
Pertanyaan Kenan membungkam mulut Clara. Menjawab apa? Gadis itu justru merasa bingung. Perasaan seperti apa yang dia berikan kepada Teshar hingga harus menanyakan sebuah perubahan rasa.
Selama ini ia hanya hidup tanpa rasa, membuang semua mimpi, menenggelamkan keinginan. Ketika tidak ada yang tahu bahwa dibelahan—atau malah di sekitarnya— masih ada seseorang yang hidup tapi tidak tampak, itulah dirinya.
Clara tepekur, lidahnya kelu.
“Kalau kamu sendiri merasa bingung, untuk apa mencari tahu?” tanya Kenan lagi untuk memastikan.
“Bukankah jawaban itu tidak ada pengaruhnya sama sekali untukmu?” sahut Clara membuat Kenan tercekat.
Kembali lagi pria itu disadarkan pada sesuatu yang klasik. Kenapa pula ia menggunakan perasaan terhadap seorang wanita? Pria itu memalingkan wajah untuk menutupi kegugupan yang tersirat. Ia hanya akan bermain-main, setidaknya itu yang biasa dilakukannya terhadap semua teman wanitanya.
“Aku hanya ingin tahu, itu saja,” ungkap Clara kemudian sambil menunduk, wajahnya berubah suram.
Kenan mengerti, walau mungkin saja ia tidak cukup paham dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana gadis ini berusaha hidup di sisi kakaknya secara rahasia, apa yang membuat Teshar berbuat demikian.
“Baiklah, aku akan melakukannya untukmu.”
“Benarkah?” Clara tersenyum semringah.
“Tapi ada syaratnya. Apa kamu sanggup?” ucap Kenan mendekat, tangannya terulur menyentuh pundak gadis setinggi 163 sentimeter itu dengan kedua jemarinya.
Clara menatap bergantian sentuhan pundak itu dengan tubuh menegang. Tegukan ludahnya menyiratkan kegugupan sekaligus ketakutan yang mendalam terhadap sentuhan itu. Secara impulsif ia menepis tangan itu dengan mundur penuh kecemasan.
Kenan langsung mengulum senyum penuh kejengkelan mendapatkan penolakan itu.
“Kak Teshar akan mencelakai semua orang yang menyentuhku, jangan sampai dia melakukannya juga padamu,” tegas Clara menatap Kenan dengan getaran suara yang nyata.
Jujur saja Kenan begitu terkejut dengan aturan Teshar terhadap wanita itu. Apa dia boneka? Mainan Teshar hingga harus memenuhi semua perkataan pria itu? Kenan merasa Clara sangat lemah.
“Apa kamu bodoh? Kenapa kamu tidak memberontak saat pria itu bertingkah menjadi sok berkuasa terhadap hidup kamu?” Kenan memalingkan wajahnya dengan kekesalan.
Kata 'tidak boleh menyentuh' sangat menyebalkan baginya. Apa Teshar sudah menikahi gadis ini sampai sebuah statement kepemilikan tertaut terhadapnya? Kenan mengentak kaki menahan kekalahan.
“Bodoh! Aku tidak pernah berebut wanita. Siapa Clara, sampai aku harus bertindak segila ini?” Kenan membatin kesal dengan reaksi hatinya setiap berkenaan dengan gadis polos di hadapannya itu.
Clara terdiam memandang, sama sekali tidak ada minat untuk membalas cemooh pria tidak tahu apa-apa itu. Bagi Clara, ia sudah menggunakan semua cara untuk memberontak, seorang diri tanpa dukungan. Menggunakan semua pengalaman dalam menghadapi pria dingin, ketus itu saat mereka bersama.
__ADS_1
Hanya dengan menurut, mencoba mengabaikan rasa sakit, kesepian, pura-pura tertawa dan menelan kesedihan seorang diri, maka ia bisa bertahan selama ini. Dia merasa terbiasa, berdamai dengan semua keadaan tanpa lagi mengeluh hingga memudahkannya bertahan hidup, malah berhasil kabur malam itu. Clara tersenyum simpul saat memikirkan semuanya, ternyata ia cukup keren saat melakukannya.
“Baiklah, aku tidak akan menyentuh tanpa izinmu lagi,” ucap Kenan kemudian setelah wajah pria itu mulai melembut.
Clara menipiskan bibirnya, mengangguk pelan.
“Aku akan mencari tahu alasan Teshar membawamu, tapi aku juga mau kamu melakukan sesuatu hal untukku,” ucap Kenan seraya menghela napas. Berusaha menelan ludah saat mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Perasaannya berdentum keras saat mengucap kata itu. Sebuah hal yang tidak dipahaminya, kenapa tiba-tiba rasanya menjadi sulit dikendalikan. Menatap gadis itu terlihat menunggu lanjutan ucapannya sanggup mengacak-acak pikirannya untuk meminta hal yang lebih.
“Aku ingin kamu menikmati hidup selama tinggal di sini. Ikutlah ke mana pun aku mengajakmu. Setidaknya saat kamu nantinya tinggal lagi bersama kakakku, kamu punya kenangan masa indah sendiri, bagaimana? Apa alasanku masuk akal?” Kenan mencoba untuk bernegosiasi dengan gombalannya.
Entahlah, ini pertama kalinya ia membujuk seorang wanita dengan cara kuno. Bahkan mungkin saja anak kecil akan menertawakan caranya yang kelewat aneh.
