
Malam semakin larut dan mencekam. Entah berada pada posisi Teshar maupun Jeff, mereka sama kacaunya. Mengedepankan emosi memang merusak semua strategi yang sudah disusun.
Keduanya memang tidak saling memercayai satu sama lain, sehingga rencana awal yang sedianya bisa dinegosiasikan secara baik-baik, malah menjadi saling menyerang untuk melindungi diri dan menjaga eksistensi kekuatan.
Kini Kenan diam mematung, matanya membelalak dengan bibir terkatup rapat. Ia menyadari sebuah pistol kini tengah membidik tepat di belakang daun telinganya. Dalam hati ia mengumpat, mendadak menyesali keputusannya dengan ikut sang kakak ke medan pertempuran.
Alih-alih bersikap sok seperti pahlawan, yang ada dirinya kini sudah seperti pria bodoh. Mungkin akan mati konyol di tengah peperangan yang tidak mampu dia kendalikan.
“Jangan bergerak, atau kepalamu akan hancur!” perintah seorang pria yang berdiri tepat di belakangnya.
“Shit!” Pria itu mengumpat dalam hati. Giginya terlihat bergemurutuk.
Sesaat Kenan memejamkan mata, ia tidak menyangka kalimat perintah akan ditujukan kepadanya; setelah usianya menginjak angka ke-27. Seumur hidup dia yang akan memberi perintah untuk dilayani semua pelayan dan pengawal di rumahnya.
Batinnya menggeram karena tidak terima dengan perlakuan menghina terhadapnya.
“Mana dokumen itu?” tanya pria itu seraya menekan kepala Kenan dengan ujung pistolnya, gertakan giginya bahkan terdengar mengerikan di telinga Kenan.
“Dokumen apa?” tanya Kenan pura-pura tidak paham dengan perkataan pria itu.
Dia masih berusaha bersikap tenang. Sedikit menoleh ke belakang demi bisa menatap wajah pria. Namun, gerakan itu urung karena pria itu kembali mendorong kepalanya dengan ujung pistol agar Kenan tidak bergerak sama sekali.
“Jangan pura-pura bodoh!” Pria berwajah bengis itu menghardik Kenan dengan memasang seringai ingin, merasa tidak sabaran.
“Aku sungguh tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba kalian menyerangku tanpa alasan. Apa kalian tidak tahu siapa aku?” Nada sengit sengaja Kenan tampakkan, pria di belakangnya itu malah tergelak.
“Justru karena aku tahu siapa kau, makanya aku memberi pertanyaan padamu, Bodoh! Di mana dokumen itu!” desisnya memandang Kenan dengan remeh, matanya menyipit memberi dengusan ke telinga pria itu.
“Shit! Singkirkan pistol tololmu itu dulu dan biarkan aku mengambilnya.” Kenan mencoba untuk bernegosiasi.
Tampak pria yang kini tengah menodongkan pistolnya mempertimbangkan keinginan Kenan. Pria itu memandang penampilan Kenan dari ujung kaki sampai sorot mata Kenan.
“Jangan macam-macam!” ancamnya sambil mengendurkan todongan pistolnya dari kepala Kenan.
“I'm yours,” jawab Kenan santai.
__ADS_1
Terdengar pria itu berdecih, membiarkan Kenan menurunkan satu tangan untuk meraih dokumen yang dibawanya.
Jemmy yang sedang bersembunyi dibalik tembok, memberi aba-aba kepada dua rekannya untuk melumpuhkan pistol yang sampai kini masih menggantung di kepala bagian belakang telinga Kenan. Apabila bidikan itu matang dan akurat mengenai target, tembakan itu bisa membebaskan. Namun, kalau sampai meleset maka nyawa Kenan yang akan melayang.
Dengan gerakan dua jemari tangannya Jemmy pun menyuruh dua rekannya meneruskan misi. Ia yakin rekannya mampu melakukan tugas itu dengan baik.
Sambil mengangguk yakin, keduanya mulai bersiap.
“Aku harus membuka bajuku, asal kau tahu.” Kenan berkata ketus, memberi alasan kepada pria yang menyanderanya.
“Cepat ambil!” balas pria itu tidak sabaran. Tangannya yang memegang pistol beberapa kali menjauhi kepala Kenan.
Terdengar suara benturan sepatu yang mengenai ubin marmer, sebagai sinyal kedatangan lebih dari sepuluh orang. Bila memperhatikan dengan seksama, suara itu sedang menuju ke arah mereka berdua. Diam-diam Kenan merasa gelisah.
“Cepat keluarkan dokumen itu,” desis pria itu semakin geram.
"Iya, sabar! Pistolmu membuatku tidak percaya diri!" balas Kenan merasa kesal sudah diperintah.
Sambil mengembus napas, akhirnya satu tangan Kenan yang tadinya menggantung di udara kini beralih untuk meraih ujung kemejanya, menyingkap lembaran kain hingga memperlihatkan sebuah map coklat besar yang dililitkan ke bagian perut, seperempat bagian map masuk ke sela-sela celana jeans yang dia pakai.
