Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Didera Rasa Gusar


__ADS_3

Teshar menajamkan pikirannya. Perasaannya mendadak tidak enak, ia merasa bahwa apa yang sedang pria bicarakan itu pasti mengenai gadis kecilnya. Sembari memutar kembali tubuhnya ke arah meja kerja, ia mulai melirik ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kini pikirannya berpusat pada Clara.


“Apa maksudmu bicara begitu?" tanya Teshar masih berusaha bersikap setenang mungkin. Dia bertanya sambil berjalan ke arah tempat duduknya lagi.


”Kamu belum paham, atau pura-pura bodoh, Anak Muda?" ejek pria berusia enam puluhan itu sambil tertawa.


Teshar segera bergegas menarik jas miliknya yang tersampir pada punggung kursi kerja lalu berjalan keluar dari ruangannya dengan langkah lebar.


“Jangan menggangguku atau kau tidak akan pernah bisa merayakan ulang tahunmu lagi bulan depan, Tuan Jeff!" tegas Teshar dengan rahang mengeras.


”Kau terlalu berlebihan, Tuan Teshar," seloroh pria itu.


Terdengar pria yang sedang menghubunginya tertawa terbahak di ujung telepon, Teshar semakin kesal mendengarnya. Ia begitu mencemaskan keselamatan Clara, dugaannya pasti benar, gadis itu tidak mematuhi perintahnya untuk tetap berada di dalam apartemen. Gadis itu membangkang titahnya.


Teshar berjalan tergesa, dilanjutkan berlari kecil menuju ke arah lift. Ia juga mengabaikan tatapan semua staf dan karyawan yang dilaluinya, pria itu kini meninggalkan kantornya.


”Kalau begitu ... sampai jumpa, Tuan Teshar," pamit pria itu setelah tahu kalau Teshar sudah memahami ancamannya.


“Katakan apa maumu!" decak Teshar merasa geram. Terdengar sambungan ditutup sepihak oleh Jeff.


Pria itu menggenggam erat ponselnya dengan pandangan mata tajam ke arah pintu lift yang belum juga terbuka. Ia tidak pernah menduga bahwa pria paruh baya itu mengetahui apa yang menjadi rahasianya selama ini sekaligus menggunakan momen ini untuk mengintimidasi, padahal tragedi itu sudah berlalu begitu lama.


”Dasar gadis bodoh," desisnya kesal setelah menyadari gadis itu pasti sudah berada di tangan Jeff dan pengawalnya.


Rasa gundah pun mulai mendera, Teshar mengingat kembali apa yang kakeknya tawarkan. Ia segera menghubungi sang kakek seraya masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka.


“Kakek, aku butuh bantuan," ucapnya dengan suara terbata.


”Bantuan apa, Cucuku?" tanya Bima dengan suara sangat tenang.


Teshar menelan salivanya sedetik sebelum bisa menjelaskan permintaannya. Ia belum mengecek apa yang telah terjadi pada Clara, sehingga sebuah penawaran dari kakek yang sebenarnya cukup membuatnya terganggu harusnya bisa ia tahan dulu.


“Aku akan menemui Kakek satu jam lagi," jawabnya seraya mengepalkan jemari tangannya.


Pria itu merasa seperti sedang sendirian dalam melalui masalah ini. Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan gadis yang ia sembunyikan itu, sehingga cukup sulit untuknya berbagi info tentang gadis kecilnya—kepada siapa pun juga untuk saat ini.

__ADS_1


Teshar berpikir keras di sepanjang perjalanannya menuju ke apartemen. Ia merasa cukup gagal karena belum memikirkan rencana apa-apa untuk keamanan gadis itu, semua ini belum ia perkirakan sama sekali, mengingat kaburnya gadis itu dari rumahnya merupakan hal di luar dugaan setelah dua belas tahun lamanya. Pria berwajah tampan dan dingin itu terlihat gusar.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh tujuh menit dari kantornya menuju ke apartemen, akhirnya ia pun sampai di sana. Sengaja hanya memarkirkan mobilnya di tepi trotoar dan berlari menuju ke pos sekuriti, akhirnya ia memutuskan untuk melihat aktivitas Clara beberapa jam yang lalu melalui rekaman CCTV daripada masuk ke unitnya yang berada di lantai ke-49.


”Di mana aku bisa mengakses rekaman CCTV?" tanya Teshar kepada seorang sekuriti yang tengah bertugas.


Sekuriti itu segera bangkit dari duduk santainya di pos yang terletak di pintu masuk apartemen dan segera menghadap ke arah Teshar. Pria yang sedang memakai seragam berwarna putih itu yang kemudian mengenali siapa Teshar dan segera menundukkan kepala memberi hormat. Teshar membalas dengan anggukan kepala karena merasa tergesa dengan waktu sempit yang ia miliki.


“Bisa aku mengakses rekaman CCTV yang berada di apartemen ini? Hanya yang merekam di koridor unitku dan area depan saja," tegas Teshar sambil menatap ke arah sekuriti itu dengan wajah serius.


”Silakan, Tuan," jawab petugas itu seraya berjalan dan mempersilahkan Teshar untuk mengikutinya.


