
Dua pelayan yang kini tengah mengobati punggung Clara mendadak berhenti bergerak. Gadis itu menoleh ke belakang, hingga kemudian dua pelayan itu kembali melakukan tugasnya.
“Anda menyebut nama tuan Teshar? Anda kenal beliau?” Salah satu dari pelayan itu bertanya dengan nada hati-hati.
“Ehm, dia pria galak dan ketus.”
Clara menjawab sambil tersenyum tipis, rasanya ingin sekali meremas pria itu. Hatinya berubah tidak tenang saat menyadari, bahwa mungkin saja saat ini Teshar sedang berada dalam bahaya. Bila mengingat bagaimana semua bidikan senjata api mengarah kepada pria itu saat menyelamatkannya dari Jeff.
“Iya, tuan Teshar sangat pendiam dan tampan. Tapi sayang, tidak pernah tersenyum sama sekali.”
Clara mengangguk setuju. Pria itu memang tidak banyak bicara, bila marah menakutkan dan tentu saja pernah sesekali tersenyum. Clara mengakui, Teshar memiliki senyum yang sangat manis, memesona dan tawanya sangat menyenangkan untuk beberapa saat. Namun, akan kembali menyebalkan dengan tatapan tajam, gertakan bibir, sikap acuh tak acuh dalam waktu singkat.
Clara mendadak merindukan perubahan wajah itu, dari ketus kemudian melembut, ataupun sebaliknya.
“Apa Teshar sering datang ke sini?” tanya Clara mulai nyaman berbicara.
“Jarang, Nona. Beliau sangat sibuk. Hanya sesekali dan selalu berhasil membuat pelayan muda yang bekerja di sini terpesona,” urai pelayan itu segera diberi tawa kecil dari Clara.
“Nona sepertinya juga tertarik dengan tuna muda Teshar, ya?” tebak satu pelayan yang lain membuat Clara mendadak diam, senyumnya memudar.
Clara mengingat kembali ucapan pamannya, Jeff. Dia harus menghancurkan Teshar, pria itu harus membayar mahal atas cinta dan membalas kematian kedua orang tuanya.
Tiba-tiba perasaan Clara menjadi sangat tidak nyaman. Ia bingung dalam mencerna ucapan itu. Apa arti peringatan itu.
“Apa orang tuaku sudah meninggal? Apa ini ada hubungannya dengan alasan, kenapa aku disembunyikan di rumah kak Teshar?” Clara merenung dengan batin bergolak penuh tanda tanya.
“Nona, bajunya sudah siap. Mari, akan kami bantu mengganti pakaian,” ucap pelayan itu, berhasil membuyarkan lamunan Clara.
“Tidak, ini sudah cukup. Kalian istirahat saja, ini sudah larut malam. Aku bisa ganti pakaian sendiri,” tolak Clara memandang satu persatu pelayan itu sambil menyunggingkan senyuman tipis. Dia ingin meyakinkan keadaannya baik-baik saja.
“Tapi, Nona.”
“Terima kasih ya, aku sudah menjadi lebih baik berkat pertolongan kalian berdua. Terima kasih sudah bersedia membantu dan mengobrol denganku. Kenalkan namaku Clara.” Clara mengulurkan tangannya, ingin menjabat pelayan itu.
“Saya Mia,” jawab satu pelayan itu.
“Saya Ina,” jawab pelayan yang satunya.
Mereka berjabat tangan. Usia mereka hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Clara. Dengan tangan saling menggenggam erat, hati Clara mendadak memiliki secercah kebahagiaan.
__ADS_1
Kini, ia sudah memiliki dua orang teman baru, setelah selama ini hanya memiliki Teshar saja di sampingnya. Kedua pelayan yang mengurusnya ketika berada di rumah Teshar berusia tua dan pelit bicara. Mereka memperlakukan Clara layaknya tuan putri, bicara sopan dan seperlunya. Ia benci bila mengingat kenangan itu.
“Ya sudah, sampai ketemu besok pagi. Aku akan berganti pakaian dan tidur. Aku lelah,” usir Clara secara halus.
“Baiklah, Nona. Selamat malam. Kalau ada apa-apa panggil saja kami dengan menekan tombol yang ada di meja itu. Kami adalah pelayan yang sudah ditugaskan tuan Bima untuk melayani Anda,” terang Mia sambil menundukkan kepalanya.
“Baiklah, aku mengerti. Kembalilah kalian ke tempat masing-masing, Mia dan Ina.” Clara mengibaskan jemarinya sambil menyunggingkan senyum.
“Sampai jumpa besok.” Kedua pelayan itu segera meninggalkan Clara di kamar mandi.
Terdengar pula dua perempuan tadi menutup pintu kamar Clara hingga kini gadis itu sendirian. Walaupun begitu, ia cukup lega ketika dirinya kini berada di tempat yang aman. Bukan di rumah Jeff yang ternyata memeras Teshar dengan ancaman, atau juga di rumah Teshar yang menyimpan rasa trauma mendalam karena hidup disembunyikan.
Setelah ia selesai ganti baju, merasakan betapa sebenarnya ia lelah karena harus menahan rasa sakit dan pura-pura baik-baik saja. Ia pun memutuskan untuk segera istirahat. Berjalan pelan menuju kasur empuk untuk segera dinikmati untuk merelaksasi badan dan pikiran.
