Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Penawaran Kecil


__ADS_3

Clara berdiri melamun di area taman belakang. Dia memikirkan bagaimana peluangnya di masa depan. Gadis itu memang terlahir cerdas, meskipun masa kecil dihabiskan di dalam ruangan rahasia—perpustakaan Teshar. Namun, dia belajar banyak hal di sana, terutama tentang kesabaran.


Keluguan akibat kurang bersosialisasi bukan berarti pikirannya menjadi bodoh. Dia berubah menjadi sosok pengamat yang detail dan teliti, meskipun diam seolah tidak tahu apa-apa.


"Kamu masih menunggu Teshar balik ke sini lagi?"


Perempuan itu langsung menoleh ke arah sumber suara secara spontanitas. Kenan terlihat telah berdiri di sampingnya, ikut mengamati hamparan luas rerumputan taman di hadapannya—sama sekali tidak menatap ke arah Clara.


"Dia bukan termasuk laki-laki baik dan cocok untukmu."


"Begitu juga denganmu, bukan?" sambung Clara membuat Kenan pun seketika tertawa, tentu dia segera menoleh sekaligus menelisik wajah perempuan cantik di sampingnya itu.


"Ya, tapi setidaknya aku belum pernah membunuh orang. Tidak punya pengawal menyeramkan."


"Apa itu mengganggumu?"


Clara berjalan menjauh ke dalam taman. Banyak yang dia pikirkan setelah tinggal di rumah, apa lagi bisa bertemu dengan Teshar dalam situasi yang berbeda. Banyak pertanyaan yang timbul dan ia butuh jawaban kebenaran atas segala yang terjadi selama dua belas tahun belakangan ini. Namun, kesabaran merupakan jalan paling aman agar semua aman terkendali.


"Iya, itu sangat menggangguku!" teriak Kenan sambil berlari kecil, menyusul langkah Clara dalam menyusuri rerumputan taman.


"Jangan selalu menunjukkan insecuritas dengan merendahkan orang lain," tukas Clara ditanggapi Kenan dengan senyuman.


"Oya? Apa kamu mau menyebutkan kalau aku lebih payah dari Teshar?" Nada pertanyaan itu terbaca sebagai bagian dari kekesalan bagi Clara.


Perempuan itu segera menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap kedatangan Kenan yang mulai melambatkan temponya.


"Aku bersama kakakmu tidak hanya satu dua tahun, jadi sampai berbusa pun kamu menjelaskan tentang dia, itu sama sekali tidak bisa memengaruhi pemikiranku tentang kakakmu," jelas Clara sedikit banyak menyadarkan Kenan bahwa gayanya dalam mendekati perempuan itu keliru. Pria itu langsung mengangguk ringan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain demi bisa menghilangkan rasa malu.


Clara menundukkan kepala, menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Dia akan berdamai dengan semua luka dan kekecewaan yang pernah ada. Rasa penasaran yang bisa saja melukainya, Clara akan pastikan bahwa dampaknya tidak akan membuatnya semakin terpuruk.


"Aku ingin memberikan penawaran kecil padamu."


"Penawaran apa?" Kening Clara berkerut dalam.

__ADS_1


"Aku bisa membawamu pergi jauh dari sini, menikmati indahnya hidup di luar. Itu pun kalau kamu mau," ujar Kenan tidak menyerah untuk mendapat perhatian Clara. Dia masih berharap mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan perempuan cantik di hadapannya itu.


"Dunia luar?"


"Yah! Kalau kamu bersama Teshar, bisa dipastikan bagaimana masa depanmu hanya akan berada di bawah bayang-bayang kekuasaannya. Tapi, tidak kalau kamu denganku. Aku pastikan hidupmu normal selayaknya manusia pada umumnya."


Clara memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan diterpa angin yang berhembus. Kalimat kebebasan yang ditawarkan Kenan memang sangat menggiurkan. Mungkin di sini dia akan terpenjara, kesempatan hidup normal hanya bisa didapat bila dia memutuskan untuk menerima tawaran Kenan untuk pergi.


"Kalau ada orang jahat berniat mencelakakan aku bagaimana? Apa kamu lupa kalau beberapa waktu lalu nyawa kita terancam?" Clara menatap gusar ke arah Kenan.


"Itu kalau mainmu kurang jauh!" jawab Kenan setelah tertawa.


"Maksudmu?"


"Kalau kamu hanya pergi ke sekitar kota ini saja. Kupastikan kejadian kemarin akan terulang. Tapi, kalau meninggalkan tempat ini menuju ke tempat yang—bahkan satu orang pun tidak ada yang mengenalmu, bisa aku pastikan hidupmu akan aman."