Teshar memandang ke sekeliling sebelum ikut memasuki sebuah ruangan yang merupakan pusat induk keamanan apartemen itu. Di dalam ada beberapa orang yang sedang bertugas mengawasi layar CCTV sembari bercengkerama bersama rekannya.


“Silakan, maaf saya tinggal," pamitnya kepada Teshar.


Teshar memberikan senyuman dan beralih menatap petugas yang kini memandangnya dengan wajah bertanya-tanya, untuk kepentingan apa ia berada di sana mengingat ini adalah area terlarang untuk umum.


“Berikan aku rekaman kamera pengawas yang berada di koridor unitku lantai ke-49 dan yang berada di depan apartemen ini tadi pagi," pinta Teshar dengan suara tidak sabar.


Ia berpikir daripada naik ke lantai empat puluh sembilan lebih baik ia menyimpan tenaga dan waktunya dengan melihat rekamannya saja.


Dengan cekatan tangan pria itu mengetik di papan keyboard dan mulai mencari daftar kamera pengawas yang berada di lantai empat puluh sembilan.


“Istriku tiba-tiba tidak bisa dihubungi," jawab Teshar membuat kedua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut seraya melebarkan mata menatap Teshar yang masih berdiri tenang. "Aku takut terjadi sesuatu dengannya."


"B-baik, Tuan."


”Waktuku tidak banyak, tolong bergegas," tegas Teshar segera diberi anggukan petugas itu.


“Haruskah, kami melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib?" ujar mereka mulai bersikap serius.


”Aku akan memastikan dulu masalah ini, baru aku akan melapor. Karena dia sedang marah atau diculik, aku belum yakin," jawab tegas Teshar, ia tidak mau sampai polisi mengendus masalahnya.


“Baik, bekerja samalah bersama kami. Kami akan membantu sebisa mungkin," tawar mereka seraya mengarahkan layar ke arah Teshar dan mulai me-replay rekaman. Runtutan adegan yang dipercepat mulai menampilkan dirinya masuk membawa Clara ke dalam apartemen hingga sosok pria yang sangat ia kenal juga tertangkap kamera.

__ADS_1


”Kenan? Malam itu dia juga berada di apartemen ini?" gumam Teshar merasa terkejut.


Ia berharap malam itu adiknya tidak melihat keberadaannya, atau memang Kenan saat ini yang telah menculik dan menyerahkan Clara kepada Jeff, tapi untuk apa?


“Tidak mungkin Kenan berbuat kotor seperti itu," pungkasnya menyimpulkan.


”Mobil Van yang telah membawa istri Anda, Tuan," lapor petugas itu seraya menatap Teshar dengan wajah panik dan serius.


Teshar segera memalingkan wajah dari ponselnya ke arah petugas itu dan bergerak fokus memandang rekaman adegan yang menampilkan gerakan cepat Clara dibawa beberapa pria dengan mobil Van. Teshar mengepalkan jemari tangan dan mengatur napasnya yang mulai tersengal akibat kemarahan yang memuncak.


“Gadis itu, benar-benar melanggar perintahku," geramnya dalam hati.


Pria itu segera mengatur strategi, gadisnya benar-benar kini berada di dalam genggaman tangan seorang Jeff. Pandangannya teralihkan saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Sambil mengibaskan jemari tangan agar petugas itu segera menutup layar monitor Teshar melangkah meninggalkan ruangan untuk menerima panggilan penting itu agar lebih leluasa berbicara.


”Teshar, gadis itu menghilang?" cecar Bima dengan suara seperti mengkonfirmasi ketika panggilan telepon itu dia angkat.


“Betul, Kek. Kakek sudah tahu?" jawabnya masih mencoba untuk bersikap lebih tenang, meskipun sebenarnya dia terkejut dengan pertanyaan kakeknya.


”Sudah aku bilang, serahkan dia padaku!“ decak Bima dengan suara kesal.


"Tapi, Kek," sela Teshar.


Teshar hanya bisa menundukkan kepala, mencoba memikirkan segala kemungkinan untuk melakukan konfrontasi terhadap Jeff.


“Aku sedang menuju kediaman Kakek," putus Teshar kepada kakeknya.


”Baiklah, aku tunggu," sahut Bima kemudian memutuskan sambungan.


Teshar melangkah lebar menuju ke arah mobilnya, memandang sejenak ke arah sekuriti yang lari tergopoh-gopoh mendekatinya. Pria berkulit putih, berhidung mancung itu mengerutkan dahinya dan memutuskan menunggu sejenak petugas yang menyuruhnya untuk menunggu di samping mobilnya.


“Tuan, maaf …." ucap pria itu sambil mengatur napas.


”Ada apa?"


“Ini, foto pria yang beberapa hari ini mengganggu istri Anda," ungkap pria itu seraya menyerahkan selembar kertas hasil print dari kamera pengawas. ”Istri Anda sempat meminta saya untuk mengadang pria itu saat mencoba untuk mengganggu dan membuntuti istri Anda," tambahnya lagi.

__ADS_1


Teshar mengamati detail gambar yang di serahkan pria itu kepadanya. Sosok pria yang sangat ia kenali.


”Kenan?" gumam Teshar memandang tidak percaya. Tangannya mengepal erat.


__ADS_2