
Clara berusaha keras untuk menoleh agar bisa menatap wajah pria yang menariknya, tetapi sayang sekali dengan cepat pula tubuhnya dimasukkan ke dalam mobil Van yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan segera bergerak secepatnya meninggalkan area itu tanpa disadari siapa pun yang berada di sana.
”Siapa kalian? Lepaskan aku!" hardik Clara terkejut ketika tubuhnya sudah terbanting di atas jok mobil.
Empat orang pria yang berada di dalam mobil itu tidak ada yang mau menjawabnya, mereka diam saja dengan mata fokus ke arah jalan raya. Jantungnya Clara berdegup lebih kencang saat menyadari bahwa papan penunjuk arah menandakan mobil yang membawanya kini sedang menuju ke arah luar kota.
“Lepas! Kita mau ke mana?!" bentak gadis itu sambil berusaha meronta, tangannya bergerak terulur hendak meraih pintu.
Clara tidak mau sampai kejadian yang dulu pernah menimpanya sampai terulang lagi, kejadian yang dialaminya di masa kecil, yaitu saat pria bernama Teshar membawanya ke dalam ruangan terkunci itu selama bertahun-tahun. Ia merasa harus melawan dan tidak boleh pasrah begitu saja dengan keadaan.
”Diam!" bentak pria itu menoleh ke arah Clara dengan tatapan tajam.
“Kamu mau membawaku ke mana? Lepaskan aku! Lepas!" balas Clara bersungut tidak mau berhenti melawan dan diam begitu saja.
Ia terus saja berteriak sambil memukul-mukul geram pundak dan lengan pria di samping kanan kirinya, ia mengentak kaki mencoba untuk melawan dengan kekesalan. Sungguh, merasakan disekap bertahun-tahun membuatnya tidak mau lagi pasrah menerima keadaan begitu saja.
”Tolong! Tolong! Lepaskan aku!" teriak Clara masih sambil terus memukuli pria di sampingnya dan mencoba meraih hendel pintu mobil.
"Aku bilang diam, ya diam! Atau kamu mau aku melempar tubuhmu ke jalanan?!" bentak salah satu pria yang berada di depan kemudi merasa suara gadis itu mengganggu konsentrasinya dalam menyetir.
“Lempar saja, kau pikir aku takut? Hah!" adu Clara membalas ketus, matanya menatap tajam semua pria yang berada di dalam mobil.
Dengan kesal pula Clara mengibas dan menepis tangan-tangan pria yang mencoba untuk menghentikan pukulannya.
“Bereskan wanita itu, berisik saja!" tegas pria yang berada di samping kursi kemudi sambil menoleh ke belakang.
Pria itu menatap tajam ke arah Clara, menampakkan picingan mata disertai senyuman sinis mengembang. Satu temannya segera memahami maksud rekannya itu dan segera meraih kain yang berada di dalam sakunya. Dengan cepat pula tangannya merangkul pundak Clara dan membekap kuat seraya mengunci pergerakan juga perlawanan Clara dengan sebelah tangannya dibantu rekan yang kebetulan duduk di sebelah Clara.
__ADS_1
"Emmp! Emmp!" tolak Clara menggeleng, tangannya mencoba meraih tangan pria itu dan menyingkirkan benda yang membuat napasnya tersengal dan kepalanya mendadak terasa pusing.
Perlawanan Clara ternyata sia-sia, kain yang mengandung obat bius itu segera melemahkan kesadarannya, tubuhnya mulai lemas dan lunglai jatuh tidak sadarkan diri. Pria itu segera mendekap erat tubuh gadis itu agar tidak sampai terjatuh, ia pun segera menatap rekan-rekannya sambil mengangguk sebagai isyarat bahwa masalah itu sudah beres.
”Segera berikan laporanmu kepada Bos Besar!" perintah satu di antara mereka berempat dengan suara tegas.
“Oke," jawab rekannya yang lain mengangguk dan tersenyum seraya meraih ponsel di sakunya.
”Uang sedang menanti kita," kata yang lainnya membuat semua yang berada di dalam mobil segera tertawa bersama.
