
Gerimis turun di lokasi Clara berada saat ini. Gadis itu menatap pintu yang masih tertutup rapat dan dikunci dari luar dengan hati gelisah. Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa tidur nyenyak, bayangan pamannya selalu hadir dalam mimpi buruk yang menakutkan pada masa kecilnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, entah mengapa suasana terasa sepi, tidak seperti biasanya. Clara merasa beberapa orang yang berjaga di tempat itu seperti berkurang jumlahnya. Gadis yang masih mencoba mengenali dunia luar itu selalu mengamati setiap gerak-gerik penghuni rumah itu melalui jendela kaca ruangan tempatnya berada saat ini.
"Aku harus berani," gumamnya sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, helaan napasnya terdengar risau.
Ia menyadari, selama berada di rumah Teshar ia sama sekali tidak berani melawan pria itu. Ada perasaan yang janggal di dalam hati sehingga ia merasa cukup nyaman dengan keadaan yang ada, tapi keadaan di sini terasa berbeda. Entah mengapa, ia merasa dengan melawan merupakan salah satu cara terbaik agar bisa keluar dari keadaan terkurung ini.
Ceklek! Terdengar nyaring, tiba-tiba pintu itu dibuka dari luar, Clara berjingkrak mundur dari tempatnya berdiri dengan tangan gemetar, ia memandang kedatangan seorang pria yang tidak lain adalah pamannya, Jeffrin.
Matanya nyalang memandang penuh kebencian, sosok pria yang dalam pikirannya penuh dengan ingatan kekejaman kepada neneknya saat dirinya masih kecil.
"Sebenarnya, mau Paman apa?!" tanya Clara berubah ketus.
Pria berusia enam puluhan itu terkekeh sambil berjalan mendekat. Langkahnya sangat mengintimidasi Clara hingga tubuh gadis itu terlihat sangat waspada dengan mundur berusaha menjauh, ia sangat yakin bahwa pria ini pasti hendak berniat jahat terhadapnya.
"Berhenti!" teriak Clara menahan langkah Jeff dengan isyarat tangannya, pria itu segera mengulas senyuman dan menghentikan langkah.
"Apa hubunganmu dengan Teshar tidak sedekat dugaanku?" tanyanya masih memandang Clara dengan senyuman menakutkan penuh dengan rencana, Clara bisa membacanya, oleh karenanya gadis itu mencoba menghindar dan menjauhi pria itu.
"Apa maksud, Paman?" tanya Clara tidak mengerti, lebih tepatnya menolak menjawab.
"Cih!" pisuhnya sambil meludah kesal. Pria yang kini tengah memakai pakaian jas rapi berwarna biru gelap itu tampak memandang tajam ke arah Clara, seolah gadis itu tidak ada gunanya sama sekali.
"Lepaskan aku, aku tidak tahu masalah Paman apa, jadi biarkan aku pergi," pinta Clara mencoba untuk berani, tapi sayang pria itu malah terbahak mendengarnya.
Pria itu segera memberikan perintah kepada anak buahnya yang berdiri di depan pintu dengan ekor mata. Pria suruhan itu segera mengangguk paham dan meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya dan mulai merekam.
Clara merasa bingung sendiri, akhirnya hanya bisa memandang dengan perasaan gelisah apa yang akan diterimanya malam ini. Sesekali menatap bergantian antara pria yang kini sedang mengarahkan ponsel hingga lampu flash terang menghadap kepadanya, juga paman yang kini memandangnya sinis, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Clara merasa risih sendiri.
"Apa dia akan berbuat keji terhadapku," batin Clara menelan saliva yang terasa semakin kering.
__ADS_1
"Aku ingin lihat, apa pria itu benar-benar tidak peduli dengan keadaanmu? Apa dia yakin akan membiarkan kamu menderita di tanganku?" ocehnya sambil menampakkan senyuman remeh, membuat Clara menggeleng pelan saat pria tua itu mendekatinya.
"Mau Paman apa!" teriak Clara menahan kegelisahan yang kini mulai menyerang. Ia menjadi panik dan mundur dengan cepat untuk menjaga jarak tetap aman.
Tanpa menunggu lama pria itu segera berjalan cepat, bergerak mendekati Clara yang mulai bergerak lari menjauh. Gadis itu mencoba untuk menahan dan memberi jarak keduanya dengan berlari ke arah sebuah sofa panjang yang berada di dalam ruangan itu.
"Berhenti, dan biarkan aku menunjukkan kuasaku kepada pria bodoh itu!" bentak Jeff kesal dan berlari kecil demi bisa menangkap Clara.
Dengan cepat pula Clara beringsut meninggalkan tempatnya dan beralih ke tempat lain. Ia bahkan harus melemparkan barang-barang yang bisa ia raih agar sedikit menghalangi pria itu menyentuh dirinya.
"Kak Teshar, tolong aku," batin Clara berteriak pilu. Ia sangat menyesal sudah melewati batas nasihat yang diberikan pria itu untuk menjaga. Gadis itu benar-benar ketakutan.
"Berhenti gadis pembawa sial!" bentak Jeff lagi karena merasa sudah tidak sabar lagi untuk bermain-main, waktunya tidak sudah banyak.