“Ini sangat nyaman sekali,” bisiknya mengomentari begitu empuknya kasur itu ketika tubuhnya mendarat sempurna di atasnya.
Dipandanginya langit-langit kamar yang juga berhias lampu gantung berwarna orange keemasan. Ia merasa lampu itu membuat matanya nyaman sehingga rasa kantuk tiba-tiba mulai datang menyergap.
Clara menutup perlahan kedua matanya, bersiap untuk menyambut mimpi indah yang telah lama tidak dia rasakan.
Namun, kesenyapan itu tidak berlangsung lama. Suara ketukan pintu beberapa kali terdengar nyaring, membuat gadis itu harus menghela napas kesal karena terusik. Dengan terpaksa ia menarik kembali mimpi yang baru saja hendak menyapa dengan membuka mata.
Clara melangkah kesal, menghampiri pintu dan membukanya hanya separuh.
Saat ini gadis itu sedang dalam keadaan sangat mengantuk. Melupakan sejenak kekhawatiran yang seharusnya hadir saat kedatangan orang asing. Dalam keadaan larut malam seperti itu dan mengetuk kamarnya. Mendadak ia melupakan semua traumanya.
"Siapa?" tanyanya dalam keadaan setengah sadar
“Aku tidak bisa tidur,” ucap pria itu, terlihat membawa bantal. Menampilkan senyuman tipis saat memandang Clara.
“Kenan?” panggil Clara dengan suara spontan. "Untuk apa malam-malam ke sini?"
Clara tertegun sejenak, memasang ekspresi bingung dan aneh pada pria yang kini sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu menggaruk rambut belakangnya, terlihat salah tingkah.
"Aku tidak bisa tidur."
“Memangnya kalau kamu tidak bisa tidur, terus ada urusannya denganku?” jawab Clara berubah menjadi ketus.
“Ya ada dong. Kita bisa sama-sama saling menidurkan,” jawab Kenan yang kini menipiskan bibir. Kepalanya melongok ke dalam kamar Clara yang terlihat nyaman.
__ADS_1
“Apa! Saling menidurkan? Kamu tahu, itu kalimat paling payah yang pernah kudengar,” desis Clara masih mempertahankan lebar pintu yang terbuka hanya separuh sehingga Kenan tidak bisa masuk.
“Ayolah, aku akan tidur di kasur, kamu bisa tidur di sofa,” bujuknya, membuat mata Clara melotot kesal.
“Wah, mengesalkan. Aku tidak mau, sana pergi! Aku ngantuk.” Clara mendorong pintunya, berniat kembali menutupnya.
Sayang sekali kekuatan Kenan yang bahkan tiga kali lebih kuat darinya dengan mudahnya berhasil menerobos masuk dan berjalan santai ke arah sofa, menepuk permukaannya yang lembut dan segera membaringkan tubuhnya di sana. Clara hanya bisa memandang dengan kerutan kening dan gelengan kepala.
“Sudah, aku tidur di sofa tidak apa-apa. Cepatlah kamu tidur di kasur sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu ke sofa menggantikanku.” Kenan memberi nada ancaman sambil masih memeluk bantal, tidur dengan posisi miring dan memejamkan mata.
Clara segera menutup pintu, mengalah dengan pria asing itu dan segera beranjak ke arah tempat tidur. Ia menarik selimut sampai ke leher dan mulai memejamkan matanya.
“Clara, selamat malam. Aku yakin, pasti Teshar akan baik-baik saja," ucap Kenan pelan.
“Ehm,” jawabnya pelan.
Kenan datang ke kamar Clara hanya untuk memastikan bahwa gadis yang berhasil menarik perhatiannya itu tidak takut karena sendirian. Untuk pertama kalinya ia berada satu ruangan dengan seorang wanita tidak untuk merusak, tapi untuk menjaganya. Kenan menggeleng dengan kelakuan gilanya malam ini.
“Bagaimana kalau mulai malam ini kita berteman?” ajaknya seraya melirik ke arah Clara.
Gadis itu bergeming, lama ia memikirkan ucapan pria asing itu.
"Aku tidak mau berteman dengan pria asing dan aneh,” jawab Clara membuat mata Kenan sukses membelalak.
Kata 'Aneh' yang sanggup membuatnya cukup terkejut, sekaligus ingin tertawa.
“Ini gaul, penampilanku sangat disukai wanita. Asal kamu tahu,” balasnya sanggup membuat bibir Clara mencibir samar.
“Pasti wanita itu sama anehnya denganmu,” lontar Clara kembali membuat Kenan nyaris jengkel.
Tidak! Kenan tidak akan terpancing. Baginya gadis yang sedang tidur di kasur itu tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Berapa perempuan yang antri untuk berkencan dengannya. Cih! Kenan mengumpat kesal.
“Jadi, kamu mau 'kan berteman denganku?” ucapnya lagi, mencoba untuk menaklukkan gadis polos itu.
“Tidak.” Clara menjawab singkat.
“Astaga! Kenapa? Wah … aku tampan, kaya, baik hati dan juga … aku tidak sedang pacaran dengan siapa pun. Kenapa menolak berteman denganku?” kilahnya sembari mengetapkan bibir. Ia tidak bisa menerima bentuk penolakan itu.
Hening, tidak ada jawaban apapun dari Clara. Kenan merasa kesal bukan main karena gadis kecil itu mengabaikannya.
__ADS_1
"Heh! Berikan jawaban yang masuk akal!"