Gadis Rahasia Tuan Thesar

Gadis Rahasia Tuan Thesar
Kekuatan Tidak Seimbang


__ADS_3

Suasana di luar gedung Ground Zero bagian Bar begitu mencekam, terjadinya kerusuhan yang berimbas pada keruwetan lalu lintas di sekitar lokasi membuat anggota kepolisian mengambil alih keamanan.


Mereka segera melakukan upaya penyelamatan korban dengan menyisir lokasi, melakukan penyelidikan tentang adanya suara letusan senjata api di sekitar Villa dan Bar tersebut.


Berbanding terbalik dengan kekacauan yang terjadi di luar, keadaan di dalam gedung Bar yang terkenal memiliki beberapa ruang rahasia terlihat lengang, meski sama menakutkan.


Pihak Teshar maupun Jeff yang terlibat pertikaian, saling mengamankan posisi masing-masing dengan berbagai cadangan strategi. Sama-sama tidak menginginkan terjerat kasus baru—apabila yang terjadi di antara mereka berdua menarik perhatian petinggi negara dan ikut campur untuk mengusut kasus yang mereka sengketakan.


Maka, dengan sikap penuh kewaspadaan mereka berharap negosiasi malam ini bisa berakhir secepatnya tanpa banyak meninggalkan jejak.


Tanpa banyak bersuara dan hanya dengan sebuah isyarat, Teshar menarik kembali Zidan agar kembali berdiri; wajah dan tubuh pria tawanannya itu gontai kepayahan. Teshar menarik tubuh lemah itu mendekat, diikuti anak buah yang terlatih bergerak pelan membentuk formasi guna mengamankan posisinya.


Kesigapan anak buah di sisinya membuat Teshar tidak terlalu terintimidasi dengan jumlah pasukan mereka yang tidak seimbang. Pria itu merasa yakin, semua pengawal yang dibawanya bisa diandalkan dalam keadaan segenting apa pun.


Jeff juga melakukan hal yang sama. Menarik Clara agar segera berdiri, kini jarak yang mereka sisakan hanya sekitar lima meter dengan para pengawal masing-masing saling beradu membidikkan senjata api.


“Kalau saja kau tidak memukul gadis itu, anakmu yang manja ini tidak akan berada di dalam situasi sulit ini, Tuan Jeff,” tebar Teshar mulai berceloteh, langkahnya mulai melambat.


“Kalau saja aku tidak memukul gadis ini, apa kau akan tergerak untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya, Tuan Teshar?” adu Jeff menampakkan penolakan atas tuduhan Teshar mengenai kesalahannya berstrategi


Teshar terbahak sesaat, matanya menyipit, dengan decap bibir. Dia mengakui apa yang dikatakan Jeff memang benar.


Sambil menghentikan langkah, ia memastikan bahwa semua anak buah Jeff harus mundur semua. Dia memberikan kode keras itu lewat sorotan tajam kedua mata elangnya.


“Posisi kita tidak sama, wahai, Tuan Jeffrin,” decak Teshar.


“Zidan putra kandungmu, sedangkan Clara bukan siapa-siapa kami,” timpal Jemmy membuat Clara dan Kenan terhenyak bersamaan. Mereka berdua saling memandang dengan rona ketakutan yang sama, tapi tidak sanggup melakukan apa-apa karena kekuatan berada di tangan Jeff dan Teshar 


“Apa kau yakin?” tantang Jeff, mencibir apa yang baru saja diucapkan pria seusia anaknya itu terhadap posisi Clara di mata Teshar— yang dia akui sama alotnya dengan orang tuanya itu.

__ADS_1


“Aku ke sini hanya ingin menguji kekuatanmu. Melihat strategimu yang ternyata cukup payah, padahal jelas-jelas kau penguasa kuat di bisnis gelap,” cibir Teshar menampilkan tawa yang dibenci Jeff.


“Cih! Sombong sekali. Kau hanya bocah yang tidak tahu apa-apa!” hardik Jeff semakin membuat Teshar tergelak.


“Setidaknya aku lebih baik dari anakmu, bukan?” balas Teshar geli. "Apa aku salah?"


Jeff terlihat menghela napas, saat menyadari bahwa anak buah Teshar kini malah semakin bertambah. Ia tidak menyangka kalau pria di bawah bayang-bayang Bisma—ayah Teshar— itu bisa memiliki anak buah sebanyak itu. Ia mendadak merasa gagal dalam membaca pergerakan Teshar selama ini.