Pria itu segera berlari lebih gesit dan cepat dalam memangkas langkah Clara dalam menjaga jarak dengannya. Gadis itu masih mampu menyelinap, melembang dari satu kursi ke kursi lain untuk menghindari tangan Jeff meraih tubuhnya.
"Tolong, Paman. Lepaskan Clara, aku tidak tahu apa-apa!" teriak Clara masih mencoba menghindari tangan Jeff meraih bajunya.
Pria itu segera meloncat melewati kursi sofa hingga bisa berada di titik tempat Clara berdiri. Gadis itu melonjak kaget, bergegas mencoba untuk beringsut mundur menghindar, tapi sayang sekali tangan kekar Jeff berhasil meraih lengannya hingga membuat Clara harus kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh terjerembab jatuh ke lantai.
"Ampun, Paman," rintihnya dengan sorot mata ketakutan, bibirnya terlihat bergetar dan segera mencoba menoleh kearah pamannya yang kini sudah berdiri tegak menatapnya dengan senyuman sinis mengembang.
Clara merasakan kakinya lemas, tubuhnya gemetar dengan posisi duduk menghadap ke arah Jeff, dirinya mencoba beringsut mundur dengan posisi masih terduduk lemas.
"Terima hukumanku, anak nakal," ujar Jeff meraih tangan Clara dan menariknya agar cepat kembali berdiri, tapi Clara berupaya melawan dengan menahan tubuhnya agar tetap kokoh duduk di lantai dan mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kuat jemari kekar Jeff.
"Lepaskan aku, Paman. Aku mohon, kasihanilah aku," keluh Clara mencoba memohon belas kasihan.
Gadis itu mengingat kembali bahwa pria ini tidak suka ditentang, tidak suka dihalangi, hingga tubuhnya seolah bereaksi kaku, bergeming, tidak mampu bergerak untuk lari dari pria itu.
"Berdiri, cepat!" sentak pria itu lagi masih menarik lengan Clara, hingga mau tak mau gadis itu kalah dan tubuhnya terangkat juga terseret paksa oleh pria itu.
__ADS_1
"Paman, lepas!" ronta Clara lagi masih mencoba melepaskan diri.
Jeff masih saja memberi sorotan mata tajam ke arah Clara. Gadis itu hanya bisa mencoba melawan dengan menarik kembali tangannya agar terlepas. Ia mengabaikan rasa sakit akibat cengkeraman dan pelintiran pada bagian lengan yang dilakukan Jeff untuk menghentikan perlawanannya.
Gadis itu berjalan terseret ke arah ranjang, tubuhnya segera didorong kuat dan terjerembab jatuh ke kasur hingga pantulannya menghentak tubuh Clara. Gadis itu segera beringsut mundur menghindari Jeff.
"Berikan cambukku," pinta Jeff dengan suara dingin seraya menoleh ke arah pengawal yang segera berlari cepat mendekatinya.
"Cambuk? Apa paman akan mencambuk tubuhku?" tanya Clara dengan bibir dan tubuh semakin gemetar ketakutan.
Cetar! Ujung cambuk itu menyentak keras tepat mengenai lengan dan tubuh Clara.
"Aughhh! Ampun, Paman … sakit!" teriak gadis itu meringis kesakitan.
Tangan gadis itu refleks segera mengusap lengannya yang memerah akibat terkena sabetan cambuk, rasa perih dan panas terasa menjalari permukaan kulit.
Jeff masih berdiri di samping ranjang dengan sorot mata geram, merasa gadis itu tidak ada gunanya sama sekali untuk memancing Teshar melakukan apa yang dia inginkan. Dengan wajah menggelap menampakkan emosi, pria itu mengayunkan kembali cambuk itu ke udara, rahangnya mengetat dengan gigi gemerutuk penuh rasa ingin segera melampiaskan amarahnya kepada gadis itu.
Clara menatap tangan Jeff yang masih menggantung di udara, cambuk itu terasa sangat kuat menyentak tubuhnya hingga terasa sangat menyakitkan. Gadis itu masih menatap Jeff ketakutan seraya mencoba sedikit beringsut menjauh dengan menggeser tubuhnya ke tepian.
"Aku beri tahu kamu, di mana kedua orang tuamu," ucap pria itu seraya memicingkan mata.
Clara masih beringsut perlahan menjauhi pamannya yang kini bergerak memutari, mencoba menakuti Clara agar tidak turun dari ranjang. Pria itu berdecih dengan sorot mata mengejek, tapi Clara hanya bisa terdiam waspada tidak ada niatan untuk sedikit menyela ucapan pamannya.
"Kau, gadis bodoh! Hancurkan Teshar dan keluarganya, kalau kau mau membalas dendam akan kematian kedua orang tuamu," desisnya menyeringai.
Clara menelan ludahnya yang tercekat. Apa yang pamannya ucapkan membuatnya membelalak terkejut tidak percaya.
“Kematian orang tuaku?” Clara mengucap pelan dengan mata membeliak.
Plak! Cambuk itu kembali menyambar tubuh bagian kaki Clara, hingga gadis itu kembali menjerit kesakitan. Mata nyalang berubah memejam dengan butiran air mata.
__ADS_1
"Auggghhh! Sakit. Kak Teshar, tolong aku," rintih Clara seraya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit luar biasa pada tubuhnya.