Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Menciptakan Identitas Baru


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Teshar membasuh muka. Memandang wajahnya yang lelah dari sisa menahan emosi. Bila mengingat betapa tega ayahnya masih saja memuja sang kakak—yang selama ini hanya dia anggap sebagai anak berandalan, hati Teshar rasanya sakit tidak berperi.


"Setelah mati pun, ternyata namamu masih terkenang indah menjadi anak kesayangan ayah, Kak Jhony," gumam Teshar sedih. "Padahal kelakuanmu tidak sesempurna itu."


Bila mengingat masa kecil mereka berdua dihadapkan pada kasih sayang yang tidak adil, Teshar benar-benar tidak merasa kehilangan kakaknya itu karena tindakan ayah mereka yang pilih kasih.


"Aku membencimu, meskipun aku tahu rasa ini disebabkan kesalahan ayah dalam membagi kasih sayang," gumam Teshar seraya duduk di kasur setelah kembali dari kamar mandi


Pria itu merebahkan tubuhnya ke atas permukaan kasur lalu memejamkan mata demi menetralisir rasa frustasi. Ayah dan ibunya sama sekali tidak pernah menghargainya sebagai anak ke dua, melainkan bayang-bayang Jhony saja.


Dering ponsel yang tergeletak di atas nakas memaksanya untuk bangkit dan meraihnya dengan malas. Nama Jemmy terpampang dan itu sanggup membuat kewarasannya segera membaik.


"Ya, Jem," sahutnya seraya melangkah ke arah balkon. "Ada kabar apa?"


Tampak dari kejauhan kediaman orang tuanya berdiri. Posisinya tidak aman apabila tetap berada di rumah ini, meskipun jelas terpisahkan beberapa ratus meter.


Teshar berpikir bahwa permintaan kakeknya beberapa waktu lalu dengan memintanya bersama Kenan tinggal di Mansion kakeknya ada kaitannya dengan ini.


Teshar meyakini bahwa kakeknya mengetahui apa yang dilakukan ayahnya kelak apabila keberadaan Clara terbongkar.


"Berkas yang dulu kamu serahkan pada tua. Elicard kini sudah sampai di tanganku. Apa kamu akan ke kembali ke sini nanti malam?"


"Setelah aku memastikan semua urusan berkas itu rampung, besok pagi aku akan ke sana."


"Siap!" Jemmy menjawab dengan nada serius. "Kamu tidak apa-apa? Apa tuan Bisma melukai hatimu?"


Teshar langsung tersenyum. Alih-alih mengenai fisik, Jemmy malah mempertanyakan hatinya. Sungguh, Teshar paham kalau selama ini dirinya selalu dibuat sakit mental oleh kedua orang tuanya.


"Ya, seperti biasa," sahut Teshar murung.


"Kakek Bima menyuruhmu segera kembali. Kita akan pecahkan masalah Clara bersama-sama."


"Hm, aku akan segera datang setelah menyelesaikan beberapa urusan di sini," balas Teshar seraya menurunkan pandangan ke arah bawah. Dari arah balkon, dia bisa melihat segala aktivitas pada pengawal dan pelayan rumahnya maupun orang tuanya dari kejauhan.


Teshar menutup panggilan lalu menyelipkan ponselnya pada saku celana. Menyadari sebuah pergerakan tidak biasa, dia pun paham bahwa ayahnya sedang mempersiapkan rencana. Entah apa itu, yang jelas Teshar akan melakukan antisipasi.

__ADS_1


"Saatnya kalian mengakui kecerdasanku, Ayah." Teshar menggumam pelan.


Sebuah rencana terpampang jelas di dalam otaknya. Keinginan terpendam dan kini mulai akan dia realisasikan dengan baik dan penuh perhitungan. Dia tidak mau adanya pertumpahan darah yang berulang.


Teshar mengemasi beberapa dokumen dari dalam almari lalu menaruhnya ke dalam brankas ruang rahasia yang dulu ditempati Clara selama tinggal di rumahnya. Tidak ada yang tahu mengenai keberadaan tempat itu.


Aset-aset miliknya harus diamankan apabila orang tuanya memiliki niat untuk memiskinkan dirinya, setidaknya dia masih memiliki harta besar yang tersimpan dengan aman.


Teshar keluar dari ruangan itu bersama beberapa berkas yang lain. Apabila ada pengawal yang memata-matai, tentu mereka akan mengira kalau dirinya telah memindahkan berkas kekayaan ke tempat lain. Sebuah tipuan yang mungkin saja efektif, meskipun juga belum tentu sepenuhnya berhasil.


"Aku akan meninggalkan rumah ini untuk beberapa saat. Aku harap tidak akan ada yang berkhianat dan membuat kegaduhan selama aku tidak pulang." Teshar mengatakan itu begitu tiba di salah satu pos penjagaan di dalam rumahnya.