Dengan gerakan cepat Kenan segera memukul tangan yang kini masih mencengkeram pistol dengan gerakan cepat, memutar tubuhnya hingga menghadap pria itu. Sontak pria itu terperanjat saat menerima serangan itu, sialnya bagi Kenan karena ternyata pistol itu masih aman terkendali, masih berada di dalam kuasa penjahat itu.
"Brengsek!" umpat pria itu pada Kenan.
“Damn!” balas Kenan geram pada kesialannya.
Dengan gerakan gesit Kenan mencoba untuk menyerang kembali pria itu dengan pukulan dan tendangan. Ternyata kekuatan dan kemampuan mereka berdua sebanding, sehingga mampu saling menghalau serangan. Gerakan saling berebut pistol pun tidak bisa terhindarkan.
Jemmy menggunakan momen itu dengan segera keluar dari persembunyian. Memandang dengan siaga pertarungan saling serang antara Kenan dan pria berbaju hitam itu yang terlihat masih seimbang.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama, karena sayang gesitnya pergerakan Kenan masih saja kalah cepat dari pria terlatih itu. Kenan terkena pukulan telak di bagian rahangnya hingga jatuh tersungkur, bibirnya mengeluarkan bercak darah.
"Argh!" Kenan meludah kesal.
Kini Kenan terpaksa harus menghentikan pertarungan saat bidikan pistol kembali mengarah padanya. Untung saja rekan Jemmy segera melesatkan sebuah tembakan tepat mengenai pistol, sehingga senjata mematikan itu jauh meluncur ke lantai.
__ADS_1
“Oghhhh ****! Tanganku!” Pria itu terkejut dan mengaduh kesakitan, jemari tangannya kini berlumur darah. Wajahnya meringis menatap tiga orang yang kini sedang membidikkan pistol ke arahnya.
Kenan segera menoleh ke arah Jemmy yang memberinya satu jempol. Memberi isyarat untuk mengambil pistol musuhnya dan beralih ke arah belakangnya—tugasnya memang untuk melindungi Kenan sekaligus mencari keberadaan Clara.
Kenan segera berguling, mengambil pistol di lantai lalu berdiri, disusul berjalan mendekat agar Jemmy bisa mengamankan.
“Kenapa lama sekali, Bodoh!” Kenan berdecak kesal, Jemmy hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.
Belum lama kelegaan itu terasa, kini mereka berempat harus meneguk ludah pahit, saat melihat puluhan pria anak buah Jeff datang berlarian. Mau tidak mau Kenan harus kembali menarik napas panjang.
“Ini bahkan baru permulaan, Kenan,” bisik Jemmy seraya mundur teratur beberapa langkah, diikuti ketiga rekan juga Kenan.
“Jangan katakan kau gentar?” balas Kenan kini memperkuat genggaman tangannya, mencoba menenangkan diri.
Jujur saja, ia merasa lebih pintar membidik wanita dengan ketampanan serta kalimat manis bibirnya daripada harus berhadapan dengan senjata api—berbanding terbalik dengan kakaknya. Teshar memang masa muda jago berkelahi, tapi payah soal menaklukkan hati wanita.
“Bukan soal gentar atau tidak, tapi aku belum menikah, Kenan,” sahut Jemmy pelan, dia mencoba untuk menenangkan diri agar bisa mulai fokus.
Dia menatap segerombolan pria yang kini malah berhenti melangkah dalam radius lima belas meter darinya saat ini.
Mereka berempat masih memilih untuk mundur selangkah demi selangkah. Tidak ada tempat untuk sembunyi karena lorongnya terlalu panjang untuk mencapai persimpangan.
“Hubungannya apa? Bodoh!” desis Kenan mencibir.
“Aku masih perjaka,” jawab Jemmy sontak membuat Kenan terbahak. Tiga orang rekannya juga terdengar ikut menertawainya.
Jemmy mengulas senyuman, ia mulai menemukan ritme untuk menurunkan ketegangan. Guyonan garing itu ternyata mampu sedikit menurunkan tensi. Ia mulai mengatur strategi.
“Baiklah, mari kita keluar dari sini dengan selamat, Jemmy. Buang status perjakamu dengan bercinta sepuasnya kalau perlu,” kelakar Kenan mulai bisa sedikit rileks.
“Oke, selamatkan aku ya, Play boy Kampret,” balas Jemmy sambil tersenyum memandang Kenan; yang membalasnya dengan cengiran.
“Tenang. Nanti akan aku perkenalkan kau dengan mantanku yang sexy,” jawabnya tertawa kecil.
“Oke, kita selamatkan Clara dan diri kita terlebih dahulu, baru kita pikirkan lagi cara mencari cinta,” ucap Jemmy kembali fokus menatap ke depan.
__ADS_1
“Oh, jadi nama gadis cantik itu Clara?” batin Kenan mengulumkan senyum—pikirannya melayang memikirkan gadis yang belum dikenalnya itu.