Membaca pikiran Clara teramat sulit bagi Kenan. Gadis itu sangat lain, ada kepolosan, kedewasaan, kekanakan, manja, cuek, ketus, tidak tahu apa-apa, semua bercampur menjadi satu. Sebuah hal yang tidak pernah ia dapatkan dari semua wanita yang ditemuinya.
“Dua belas tahun terkurung?” batin Kenan memahami kenapa sikap gadis ini teramat antik baginya.
“Baiklah, aku setuju.” Clara menyanggupi.
Kenan menerbitkan senyum cerah tanpa sadar. Tiba-tiba ada kehangatan yang mengalir di dalam hati, walau mungkin tidak akan berakhir indah seperti di dalam acara kencannya sebagai pria brengsek nan play boy, tetapi setidaknya ia memiliki kesempatan untuk terus berinteraksi dengannya.
“Aku harus apa?” tanya Clara berhasil membuat Kenan mengulum senyuman.
Tampak kikuk. Astaga! Kenan kembali membuang napas demi bisa mengenyahkan kegugupan yang tercipta. Bukankah ia sudah berkencan dengan banyak wanita? Bahkan tidak terhitung berapa banyaknya. Ia lupa.
Tetapi, saat bersama wanita yang sama sekali tidak menampilkan gelagat ketertarikan kepadanya, Kenan justru merasa tertantang. Gadis yang 'tidak boleh disentuh' ini membuat hidupnya seolah terlahir kembali, punya tujuan.
“Ok, sebagai pelajaran pertama … kamu kuajak ke-”
“Bagaimana kalau ke perpustakaan keluarga yang ada di sini? Pelayan memberitahu kalau banyak koleksi buku-buku bagus di sana,” ajak Clara menerbitkan senyuman memesona, Kenan terpana sesaat hingga kemudian pria itu mengangguk dan berjalan lebih dulu, tanpa banyak berpikir.
"Aku hanya butuh berduaan dengannya, tidak penting di mana tempatnya,” tegas Kenan dalam hati.
Kenan akan mengambil kesempatan untuk menarik wanita itu ke dalam permainannya, tetapi mungkin saja ia akan mengikuti keinginan gadis itu terlebih dahulu.
“Sepertinya kamu tidak suka? Wajahmu terlihat terpaksa,” komentar Clara berlari kecil mengikuti langkah Kenan.
__ADS_1
“Apa itu penting?” tanya pria itu senang saat gadis itu memperhatikannya.
Pertama kalinya ada seseorang yang melakukan itu, selain penjaga rumah tentunya.
“Penting, bukankah kalau berteman itu saling menyenangkan? Saling menjaga dan tentunya saling menghibur?” tanya Clara panjang lebar dengan langkah ringan, berlari kecil mengejar Kenan yang sengaja mempercepat langkahnya.
“Begitu?” Kenan menoleh ke arah Clara, memandang raut kepolosan dengan ukiran bibir penuh senyum tulus.
“Shit! Kenapa gadis ini kenal Teshar lebih dulu,” umpatnya dalam hati.
“Iya, semalam kamu mengajakku berteman, 'kan,” ucap Clara segera diberi anggukan Kenan.
“Jadi mulai hari ini kita saling membantu, bagaimana?” tawar Clara memelankan langkahnya saat Kenan menghentikan langkah, membalik badan demi bisa menatap sorot mata indah itu lebih dalam.
“Baiklah, kita saling membantu. Menyayangi satu sama lain, aku menjagamu dan kamu juga harus menjagaku, setuju?” tanya Kenan diberi tatapan Clara dengan kening berkerut, ia belum mengerti kenapa harus seperti itu.
“Teman biasa seperti itu?” Clara meminta penjelasan lebih masuk akal.
“Hem, teman memang seperti itu,” jawab Kenan mengulum bibirnya, menyadari ada semacam kelucuan yang diperlihatkan gadis itu secara alami.
Kenan tidak menyangka kakaknya bisa memiliki gadis seperti ini. Apa bahkan mereka sudah melakukan hal-hal yang biasa pria dan wanita lakukan? Bukankah dua belas tahun bukan waktu yang singkat? Teshar laki-laki dewasa, ah … rasanya Kenan sudah terlalu jauh menyimpulkan.
“Apa yang biasa kamu lakukan dengan Teshar? Ayo kita lakukan juga,” ajaknya dengan suara menahan rasa iri.
Clara yang wajahnya cerah kini mulai meredup. Mengingat Teshar membawa dilema luar biasa yang menghantam lahir dan batin.
Satu sisi ia membencinya, merindukannya, sekaligus kini membuatnya khawatir. Sebuah perasaan menganga yang luput untuk dipahami. Ada apa dengannya? Harusnya benci saja? Marah, kecewa atau hanya khawatir saja tanpa merindu, bukan?
Tangan Clara mengepal erat, langkahnya sejak tadi memang sudah berhenti, melakukan hal sama seperti Kenan.
“Melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan dengan kak Teshar?” jawab Clara kemudian mengatupkan bibirnya rapat, sorot mata kesedihan jelas terpancar.
“Apa hubunganmu dengan kakakku? Apa ada celah agar aku bisa memasukinya?” lontar Kenan secara tidak sadar.
“Dia malaikatku,” jawab Clara ambigu. Entah sebagai malaikat pelindung, Malaikat kegelapan, atau malaikat maut.
“Sebagai malaikat apa?”
__ADS_1
“Aku harus bertemu dengannya untuk memastikan kak Teshar malaikat apa bagiku,” jawab gadis itu sukses membuat Kenan tercenung, hatinya nyeri.