Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Berada di Bawah Satu Komando


__ADS_3

"Masuk," sahut Teshar mempersilakan Debby. Dia hanya memandang sekilas lalu kembali tenggelam menyimak berkasnya di atas meja.


"Tuan Jeff menghubungi Anda kembali, Tuan Teshar," lapor sekretarisnya setelah masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa tidak langsung kamu sambungkan?"


"Pembicaraan bersifat pribadi, Tuan," jawab Debby segera diberi anggukkan mengerti oleh Teshar.


Pria itu tidak menyangka, Jeff begitu teliti hingga jejaknya tidak mau terendus dan tersadap oleh sistem komunikasi kantornya. Sambil meraih ponsel yang sengaja ia abaikan, pria itu segera memberi isyarat kepada sekretaris itu agar segera keluar dari ruangan.


"Baik, Tuan. Permisi," pamit sekretarisnya seraya berjalan meninggalkan ruangan itu sembari menutup pintu.


"Bagaimana?" sambung Teshar kemudian setelah mengangkat panggilan kembali.


"Sudah kau persiapkan?" tanya sang penelepon dengan nada serius.


"Apa kau sedang meragukan aku?" balas Teshar memberi warna suara penekanan.


Teshar akan bermain tarik ulur. Tidak mau sembarangan patuh kepada pria itu bagai seekor kerbau—hanya karena seorang Clara berada di tangannya. Ia tidak mau gegabah.


"Aku mengubah lokasi pertemuan," ucap pria itu terdengar tidak meyakinkan.


"Terserah kau saja. Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku tidak bisa langsung mempercayaimu begitu saja. Kau plin-plan," tegas Teshar segera berdiri dan meraih jas yang teronggok di sofa lalu berjalan keluar kantornya. Dia bergerak menuju ke arah lift yang tidak jauh dari ruangannya berada.


"Apa kau yakin? Aku hanya lebih berhati-hati terhadap kelicikanmu saja, Tuan Teshar," ocehnya menunjukkan suara ejekan terhadap Teshar.


Teshar tersenyum sinis. Ia segera memasuki lift dan bergerak turun ke lantai bawah, ingin segera pergi dari kantornya.


"Apa kau sedang mengatai dirimu sendiri?" balas Teshar berusaha untuk bersikap tenang.


"Kalau kau memang tidak ingin lagi bertemu dengan gadis itu, tidak masalah," lontar Jeff tegas.


"Baiklah, lagipula itu malah membantuku," sahut Teshar menampakkan tawanya.

__ADS_1


"Bukankah kau di sini yang plin-plan, Tuan Teshar?" ejeknya.


"Terserah kau saja. Lagipula setelah aku pikir-pikir, kau malah membantuku mengatasi krisis yang bisa saja terjadi antara aku dan orang tuaku. Jadi, aku malah berterima kasih untuk bantuan ini," tegas Teshar membuat Jeff terdiam sesaat.


Teshar tersenyum tipis lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia kini berada di atas satu tingkat dari pria tua itu. Sambil berjalan keluar dari dalam ruang lift, dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Teshar menuju ke arah lobby kantornya. Sebenarnya ia ingin libur dan tidak ke kantor, tapi selama di rumah malah membuat pikirannya semakin kacau. Akhirnya dia memilih pergi bekerja sambil memikirkan langkahnya tanpa bertindak gegabah.


"Anda sudah ingin pergi, Tuan?" tanya resepsionis langsung berdiri dari tempat begitu melihat kedatangan Teshar.


"Kalau ada yang ingin menemuiku, beritahu saja aku sibuk. Tunda hingga beberapa hari. Atur ulang semua jadwal pertemuanku sampai seminggu ke depan," perintah Teshar sambil berhenti melangkah sejenak.


"Baik, Tuan Teshar, selamat sore," jawab wanita itu menundukkan kepalanya lalu duduk kembali.


Teshar berjalan ke luar lobby, segera disambut mobil dan berhenti tepat di hadapannya. Teshar membungkukkan badannya sambil melirik sejenak karena kaca mobil terbuka separuh. Seorang pria memakai kaca mata hitam tersenyum ke arahnya sembari melongok, tidak lupa membuka kaca mata hitam itu dengan gayanya yang kocak. Tentu saja, pria seumuran dengannya itu menggelengkan kepala, bermaksud menggoda Teshar.


"Silakan, Tuan." Pria itu tertawa.


"Sejak kapan kau datang?" tanya Teshar memandang sejenak pria yang kini sudah menjalankan mobilnya itu.