Pria yang membekap hidung dan mulut Clara itu segera melepaskan kain dan menyimpannya lagi ke dalam saku.
Sesekali ia menatap gadis cantik yang sedang pingsan itu kini tengah menyandar lemah di dadanya. Ia tersenyum sendiri membayangkan gadis yang akan membuatnya menghasilkan banyak uang itu akan bertemu dengan tuan besarnya. Terlalu cantik untuk pria tua memang, tapi tugasnya memang hanya untuk itu.
"Sangat disayangkan memang, nasibmu 'tak secantik wajahmu," gumam pria itu dalam hati.
***
Sementara itu di tempat lain.
Teshar telah selesai melakukan meeting mendadak pagi ini. Ia segera memasuki ruangannya dan kembali menyimak beberapa berkas yang sudah berada di hadapannya. Teshar memutar kursi yang sedang didudukinya, seraya mengambil ponsel yang berada di atas meja.
"Masuk," jawab Teshar memandang kedatangan Asistennya bernama Debby yang kini sudah berada di luar pintu. Asistennya itu pun segera memasuki ruangan setelah dipersilakan masuk.
"Tuan Teshar, selamat pagi. Maaf mengganggu," ujarnya menunduk hormat.
"Ada apa?" tanya Teshar kembali bersikap tegas dan membiarkan Asistennya berjalan mendekat untuk menjelaskan tujuannya.
__ADS_1
"Tuan Jeff ingin bertemu dengan Anda secepatnya, Tuan," lapor Debby sambil memandang.
"Ada urusan apa?" tanya Teshar merasa malas berurusan dengan pesaing utama perusahaan gelap keluarganya itu. Seorang pria licik yang suka melakukan segala cara untuk memenangkan sebuah pertarungan dalam bisnis, sama seperti ayahnya.
"Sebentar lagi beliau akan menghubungi Anda, Tuan."
“Baiklah," jawab Teshar mengalihkan pandangan ke arah layar ponselnya.
Nomor asing yang kini sedang menghubunginya itu jelas sangat mengganggu pikiran dan konsentrasinya. Ia menduga pasti saat ini Jeff sedang merencanakan sesuatu, tapi lebih menjengkelkan lagi karena dia benar-benar sulit menebak isi pikiran pria tua itu.
"Halo," sapa Teshar seraya berdiri dari tempat duduk, tangannya memberi isyarat kepada Debby agar segera meninggalkan ruangannya.
Pria bertubuh tegap dan berpakaian rapi itu segera berjalan pelan mengamati suasana luar ruangan kantornya dari dinding kaca. Tampak gedung tinggi serta jalanan kota bisa terlihat jelas dari lantai ke-12 kantornya berada saat ini. Ia menunggu sahutan dari pihak penelepon dalam membalas sapaannya.
”Tuan Teshar Indira, selamat pagi," sapa balik seorang pria seumuran orang tuanya itu dengan suara ceria.
Teshar masih menunggu jawaban. Ia masih terdiam tidak membalas salam dan membiarkan pria tua itu melanjutkan apa yang menjadi urusannya sampai-sampai harus menghubunginya pagi begini.
"Apa kabar? Terima kasih kamu sudah membantu merawat tuan putriku dengan sangat baik," ujar pria bernama Jeff itu sambil tertawa geli.
Teshar masih terdiam menyimak. Ia belum sepenuhnya mengerti dengan sebutan 'tuan putri' yang terlontar dari bibir seorang pria bernama Jeff. Sambil menghela napas Teshar memutar otaknya dan mulai berpikir.
“Aku tidak menyangka, setelah dua belas tahun menunggu, akhirnya aku benar-benar bisa memeluk dan membawanya pulang lagi," ungkapnya semakin membuat Teshar meneka-nerka perkataan Jeff. Kening pria itu pun membentuk beberapa kerutan.
”Clara, tidak. Apa mungkin gadis itu—" Bola mata Teshar melebar, bermonolog dalam hati.
Sebuah pertanyaan yang membuat Teshar mendadak gelisah, sambil memandang arah luar, tangannya mengepal erat. Pria itu beberapa kali mengembuskan napas panjang demi bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1