Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Pengalaman Manis


__ADS_3

Clara segera berpamitan kepada Rafka setelah makanannya telah habis. Ia tidak mau sampai merepotkan pria berhati baik itu karena sudah mengganggu pekerjaannya.


“Tunggu sebentar!” cegah Rafka menghampiri Clara, pria itu segera menyerahkan amplop putih kepada gadis itu dengan sikap santai.


Clara menerima amplop itu dengan bola mata kebingungan, memandang kertas yang pria itu sisipkan di antara jemarinya. Clara tercengang menatapnya.


“Ini—”


“Kalau amarahmu sudah reda, tolong segera pulang, ya. Jangan berkeliaran, di luar tidak aman untuk wanita lembut sepertimu,” pesan pria itu sambil membalik badannya ingin kembali ke dalam toko.


“Terima kasih. Oya, Kak Rafka … aku, bisa minta tolong?” tanya Clara dengan malu-malu. Ia memandang Rafka sambil menggigit bibirnya dan menunduk canggung.


“Minta tolong apa?” tanya pria itu kembali menoleh.


“Aku mau mengganti pakaianku, bisakah Kakak mengantarku ke tempat aku bisa membeli baju baru?” tanya Clara membuat pria itu tersenyum.


Entah mengapa Clara menjadi malu sendiri saat mengatakan keinginannya. Apalagi saat melihat reaksi pria itu ternyata malah seperti sedang menertawai. Clara mengembus napas seraya membalik badan, melangkah pergi.


“Tunggu! Jangan marah, dong,” bujuk Rafka berlari kecil saat menyadari gadis lucu itu tersinggung.


Clara masih berjalan mengabaikan pria itu. Ia terpaksa menjinjing gaunnya dengan berjalan jinjit agar telapak kakinya tidak begitu perih saat melewati jalanan tanpa memakai alas kaki.


“Aku tidak bermaksud menertawaimu.” Pria itu menahan kepergian Clara. "Tunggu! Aku akan menemanimu membeli baju dan sepatu, bagaimana?” tawar Rafka berupaya untuk menghalangi langkah Clara dengan meraih lengan gadis itu agar berhenti berjalan.


“Baiklah,” jawab Clara segera menarik tangannya dengan wajah terkejut. Ia tidak pernah melakukan kontak fisik berupa sentuhan seperti itu sebelumnya, tubuhnya menegang hingga Rafka melepaskan tangannya dengan canggung.


“Maafkan, aku.”

__ADS_1


Clara mengangguk pelan dan bersikap tak kalah canggung.


'Kalau kamu membiarkan tangan laki-laki selain aku sampai menyentuhmu, sudah kupastikan saat itu juga, kamu kuanggap sudah siap untuk menghilang. Kamu paham?'


Ancaman Teshar terngiang jelas dalam ingatan, membuat Clara mundur sambil memandang Rafka dengan canggung.


Rafka segera menggenggam jemari tangannya. Ia sendiri merasa cukup terkejut terhadap reaksi gadis itu. Sambil melangkah ia mempersilakan Clara agar berjalan terlebih dahulu ke arah ruko yang berada di samping toko rotinya.


“Itu toko pakaian, meskipun bukan butik mahal, hanya toko baju biasa, tapi kamu bisa memakainya sementara sebelum kamu pulang ke rumah,” ucap Rafka panjang lebar.


“Apa bedanya butik dan toko baju. Bagiku sama saja, aku hanya butuh baju baru,” gumam Clara tidak begitu peduli. Ia hanya berjalan mengikuti langkah Rafka yang mulai membuka pintu kaca toko baju itu untuknya.


Rafka masih saja menanggapi Clara dengan senyuman. Ia merasa gadis itu sangat aneh atau malah pura-pura aneh, semua yang ia ucapkan hampir semua membuat wanita itu salah paham. Masih sambil melirik ke arah Clara, Rafka mulai meraih beberapa lembar pakaian dari hanger dan mulai mencarikan pakaian yang cocok untuk gadis yang baru saja dia temui itu.


“Coba aku pilihkan, kira-kira apa yang ini kamu suka?” tanya Rafka menyodorkan pakaian untuk Clara.


Clara merasa, selagi pakaian itu bukan sebuah gaun mirip gaun pesta seperti yang sedang dipakainya, pasti ia akan menerima dengan senang hati. Clara menerima pakaian itu dengan wajah semringah, impiannya untuk memakai baju biasa bisa terwujud. Kini hatinya merasa sangat bahagia.