"Kemarin," jawab pria itu sembari tersenyum.


"Siapa yang menyuruhmu datang?" sindir Teshar sembari memasang seat belt dan menyamankan duduknya.


"Jeritan hatimu yang memanggilku datang. Suaranya menggema sampai ke dinding-dinding rumahku di luar negri," guraunya sukses membuat Teshar menunduk membuang tawa karena malu.


"Jemmy!“ desak Teshar tanpa memandang pria yang kini sedang bersiul menyetir mobilnya dengan tenang itu dengan suara yang pelan.


"Kakek Bima yang memberitahuku. Aku datang untuk membantu menebus kesalahanmu, puas?" ungkapnya sambil menampilkan tawa kecil, peluruh ketegangan.


Pria riang sahabat Teshar itu menambah kecepatan mobilnya dan membelok arah menuju ke luar kota. Begitu Teshar menyadari jalurnya berganti—tanpa ia ketahui tujuannya—segera menoleh ke arah Jemmy, yang tentu saja hanya bisa diberi tawa oleh pria itu.


"Percaya padaku, Guys. Kamu selalu serius menanggapi semua masalah. Saatnya kita rileks sejenak. Ok?"

__ADS_1


"Ck! Aku tidak punya waktu untuk bercanda," jawab Teshar sedikit kesal.


Jemmy hanya tersenyum masam menanggapinya. Ia tidak mau ambil pusing dengan rengekan seorang Teshar yang kaku sejak mengenalnya dari jaman kuliah hingga sekarang. Ia tidak menyangka ternyata pria itu ternyata masih saja tidak berubah.


Mereka terdiam tanpa bicara lagi hingga mobil yang dikemudikan oleh Jemmy memasuki gerbang Villa milik kakek Bima. Teshar mengingat jelas pernah berkunjung ke tempat ini saat neneknya masih hidup, wanita idaman sekaligus istri kakeknya tersayang.


"Kita?" ucap Teshar bingung menoleh ke arah Jemmy yang mengangguk dengan bibir melengkung dan kening berkerut. Ia mengerti apa yang Teshar tanyakan.


Teshar tertawa dalam hati, bahkan kakeknya merencanakan hal yang tidak ia duga sama sekali. Sambil turun dari mobil ia segera meraih ponsel untuk menghubungi kakeknya.


"Terima kasih kakek," ucapnya dengan tulus.


"Penuhi janjimu," balas Bima membuat Teshar menipiskan bibir. Ia tidak menduga bahwa kakeknya serius soal permintaan itu.


"Euhm," sahut Teshar mengangguk.


"Semoga kamu berhasil."


"Terima kasih," jawab Teshar sambil berjalan memasuki ruang bagian dalam villa. Dia segera menoleh ketika sebuah sentuhan lengan mengalungi pundaknya.


"Kita ke arah sana," ajak Jemmy sambil menarik pundak Teshar, agar pria yang tingginya sama dengannya itu segera menurut mengikutinya.


Beberapa kali mereka berjalan melewati pilar-pilar tinggi bangunan khas gaya Eropa dengan cat kuning keemasan sebagai warna dominan. Berbelok menyusuri koridor dalam villa hingga langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu yang berada di pojok belakang villa. Teshar memandang Jemmy yang tersenyum lebar. Pria itu menggerakkan ekor matanya, bermaksud meminta Teshar untuk membuka pintu.


Teshar menghela napas sejenak sebelum akhirnya menyentuh handle pintu berukir warna perak lalu menariknya kuat agar bisa terbuka. Mata pria itu membelalak kaget begitu melihat banyaknya orang berpakaian rapi serba hitam berjajar, segera membungkukkan tubuh begitu melihat kedatangannya.


"Selamat sore, Tuan Indira!" sapa mereka semua secara serempak.


"Kami berada di bawah komando Anda, Tuan," lapor salah satu dari mereka seraya menatap Teshar dengan sorot mata tegas.


"Jem?" Teshar menoleh ke arah Jemmy, sebelum akhirnya ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


"Kakekmu menyiapkan ini untuk membantumu. Tapi, tentu saja dia masih berada dipihak netral antara dirimu dan orang tuamu," bisik Jemmy di telinga Teshar seraya berjalan mendekati rekan-rekannya. Mereka saling berjabat tangan, adu tos semangat dan sedikit mengurai tawa demi membuang ketegangan yang terasa.

__ADS_1


__ADS_2