“Akan datang lebih banyak lagi, saat kau mencoba mulai mengulur waktu.”


Teshar mengetuk ujung sepatunya ke lantai hingga memberi suara mengintimidasi, bahkan tangannya bagian kiri menarik satu pistol dari dalam saku dan membidikan tepat ke arah Zidan.


“Baiklah, mari kita selesaikan.” Jeff mengembus napas dengan mata memandang Clara sejenak. Seorang gadis penghalang kebahagiaannya bersama Kelly—ibunya Clara.


Teshar tersenyum tanpa membuka mulut, kepalanya memberi isyarat kepada Jemmy dan Kenan agar lebih waspada.


Kenan kini bergerak maju mendekati Clara; mencoba untuk membantu kakaknya dalam mengambil alih sandera.


Dengan berat hati, pria berusia enam puluhan itu menuruti keinginan Teshar dengan mengibaskan jemari tangannya.


Beberapa anak buah Jeff kini mulai menyingkir mundur, memberi cukup ruang bagi Teshar untuk berjalan santai ke arah Jeff dan Clara.


Dari bagian arah lain tampak Kenan juga berjalan mendekat dengan pistol berada di genggaman tangan. Gerakan yang lebih siaga, Kenan berjalan mengikuti setiap jenis kode instruksi dari kakak di seberang.


Teshar berjalan semakin mendekat, sedangkan Jeff hanya bisa menunggu di tengah-tengah dengan segunung putaran dalam otak; berpikir dengan keras.


Jeff tidak akan tinggal diam tanpa mendapatkan dokumen penting untuk masa depan perusahaannya itu. Sebisa mungkin, harus mencari celah. Sambil tersenyum tipis ia pun segera menarik paksa Clara agar mendekat dan menariknya dalam kuasa.


“Ini anakmu,” ucap Teshar berdiri berhadapan dengan Jeff, mereka sama-sama saling mengunci pandangan.

__ADS_1


“Bagus,” jawab Jeff menarik satu sudut bibirnya dengan tersenyum miring.


Kenan yang kini sudah mulai mendekat mendapat kode dari kakaknya untuk menarik lengan Clara dan mengamankannya. Ia pun segera memasang sikap siap siaga.


Jeff segera mendorong Clara hingga menubruk tubuh Teshar seraya menarik Zidan dari tangan pria itu. Ia tidak menyangka Teshar punya ide jenius dengan membuat Zidan mabuk berat hingga tidak bisa bertindak apa pun.


Dengan geram, Jeff segera mendorong tubuh Zidan ke arah anak buah yang berada di belakangnya hingga memaksa mereka semua menjaga agar tubuh Zidan tidak terjerembab.


“Dasar anak pengacau!” desisnya kesal dalam hati.


Teshar segera memeluk tubuh gadis dengan erat, membawanya bergerak sedikit menjauh. Dia tidak mau Jeff sampai kembali menguasai. Meksipun gerakannya dibuat cukup kesulitan, karena Clara masih membenamkan diri di dadanya dengan isakan tangis lirih.


“Sst! Kau sudah aman. Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” bisik Teshar mengusap lembut punggung gadis kecilnya.


“Aku minta maaf,” sahut Clara pelan. "Aku sungguh menyesal."


Teshar yang masih berhadapan langsung dengan Jeff masih memandang waspada pria itu, tampak wajahnya masih sukar dibaca. Dia masih meraba-raba, apa yang akan laki-laki paruh baya itu lakukan setelah ini.


“Kak Teshar,” gumam Clara sedih.


“Kamu sudah aman, jangan khawatir,” bisik Teshar mencoba membujuk Clara mengikutinya berjalan menjauh.


Masih dengan langkah pelan, Teshar memberi kode kepada adiknya untuk mengambil alih Clara dan membawanya pergi dari sana.


“Kenan, bawa gadis ini pergi,” ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Jeff.


“T-tapi, Kak Teshar.” Clara mendadak gelisah.


“Ikutlah dengannya, nanti aku akan menyusul setelah menyelesaikan sedikit urusan,” bisik Teshar mencoba untuk menenangkan.

__ADS_1


Tangannya terulur menyentuh rambut gadis itu seraya mengelusnya perlahan. “Ikuti perintahku. Aku mohon kali ini jangan membantah, Clara,” tegasnya lagi.


__ADS_2