Kenan melepaskan ketegangan dalam dirinya saat mengatakan itu dengan membalikkan badannya, berniat meninggalkan Clara untuk berpikir. Dia percaya bahwa Clara bukan perempuan yang gegabah dalam membuat keputusan.


"Aku akan memikirkannya." Clara mengatakan kalimatnya dengan nada santai, terdengar meragukan antara tertarik ataupun tidak.


Kebebasan yang ditawarkan Kenan sebenarnya sangat mengusik ketenangannya. Hidup di sini menunggu Teshar tanpa kepastian merupakan tindakan paling melelahkan bagi Clara. Namun, apabila dia pergi dari sini, diam-diam bersama Kenan, janjinya untuk membalas kebaikan Teshar karena menyelamatkan hidupnya dulu membuat perasaan Clara dipenuhi dilema.


"Huh! Aku akan coba ikuti alurnya saja," gumamnya untuk menyemangati diri agar kuat hidup di tengah tekanan.


"Nona!"


Kedatangan dua pengawal disambut Clara dengan ramah. Dia akan menjadi pribadi yang baik dengan tidak meninggalkan kesan menyebalkan bagi semua orang yang tinggal di lingkungan keluarga kakek Bima.


"Kalian mencari aku?" tanya perempuan itu sambil mendekat.


"Benar, Nona. Anda telah ditunggu di ruangan tuan Bima. Mari, silakan!" Salah satu dari dua pengawal itu mempersilakan Clara untuk berjalan lebih dulu.


"Kalian tahu, ada urusan apa sampai kakek Bima memanggilku? Apa ini ada kaitannya dengan hubunganku dan Kenan yang sering mengobrol bersama?"

__ADS_1


Rasa penasaran Clara timbul tanpa bisa dicegah. Namun, saat dia menoleh ke arah belakang dan mendapati dua pengawal itu tidak ada yang bersedia menjawab, Clara hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


Sesampainya di ruangan Bima, Clara segera masuk. Pintu memang sengaja dibuka separuh pengawal rumah karena jejak kepergian tamu kakek itu masih tersisa. Dua cangkir kopi masih tergeletak di atas meja.


"Selamat sore, Kakek," sapa Clara sambil tersenyum, sebelum akhirnya masuk setelah pemilik ruangan mempersilakan.


"Masuklah. Aku ingin bicara sangat serius denganmu."


"Baik, Kek." Clara segera mengambil posisi duduk berhadapan dengan Bima, dipisahkan meja persegi panjang berlapis kaca.


Ditatapnya map cokelat yang baru saja selesai dibaca pria berusia delapan puluhan itu. Cukup tebal, tetapi berbentuk lembaran kertas, bukan berupa jilid. Clara cukup penasaran dengan isinya, karena jelas Bima terlihat sangat serius saat mempelajarinya.


"Saya siap, Kakek. Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada saya?"


Kakek tua itu langsung tersenyum. "Teshar benar, kamu cukup cerdas."


Mendengar pujian itu membuat Clara seketika tercenung, tetapi segera melemparkan senyuman pada kakek Bima karena pujian itu menyenangkan hatinya.


"Tuan! Mohon maaf kami terpaksa mengganggu percakapan Anda dengan Nona Clara," ujar seorang pengawal yang langsung menerobos masuk ruangan setelah mengetuk pintu.


"Ada apa?" toleh Bima dengan sikap tenang, sangat berbanding terbalik dengan raut wajah Clara, sama tegangnya dengan pengawal yang baru datang.


"Di luar sudah ada iringan mobil pengawal tuan Bisma." Pria itu melaporkan penemuan itu dengan wajah penuh kegelisahan.


"Biarkan dia masuk. Bukankah dia putraku? Ada apa memangnya?" Pria itu terkekeh kecil.


"Masalahnya mereka datang layaknya hendak berperang, Tuan. Bukan untuk berkunjung ke rumah Anda sebagai orang tuanya,"


"Iya, persiapkan saja penyambutan untuk mereka. Lakukan apa yang memang layak dilakukan!" perintah Bima sambil berdiri dari kursi.


Clara ikut berdiri, tetapi merasa bingung sendiri harus berbuat apa. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


"Kakek, Apakah itu ada hubungan dengan keberadaan saya di sini?"

__ADS_1


"Tenang saja. Aku pastikan, kamu akan aman selama tetap berada di belakangku," tukas laki-laki itu dengan mimik wajah serius. Namun, pernyataan itu malah membuat perasaan Clara semakin gusar.


__ADS_2