"Kami siap mengemban semua amanat, Tuan Teshar," jawab salah satu ketua pengawal yang berdiri di hadapan Teshar.


"Bagus. Gaji kalian aku pastikan aman."


Teshar meninggalkan tempat itu setelah memastikan semua hak pengawal di rumahnya aman terkendali.


Dia akan langsung ke rumah kakeknya setelah menemui seseorang dulu di sebuah restoran privat. Dia ingin memastikan sendiri segala persiapan menyambut pertarungan dengan ayahnya sudah rampung.


Bila dulu dia akan melaporkan ke mana saja dia beraktivitas karena itu bagian dari permintaan sang ibu agar tahu kegiatannya sebagai anak, tetapi dia tidak akan melakukan itu lagi mulai hari ini.


***


"Silakan masuk, Tuan Teshar."


Seorang perempuan cantik memakai heels berwarna hitam mempersilakan Teshar memasuki ruangan. Pria itu hanya mengangguk ringan lalu melangkah ke dalam ruangan tanpa menjawab.


Begitu dia masuk, suguhan pemandangan rapi dan nyaman segera menyambut. Tentu Teshar tidak mau repot memperbaiki desain interiornya dengan langsung berjalan lurus menuju ke arah meja seorang pria setengah baya.


"Hei, Tuan Indira," sambut pria itu seraya berdiri dari kursinya.


"Apa semua akan terkendali?" tanya Teshar sambil duduk, meskipun tidak dipersilakan empunya rumah. Dia biasa melakukannya saat datang, karena bukan tipe pria penyuka basa-basi.


"Aman, Tuan. Tidak akan satupun orang yang akan mendeteksi identitas ini. Semua resmi dan terdaftar negara," ucap pria itu dengan wajah semringah.

__ADS_1


"Kamu yakin?" Teshar menerima sodoran map cokelat yang cukup tebal lalu membukanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang pria. Dia memastikan bahwa ucapannya bisa dipercaya.


"Sangat yakin. Identitas ini dimiliki seorang perempuan yang hilang tanpa jejak sejak usia sepuluh tahun. Kalau bisa dibilang, terkena kasus human trackfiking internasional dan sampai kini tidak diketemukan karena disinyalir telah berganti identitas baru."


"Jadi, kau akan memberikan kehidupan pada Clara dengan identitas perempuan seperti itu?" Sebelah alis Teshar naik beberapa sentimeter. Jelas dia tidak menyangka akan diberikan kejutan seperti ini.


"Benar. Aku akan tetap memberikan nama Clara Amanda menjadi identitasnya. Akan tetapi, riwayat hidupnya akan terhubung dengan identitas wanita yang lain, jadi tentu itu akan menjamin keamanannya dari musuhmu."


"Kalau kamu bisa memastikan semuanya aman, lakukanlah. Aku butuh identitas itu mulai besok pagi. Waktuku tidak banyak karena banyak berkas yang harus diurus," ujar Teshar segera disambut pria itu dengan anggukan yakin.


"Tentu saja. Kami bekerja dengan sangat teliti dan terbukti tidak ada biro penyelidik atau pun detektif yang mampu membongkar satu pun klien kami yang mengganti identitas baru," balas pria itu dengan nada sombong.


"Baiklah."


Teshar mengeluarkan tas koper kecil berwarna hitam yang dibawanya lalu meletakkannya ke atas meja. Seringai dingin jelas tercetak jelas pada wajahnya ketika tangan pria di hadapannya ingin meraih.


"Aku pastikan rahasia Anda akan aman sampai saya mati," ucap pria itu mencoba meyakinkan Teshar bahwa Clara akan menjadi sosok baru dengan riwayat hidup lengkap tanpa ada yang mencurigakan.


"Aku pegang janjimu."


Pria itu segera meraih koper yang dibawa Teshar lalu membuka isinya. Senyumnya langsung merekah tatkala segepok uang berada di dalamnya.


Teshar pun melakukan hal yang sama. Raut kepuasan pun terlihat jelas apalagi setelah memastikan semua yang dia minta diwujudkan pria di hadapannya ini.


"Kamu juga membuatkan paspor?" Teshar menolehkan kepalanya pada pria itu.


"Tentu, siapa tahu Anda berencana untuk membawanya berbulan madu ke luar negeri," balas pria itu sambil terkekeh.


Teshar langsung melengos. Baginya itu terlalu berlebihan, tapi sangat berbanding terbalik dengan isi otaknya yang mulai memikirkan adegan-adegan romantis antar pria dan wanita pada umumnya.


Bersambung...


Disclaimer: Novel ini hanya fiktif belaka, mohon bijaksana dalam menyikapi setiap adegan atau pun konflik yang disajikan dalam alur cerita ini, karena semata-mata dibuat hanya untuk kepentingan konflik agar lebih menarik dan menghindari cacat logika.


Terima kasih atas dukungannya ❤️☺️

__ADS_1


__ADS_2