa membaca ekspresi itu dengan baik.
Bila beberapa hari lalu Clara sempat dibuat gelisah dengan kabar kedatangan Teshar karena memikirkan bagaimana komunikasi mereka nantinya. Namun, setelah pertemuan hari ini, gadis itu bisa melihat sisi lain seorang Teshar ketika tertawa lepas. Sungguh, tokoh idola di dalam cerita novel yang pernah Clara baca tertuang kuat di dalam diri Teshar.
"Aku pun sama," kata Clara menimpali. Raut wajah sedih pun terlukis jelas dalam pandangan Teshar. Pria itu memilih untuk menunggu kelanjutan cerita Clara alih-alih menginterupsinya.
"Aku hidup bersama kakek dan nenekku sejak lahir. Mereka sudah aku anggap sebagai orang tua pengganti. Tapi, sejak hari itu ...."
Tawa hambar Clara meluncur tanpa bisa dicegah. Teshar hanya bisa menghela napas demi bisa menghalau bayangan rasa bersalah karena dia tahu ujung dari cerita Clara akan bermuara di hari tragedi keluarga Louise.
"Aku tidak tahu apa maksudmu, Kak. Tapi, aku tetap ingin mengucapkan terima kasih untuk yang pernah kita lalui berdua," ungkap Clara seraya mengambil satu potongan buah lalu memasukkan ke dalam mulutnya sendiri
"Silakan dinikmati, Kak."
"Hm," balas Teshar seraya mengalihkan pandangannya ke bagian taman. Sungguh, rasanya seperti terserang dejavu, momen seperti ini pernah masuk ke dalam bayangan Teshar di masa-masa dulu.
"Apa kak Teshar tidak menawarkan sesuatu seperti Kenan menawarkan padaku?" celetuk Clara membuat raut wajah Teshar terlihat kaget dan kaku. Clara malah dibuat menyesal melontarkan kalimat itu karena nyatanya Teshar masih laki-laki yang dikenalnya selama ini.
"Penawaran apa?"
Teshar mengambil potongan buah dari dalam piring yang diletakkan di pangkuan Clara dan memakannya demi bisa menetralkan rasa kesal pada sang adik. Dia tidak mau gegabah masalah pertarungan sang adik untuk mendapatkan perhatian Clara sebagai seorang wanita.
"Menjadi temanku misalnya?" jawab Clara dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Mendapat jawaban seperti itu kontan saja sudut bibir Teshar berkedut. Menyembunyikan senyuman nyatanya bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Pria itu akhirnya melipat bibirnya agar tidak sampai tertawa.
"Untuk apa aku harus menjadi temanmu kalau sebenarnya status kita lebih dari itu," tukas Teshar seraya bangkit lalu berdiri di hadapan Clara. Tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut Clara sebelum akhirnya melangkah meninggalkan perempuan itu di sana.
"Kakak mau ke mana?" Clara segera meletakkan piring yang dibawanya ke atas meja lalu berjalan tergesa demi bisa menyejajarkan langkahnya dengan Teshar.
"Kakak tidak menginap di sini?" tanya Clara seraya membukakan pintu agar Teshar bisa masuk ke dalam ruangan rumah.
"Nanti kalau berkas kita sudah jadi," jawab Teshar terdengar ambigu di telinga Clara.
"Berkas apa?"
"Kamu akan tahu nanti," jawab Teshar seraya melangkah lebih cepat. Dia meninggalkan ruangan itu menuju ke arah depan untuk menjangkau mobilnya yang terparkir. Dia tidak menoleh lagi ke belakang meskipun tahu saat ini Clara menatap kepergiannya dengan penuh pertanyaan. Urusannya di luar masih banyak yang harus diselesaikan.
"Aku akan datang setelah yakin bisa melindungimu, Cla," ucap Teshar seraya melajukan mobilnya, meninggalkan mansion sang kakek.
Teshar berencana untuk pergi menemui orang tuanya. Jemmy sudah mengirim pesan tidak bisa ikut menemani karena tuan Bisma dan nyonya Muria sudah tiba di rumah. Itulah alasan mengapa Teshar buru-buru meninggalkan rumah sang kakek.
"Tidak akan pilihan lain. Aku tahu mereka juga telah menungguku di rumah," gumam Teshar risau.
Pria itu menyetir seorang diri. Memastikan tidak ada pengawal yang bersamanya. Tidak ingin membuat banyak kegaduhan saat berkunjung ke rumah orang tuanya nanti, sekaligus tidak ingin mereka tahu sebenarnya berapa jumlah orang yang setia di sisinya.
Mobil Teshar langsung memasuki pelataran rumah orang tuanya. Tidak seperti biasa dia pulang ke rumahnya dulu, kali ini dia ingin segera bisa menemui sang ayah.
Beberapa pengawal yang berpapasan langsung berjajar menyambut. Teshar hanya mengangguk ringan dengan langkah terburu-buru memasuki rumah. Tampak ayahnya sedang menuruni tangga, menatapnya dari jauh.
"Selamat sore, Ayah," sapa Teshar seraya menurunkan pandangan dari sang ayah.
"Tampaknya kau berhasil membuat kekacauan yang hebat, anakku?" Satu sudut bibir pria itu tertarik ke atas menyiratkan senyuman sinis. Teshar bisa menangkap sinyal kemarahan yang tidak bisa diremehkan sedikit pun.
"Maafkan aku, Ayah."
__ADS_1
Teshar masih bergeming di lantai bawah, sementara langkah kaki ayahnya terus berayun, memangkas jarak antara keduanya.