“Kamu tidak mau mencobanya dulu? Biasanya wanita akan mencoba beberapa model pakaian sebelum memutuskan untuk membeli,” seloroh Rafka membuat Clara menggelengkan kepalanya sedikit bingung.


“Kita langsung beli saja, ini uangnya, karena aku harus segera pergi,” jawab Clara merasa sudah tidak nyaman.


Rafka mengangguk kemudian memanggil penjaga toko dan memberikan kartunya kepada wanita berseragam itu. Clara merasa keheranan melihat semua yang pria itu lakukan untuknya. Mereka baru saja bertemu, tapi pria itu bahkan sampai mau memakai kartu pribadinya untuk membayar semua barang belanjaannya. Clara menatap uang yang masih utuh di dalam amplop dan kembali menggenggamnya dengan erat.


“Uang ini?” Clara memandang Rafka penuh kebimbangan.


“Buat bekal kamu pulang, lumayan 'kan untuk ongkos naik taksi?” ucap Pria itu tersenyum. Clara hanya bisa mengangguk pelan penuh rasa kagum dengan kebaikan hati Rafka.

__ADS_1


“Jangan sungkan untuk mampir membeli kue ke tokoku, ya. Aku baru merintis bisnis ini beberapa tahun belakangan,” ucap Rafka segera diberi anggukan Clara.


Beberapa saat kemudian penjaga toko sudah datang dengan menyerahkan paper bag dan kartunya kepada Rafka. Clara mempelajari semua yang ia lewati hari ini sebagai sebuah pengalaman manis di awal kehidupannya yang bebas. Ia merasa sangat bersyukur.


“Terima kasih, Kak. Aku terharu, Kakak sudah sangat baik. Aku janji, akan selalu mengingat hari ini,” ucap Clara berkaca-kaca saat menerima bajunya.


“Tidak masalah, cepatlah pulang.”


“Baik, Kak. Terima kasih, ya,” ungkap Clara lagi menunduk kepala di hadapan Rafka.


Rafka mengangguk senang. Dia tersenyum sendiri, bagaimana mungkin ia malah menemani gadis ini dan tidak melayani pelanggannya hari ini. Sambil melambai tangan ia pamit kepada Clara, Rafka kembali ke dalam toko dan melayani pelanggan dibantu beberapa pegawainya.


Clara masih berdiri di depan toko pakaian dengan pikiran bingung, ke mana langkahnya setelah ini. Ke mana tujuannya setelah ini. Dia tidak mau kalau harus kembali tidur di jalanan, atau malah sampai tertangkap dan kembali lagi terkurung di rumah itu. Sambil celingukan gadis itu berjalan dengan lebih nyaman karena sudah memakai sepatu baru. Pria baik itu diam-diam juga membelikan barang berharga itu. Sambil memeluk pakaian ganti yang dibelinya Clara tersenyum senang.


Sementara itu di tempat lain…


Teshar saat ini sedang melakukan pertemuan dengan kolega bisnis ayahnya. Seperti biasa pertemuan yang dilakukan di sebuah tempat tertutup dan wanita selalu menjadi hiburan bagi para pebisnis agar mau menggelontorkan dana investasi ke dalam perusahaannya.


Suasana penuh tawa terdengar. Pelayanan yang Teshar berikan sangat disukai para investor. Teshar memberikan senyuman puas saat berkas-berkas di hadapannya berhasil ditandatangani. Hari ini semua urusannya beres.


“Tuan, apa kita langsung pulang? Atau Anda ingin saya menghubungi wanita yang biasa menemani Anda menghabiskan malam duduk di Bar?” tanya sopir pribadinya sambil sesekali menatap tuannya dari pantulan kaca rear- side mirror.


Teshar hanya diam. Ia melemparkan pandangan ke arah jendela kaca mobil dengan tatapan kosong. Terdapat sesuatu di dalam hatinya yang mendadak hilang, ketika menyadari ketika sampai di rumah nanti, gadis yang membuatnya benci setengah mati itu tidak ada di sana. Sambil mengepalkan jemari tangan ia meminta diantar ke tempat gadis itu berada, pria itu ingin sekali memberi gadis kecilnya pelajaran hidup keras di luar itu seperti apa.


“Di mana gadis itu berada saat ini?” tanya Teshar melakukan panggilan kepada pengawal rahasia yang bertugas membuntuti Clara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2